Ketika matahari mulai menunjukkan sinarnya, tidak ada satu pun wartawan yang mengetahui agenda Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan ketika mengkonfirmasi Biro Pers, Media dan Informasi Istana Kepresidenan yang biasa memberikan agenda, mereka mengaku tidak mengetahui tujuan presiden sepanjang Jumat (4/1).
Wartawan yang biasa melakukan peliputan di Istana hanya diminta untuk segera berkumpul di Istana Negara sekitar pukul 06.00 WIB. Awak media juga sempat dibawa ke Hotel Sultan dan berkumpul di sana.
Tidak hanya Biro Pers, pejabat yang sudah tiba lebih dulu seperti Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha hingga Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan juga mengaku tidak tahu.
"Saya juga tidak tahu, nanti setelah sampai akan segera kita ketahui," kata Julian saat berbincang dengan wartawan, Jumat (4/1).
Sejak pagi, tidak ada informasi apapun mengenai agenda dan tujuan presiden. Bahkan, wartawan hanya diperkenankan naik kendaraan yang sudah disediakan untuk masuk dalam rangkaian pejabat yang membawa presiden dan rombongan. Tepat pukul 07.45 WIB, rombongan berangkat.
Usai melintasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, tidak terlihat satu pun penjagaan dari kepolisian setempat yang mengatur iring-iringan RI 1. Perjalanan pun beberapa kali terhambat akibat banyaknya kendaraan roda dua yang mencoba menerobos iringan kendaraan.
Ketika sampai di ujung perjalanan panjang selama satu jam, akhirnya baru diketahui pagi itu SBY melakukan blusukan ke Kampung Nelayan di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten. Kontan saja, warga yang semula bertanya-tanya, lantas berteriak melihat kepala negara turun dari kendaraan dinasnya.
Terdapat kisah-kisah menarik selama keikutsertaan merdeka.com dalam blusukan ala SBY tersebut. Seperti apa kisahnya?
Advertisement
SBY berpidato di atas kursi juru lelang
Entah apa yang ada di benak SBY. Usai buang air kecil di salah satu rumah warga, SBY lantas bergerak ke ujung. Semula, paspampres yang menjaga presiden mengira kepala negara akan bergerak ke jalanan untuk kembali ke kendaraan dinasnya, ternyata itu tidak terjadi.
Pantauan merdeka.com, SBY mendadak bergerak ke dalam kerumunan warga, Paspampres tampak sibuk untuk membuka jalan untuk SBY agar lebih mudah bergerak. Tidak lama berselang, SBY tampak menaiki dudukan kursi yang semula ditempati juru lelang.
Warga yang melihatnya tampak terkejut dan hanya dapat melihat SBY yang tengah berusaha naik dan berdiri di atas tempat duduk tersebut. Saat naik itu pula, tidak terlihat satu pun bantuan yang diberikan kepada presiden, baik dari sekretaris pribadinya maupun paspampres.
Di atas kursi tersebut, SBY melakukan berpidato panjang lebar di hadapan warga. "Hari ini saya berkunjung ke tempat ini bersama Ibu Negara, dan lain-lain untuk melihat dari dekat tempat ini dengan tujuan untuk membantu agar kehidupan para nelayan dan bapak ibu sekalian lebih sejahtera lagi," kata Presiden SBY disambut tepukan tangan warga, Jumat (4/1).
Advertisement
Kunjungan SBY dikira baksos TNI
Beberapa menit sebelum rombongan presiden tiba di Kampung Nelayan, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, warga tidak tahu sama sekali akan dikunjungi orang nomor satu di negeri ini.
Bahkan, rombongan yang sudah tiba lebih dulu, termasuk Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, Brigjen TNI Doni Monardo masih merahasiakan kedatangannya. Namun, aktivitas pagi itu masih tampak sepi.
Tidak ingin kondisi itu terus terjadi, Doni meminta salah seorang warga untuk mengajak penghuni rumah lainnya untuk keluar dari dalam rumah. Meski demikian, dia tetap tidak membocorkan maksud kedatangannya.
