Little Monster beraksi bersama wayang dan kecak

Pusat kebudayaan Amerika Serikat di Jakarta menggelar pertunjukan mengkritisi ditolaknya konser Lady Gaga.

Muhammad Sholeh
Oleh Muhammad Sholeh - Reporter
Little Monster beraksi bersama wayang dan kecak
Little Monster beraksi bersama wayang dan kecak

Pusat kebudayaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta, @america yang bertempat di BSD Pacific Place menggelar pertunjukan mengkritisi ditolaknya konser Lady Gaga di Jakarta. Pertunjukan ini bertajuk 'Diversity and freedom of speech are values shared by both Indonesia and the United States'. Keberagaman dan kebebasan berbicara adalah nilai-nilai bersama.

 

Panggung berukuran 8 x 4 meter ini mampu memukau dan menghipnotis penonton yang berjumlah puluhan orang yang memenuhi ruangan. Karena acara ini salah satunya didukung oleh Komunitas Backpackers Indonesia yang mana di dalamnya ada 'Tembang Pribumi' yang berjumlah 18 orang dengan rangkaian alunan lagu-lagu, lantunan ayat suci, tarian Bali, instrumen musik, dalang yang memainkan wayang dan ditutup dengan disco litte monster yang dikonsep dengan apik. Ditambah lagi dengan background panggung yang diselaraskan dengan alur cerita. Ada motif daun pepohonan, bintang bersinar gemerlap, wayang, dan lain-lain.

 

Diawali iringan musik dari grup Sanggar Bumi yang membawakan instrumen perpaduan antara petikan gitar, piano, pukulan gong, kendang dan drum yang dikonsep dengan halus dan terdengar suara azan yang nyaring mengiringinya. Penonton dibuat terpukau juga dengan lantunan surat al-kafirun yang memberikan arti bagiku agamaku dan bagimu agamamu, seolah-olah mengkritik atas kekerasan yang menolak kebebasan dalam berekspresi. Seperti halnya atas ditolaknya konser Lady Gaga.

 

Belum selesai penonton bertepuk tangan, gadis cantik nan jelita, tangan kanan memegang kipas membawakan tarian kecak dari Bali dengan iringan musik yang menghentak, semakin menambah meriahnya acara ini. Selesai tarian kecak, Pangeran Siahaan yang biasa dalam acara stand up comedy tampil di tengah panggung didampingi oleh Liongky Tan yang membawakan orasi dengan pesan moral perbedaan dan kebebasan adalah nilai-nilai bersama yang tidak harus dilakukan dengan kekerasan.

 

"Semua ada perbedaan, intinya semua saling mengerti. Semua agama nggak suka kekerasan. Pertunjukan ini semua agama kumpul, Islam ada, Hindu ada, Budha ada, Kristen ada yang semuanya ingin kita damai dengan adanya perbedaaan. Tanpa kekerasan," kata pangeran Siahaan.

 

Alunan instrumen lagu berjudul Save our Culture menggebrak pertunjukkan. Kemudian dilanjutkan dengan dalang yang membawakan dan memainkan wayang dengan durasi kurang lebih 10 menit. Permainan wayang ini melakonkan sang Gatotkaca yang ditempa di kawah Candradimuka."Surem-surem dewo paningkir, bopo pandu bopo pandu, padanging samudero lahire brotoseno kinanti kabungkus tondo paningit...," tembang sang dalang.

 

Nyanyian lagu berjudul Bot Laa Tiding dari Aceh tak kalah menariknya membuat penonton tak bergeming. Dua orang yang memainkan gitar dengan mengenakan sarung dan bagian kepala berbalut ikatan putih seperti adat orang Bali, seorang gadis potongan rambut poni dengan jari lentiknya memainkan piano dengan piawai dan berbalut baju batik motif bunga warna cokelat, seakan-akan memberikan simbol nuansa kebersamaan dan kerukunan yang saling menghormati.

 

Di akhir acara, tiga buah lagu reggae yang sarat dengan kegembiraan menutup pertunjukkan ini. Joget litte monster yang diikuti oleh puluhan orang pengisi panggung dengan berbagai atraksi semakin menambah kepuasan penonton dalam menikmati pertunjukan ini.

 

Little monster ini tak hanya mengenakan warna hitam yang identik dengan duka cita, namun semua warna ada. Acara yang bertajuk 'Diversity and freedom' ini merupakan ekspresi atas batalnya konser Lady Gaga 3 Juni 2012 di GBK Jakarta.

Rekomendasi