Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyayangkan masih terpasangnya puluhan baliho promosi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng bergambar mantan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo di sejumlah kawasan dan lokasi strategis di Jawa Tengah.“Seharusnya baliho promosi Pemprov Jateng bergambar Bibit Waluyo harus diturunkan. Baliho bergambar Bibit harus diturunkan, diganti dengan Gubernur Jateng sekarang,” tegas Wakil Bendahara DPP PDIP, Juliari P. Batubara kepada wartawan di Semarang Minggu (29/9).Pemprov Jateng, kata dia, seharusnya bisa menghormati Gubernur Jateng yang baru Ganjar Pranowo, dengan segera melakukan aksi pencopotan baliho mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo.Ari panggilan akrab dari politikus senior AP Batubara ini menyatakan, sudah sebulan lebih sejak Ganjar dilantik menjadi Gubernur Jateng pada 23 Agustus lalu, masih ada baliho bergambar Bibit yang bertengger dan sampai saat ini belum diturunkan.“Saya masih melihat ada tiga baliho berukuran besar bergambar Bibit Waluyo di daerah Bawen, Ungaran, Kabupaten Semarang. Belum daerah-daerah Jawa Tengah pinggiran dan pelosok lainnya,” ucapnya.Pantauan dari merdeka.com, baliho Bibit Waluyo masih terpasang di depan obyek wisata Sam Po Kong, Gedung Batu, Kota Semarang. Baliho bergambar Bibit mengenakan pakaian Jawa bersama istrinya Ny Sri Suharti, dengan tulisan ‘Welcome To Central Java’ dengan ada logo Pemprov Jateng.Kemudian di sekitar terminal Bawen, Kabupaten Semarang terpasang tiga buah baliho Bibit. Satu di antaranya baliho mengenai program keluarga berencana.Ari yang juga mantan Ketua Tim Pemenangan Pasangan Cagub-Cawagub Jateng dari PDIP, Ganjar-Heru Sudjatmoko di wilayah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, dan Demak, mendesak supaya pihak terkait segera menurunkan baliho bergambar Bibit Waluyo.“Beruntung Mas Ganjar orangnya baik maka dia diam saja. Kalau saya yang jadi gubernur sudah saya obrak-abrik itu balihonya Pak Bibit,” terangnya.
Politikus PDIP sayangkan baliho Bibit masih banyak di Jateng
"Kalau saya yang jadi gubernur sudah saya obrak-abrik itu balihonya Pak Bibit,” kata Juliari Batubara.
Rekomendasi