"Warga cuma tahu bakal ada bakti sosial TNI di lokasi," ungkap Brigjen Doni di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (4/1).
Beberapa saat kemudian, iring-iringan presiden tiba di lokasi. Ketika SBY turun dari kendaraan dinasnya, warga sempat terbengong-bengong.
"Sampai ada ibu-ibu teriak, SBY dateng, SBY dateng. Jadi makin ramai deh," kenang Doni.
Advertisement
Paspampres asal tunjuk nelayan untuk temani SBY
Dalam setiap kunjungan kerja, SBY selalu ditemani satu orang untuk memberikan penjelasan mengenai lokasi yang didatangi. Tidak demikian dengan blusukan yang dilakukan presiden kemarin, rombongan yang tiba lebih dulu sempat kebingungan mencari orang yang mengerti lingkungannya.
Sebelum iringan presiden tiba di Kampung Nelayan sekitar pukul 08.50 WIB, tanpa pikir panjang, rombongan yang sudah lebih dulu menarik salah seorang warga yang kebetulan berada paling depan di antara kerumunan warga. Belakangan, diketahui pria tersebut bernama Tagor yang juga berprofesi sebagai nelayan.
"10 menit sebelum sampai, kita sempat narik orang untuk dampingi SBY," cerita Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, Brigjen TNI Doni Monardo saat berbincang-bincang dengan wartawan.
Dalam kesempatan itu, Tagor bertanya mengenai tugasnya tersebut. "Saya harus ngapain pak?" tanyanya seperti yang ditirukan Doni.
"Yang penting kamu ngomong," pinta Doni.
"Ngomong apa pak?" ujar Tagor kembali bertanya.
"Kamu jelasin saja, ini apa, itu apa," sahutnya.
Tagor yang sebelumnya tidak tahu menerima permintaan tersebut, dengan pakaian apa adanya, dia memberikan penjelasan kepada SBY hingga blusukan selesai.
Advertisement
Rombongan SBY melintas, warga tetap mandi dan cuci di kali
Selama perjalanan SBY menuju Kampung Nelayan di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, sepanjang perjalanan warga terlihat bingung melihat iringan kepresidenan melintas.
Rombongan SBY melewati sepanjang wilayah Neglasari, Tangerang. Jalan yang dilewati itu di pinggirnya ada kali yang biasa dibuat mandi oleh warga sekitar.
Saat rombongan Presiden SBY lewat, warga yang tengah mandi pagi pun terlihat tak menghiraukan. Beberapa anak kecil yang mandi tanpa pakaian pun tetap terlihat asyik mandi di kali. Sementara orang tuanya ada yang mencuci pakaian dan mandi.
Padahal, kali itu tidak terlihat bersih. Beberapa tumpukan sampah pun terlihat sepanjang kali yang dilewati oleh Kepala Negera.
Tidak hanya itu, beberapa polisi setempat juga nampak santai melihat iringan kendaraan kepresidenan melintas tepat di depannya.
Advertisement
Bupati Tangerang dan kepala desa datang telat
Tidak hanya wartawan dan warga yang buta mengenai rencana SBY pada Jumat (4/1) pagi, Bupati Tangerang Ismet Iskandar dan Kepala Desa Tanjung Pasir Tamrin tidak tahu perihal kedatangan presiden di wilayahnya.
Saat tiba di Kampung Nelayan, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, kedua pejabat tersebut belum menampakkan batang hidungnya. Belakangan baru diketahui, mereka masih berada di kantornya saat rombongan presiden tengah melakukan perjalanan untuk blusukan.
SBY sempat berbincang dengan warga dan nelayan, sekaligus mendengarkan keluhan mereka. Namun, ketika ingin meminta kepada kedua pejabat tersebut untuk mendengar langsung, kepala negara menyadari Ismet dan Tamrin belum hadir.
Ketika berada di dermaga, Kades Tamrin baru tiba lantas diminta masuk mendekati presiden. Tidak berselang lama, Bupati Ismet juga tiba dengan tergopoh-gopoh dan langsung duduk bersebelahan dengan SBY.