Ki Hajar dan perkawinan

Berita Indonesia cepat, aktual, serius, unik, dan baru: Dia menulis beragam artikel yang memberikan nasihat kepada orang

Titis Widyatmoko
Oleh Titis Widyatmoko - Reporter
Ki Hajar dan perkawinan
Ki hajar dewantara

Mulai hari ini hingga sepanjang bulan Kebangkitan Nasional (Mei), setiap harinya merdeka.com akan menurunkan tulisan seri tentang teladan para guru dan pejuang bangsa. Harapannya, teladan mereka menjadi inspirasi anak bangsa dalam berjuang melawan korupsi dan segala ketidakadilan ekonomi, politik, hukum, serta  sosial. Semoga bermanfaat.

***

Mengingat pendidikan nasional tak bisa lepas dari sosok Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara, sang pendiri sekolah Taman Siswa. Hari kelahirannya, 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.Soewardi lahir pada 2 Mei 1889 dari keluarga aristokrat Yogyakarta. Sosoknya istimewa dalam pembangunan gerakan nasionalis Indonesia. Kiprah dan kesadarannya dalam bidang politik, sosial dan budaya, seperti halnya tokoh nasionalis lain, diasah melalui Boedi Oetomo. Sesudah mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, dia aktif dalam Sarikat Islam, sempat menjadi ketua cabang Bandung. Pada 1913, bersama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwess Dekker, Soewardi membentuk partai politik pertama dalam sejarah kolonial, Indische Partij. Perjuangan melawan kekuasaan kolonial membuatnya diasingkan ke Belanda, pada usia 24 tahun. Sekembalinya ke Indonesia pada 1919, dia mendirikan Taman Siswa. Semboyan dalam sistem pendidikan, dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan) hingga kini masih dipakai dalam dunia pendidikan di Indonesia. Meskipun sering membahas gerakan nasionalis Indonesia, kebanggaan pada kebudayaan kental ditunjukkan oleh Soewardi. Savitri Scherer dalam bukunya Keselarasan dan Kejanggalan, menyebut Soewardi sebagai sosok yang punya pendirian revisionis dalam kebudayaan dibandingkan mengubah dengan radikal. Contoh yang diambil adalah pemikiran-pemikiran Soewardi tentang perkawinan. Sebagai kepala Taman Siswa, dia menulis beragam artikel yang memberikan nasihat kepada orangtua mengenai cara membina anak. Salah satu yang yang sering dia tekankan adalah pentingnya melestarikan secara murni mutu keturunan keluarga, mutu darah keturunan, dan ilmu pengetahuan. Jika mungkin, tulis Soewardi, calon suami atau calon istri anak-anak mestilah keturunan keluarga yang berstatus sosial tinggi, didasarkan atas patokan material jasmani dan patokan rohani. Dia menekankan, bahwa dalam mencari pasangan suami dan istri, orang jangan mengesampingkan saran orangtua. Pandangan Soewardi, ketika itu bertentangan dengan tujuan konsep yang diambil banyak cendekiawan Indonesia. Sahabat politik Soewardi, Abdoel Moeis misalnya menulis novel Pertemuan Jodoh yang mengecam keras lembaga perkawinan paksa. Marah Roesli juga mengungkapkan ketidakbahagiaan perkawinan paksa. Pandangan Soewardi lainnya yang berbeda dengan arus, tampak dalam hal wanita di angkatan kerja. Dia menunjukkan kejahatan moral jika memasukkan wanita ke dalam angkatan kerja. Menurut Soewardi, wanita dapat digunakan oleh majikan sebagai umpan. Pandangan Soewardi inilah yang menuai pujian. Soewardi disebut sebagai sosok yang mampu memoles dan memperkuat sistem yang ada saat itu demi menahan pengaruh masa mendatang yang membawa perubahan. Soewardi tidak memodernisasikan untuk menyelaraskan dengan gerak maju waktu. Menurut Scherer, Soewardi benar-benar membujuk orang-orang Indonesia mempertahankan suatu integritas kebudayaan secara konsekuen yang didasarkan atas warisan kebudayaan mereka sendiri agar dapat menahan pengaruh-pengaruh kebudayaan asing.Soewardi atau Ki Hadjar, adalah sosok yang mampu menjadi anggota terkemuka masyarakatnya sendiri, bukan hanya karena dia berasal dari keluarga terkemuka, tetapi juga atas kemampuannya mempertahankan kedudukannya itu dan menghaluskannya sampai cemerlang. Soewardi dipuji karena lebih menyukai menelusuri langkah-langkah lama di atas tanah yang sama daripada membuat jalan-jalan baru yang membuka hutan belantara. "Menelusuri langkah-langkah lama sangat penting untuk mawas diri sebelum seseorang memiliki kekuatan dan keyakinan memeriksa dunia luar yang bermusuhan," tulis Scherer. Itulah teladan Soewardi.

Rekomendasi