Sepanjang 2012, 15 polisi gugur dalam baku tembak melawan teroris dan gerakan separatis di Poso, Solo dan Papua. Menyikapi hal itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan kematian merupakan resiko menjadi polisi. Mereka dihadapkan pada pilihan menembak atau ditembak oleh pelaku kerusuhan."Memang polisi itu pelaksanaanya penuh dilema, terutama dihadapkan dengan ancaman. Polisi itu ibarat punya dua kaki, kalau tidak masuk peradilan ya masuk kuburan. Kalau terlambat (mengantisipasi) didahului masuk kuburan," kata Timur Pradopo sambil tertawa dalam acara rilis tahunan Polri di Jakarta, Jumat (28/12).Meski demikian, untuk mengantisipasi penembakan brutal itu, Kapolri dan jajarannya terus melakukan evaluasi. Seperti dalam latihan militer, pendidikan dan lainnya."Anggota Polri yang meninggal itu kehormatan tertinggi, kalau mau jadi polisi kontraknya salah satunya itu (meninggal dalam tugas). Tapi kenapa meninggal kita evaluasi, dikaji di kegiatan pelatihan dan pendidikan dan sasaran," lanjut Timur.Dalam rilis Polri disebutkan selama tahun 2012, densus 88 telah menangani 14 kasus teroris di seluruh Indonesia. Dengan jumlah tersangka 78 orang, 10 di antaranya meninggal saat penangkapan.Sedangkan anggota Polri yang gugur mencapai 15 orang. 2 tewas di Solo, 6 tewas di Poso dan 7 tewas di Papua. Terhadap para anggota yang gugur ini telah diberikan kenaikan pangkat, dan anumerta.
Kapolri: 2 pilihan jadi polisi, masuk pengadilan atau kuburan
Mereka dihadapkan pada pilihan, menembak atau ditembak pelaku kerusuhan.
Rekomendasi