Di tengah perhatian masyarakat mengenai kebijakan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang mengirimkan siswa bermasalah ke barak militer, siswa SMA Negeri 1 Jampangtengah di Kabupaten Sukabumi justru menghadirkan anggota TNI ke sekolah sebagai langkah pencegahan untuk menangani permasalahan tersebut.
Ratusan siswa dari kelas XI SMAN 1 Jampangtengah mengikuti pelatihan kedisiplinan yang dipimpin oleh anggota TNI dari Koramil Jampangtengah. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di sekolah yang terletak di Desa Cijulang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi.
Kepala SMAN 1 Jampangtengah, Bahrudin, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Dari evaluasi kegiatan pertama yang diadakan tahun lalu, pihak sekolah merasakan banyak manfaat dan keuntungan.
"Ternyata memang banyak sekali keuntungannya selain juga respon masyarakat positif anak-anak juga senang keuntungannya banyak terutama soal kedisiplinan," ungkap Bahrudin pada Rabu (7/5).
Perubahan positif yang terlihat dari siswa mencakup ketepatan waktu masuk kelas, kerapian berpakaian, serta meningkatnya minat untuk bergotong royong, yang mendorong pihak sekolah untuk kembali melaksanakan kegiatan bersama Koramil Jampangtengah selama tiga hari dari Rabu hingga Jumat (7-9 Mei 2025) dengan diikuti sekitar 240 siswa.
Bahrudin juga menjelaskan, "Anak-anak yang nakal di manapun ada yang perlu pembinaan tahun yang lalu bahkan yang terlibat obat-obatan pun ada sebetulnya sudah kami tangani setelah kami kerjasama dengan TNI ternyata tahun ini sekarang tidak ada."
Baru-baru ini, dia diminta untuk mengirimkan data siswa yang akan dikirim ke barak militer. Namun, menurutnya tidak ada siswa yang terdaftar melanggar hukum. Bahkan, perubahan paling mencolok terlihat dari berkurangnya puntung rokok yang ditemukan di toilet siswa.
"Bahkan, semalam saya diminta data untuk mengirimkan anak yang mau dikirimkan ke barak saya cari background-nya tidak ada anak yang bermasalah hanya paling nakalnya nakal anak misalnya bolos satu dua hari selain itu tidak ada," tambahnya.
Dia menambahkan, "Sekarang sudah berkurang sudah bersih artinya sudah tidak ada lagi anak yang merokok di WC itu mungkin manfaat dan keuntungan yang telah kita jalani bersama dengan TNI meningkatkan disiplin anak-anak kita."
Hal ini menunjukkan bahwa kerjasama antara sekolah dan TNI telah memberikan dampak positif bagi siswa, terutama dalam hal kedisiplinan dan perilaku yang lebih baik di lingkungan sekolah.
Menurut Bahrudin, kegiatan yang diikuti oleh siswa SMA ini adalah bagian dari pelaksanaan kurikulum P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan tema 'Pelajar tanggung, bangsa gemilang, disiplin dan tanggung jawab melalui pendidikan bela negara'.
"Saya inginnya begitu setiap tahun ada ini kan masuk ke dalam kurikulum P5. Apakah nanti ke depan P5 masih ada atau tidak dengan pergantian menteri baru, kalau memang P5 masih ada, tetap kita berjalan," ungkapnya.
Dalam rangka mendukung kegiatan ini, pihak sekolah juga telah melakukan diskusi dengan orangtua siswa untuk memastikan kebutuhan makanan mereka terpenuhi dengan tepat waktu. Selain itu, pihak sekolah juga berkomitmen untuk menjaga kesehatan siswa dengan menyiapkan tim medis dari puskesmas yang siap siaga selama 24 jam.
Menurutnya, "Kendala tentu ada, akhirnya disepakati orangtuanya sendiri yang menyiapkan makan untuk anak-anaknya selama 3 hari ini full karena sekolah tidak kuat untuk memfasilitasi itu, MBG (makan bergizi gratis) kan belum ada di kita jadi orangtua yang memang menyiapkan makan mereka," tuturnya.
Di sisi lain, Zidan, salah seorang siswa, mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuatnya merasa lelah. Meskipun demikian, ia juga merasakan kesenangan karena kegiatan ini dimulai dari dini hari hingga berlangsung di bawah terik matahari.
"Lumayan capek, tapi senang gitu sama teman-teman belajar bareng agar bisa lebih disiplin lagi, kalau di rumah lumayan suka bangun siang di sini bangun jam setengah 4 pagi apel pagi salat subuh bersama, sarapan. Enggak terlalu (masalah), kalau enggak main (hp) menurut Zidan sih enggak," katanya.
Pengalaman berbeda juga diungkapkan oleh siswa lainnya, Mada Eliyusti. Ia menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia mengikuti kegiatan ini bersama siswa dari kelas yang berbeda.
"Kalau melelahkan itu pasti ada di setiap orangnya, tapi kalau misalkan kita memang suka menjalani dengan happy gembira, itu bakal malahan jadi salah satu poin utama untuk kita membangun diri menjadi lebih baik," ujarnya.
Ia juga menambahkan, "Yang lainnya bisa aku dapat itu bisa lebih erat dan kenal sama teman-teman yang lain yang awalnya mungkin enggak kenal atau tidak dekat, misal menjadi saling dekat kenal dan juga bisa saling berbagi sama-sama," sambungnya.
Advertisement
Kapten Inf Budi Hadi Triyadi, yang menjabat sebagai Danramil Jampangtengah, menyatakan bahwa kegiatan P5 telah dilaksanakan sebanyak dua kali di SMAN 1 Jampangtengah. Tahun ini, pelatihan berlangsung selama tiga hari dengan penekanan pada pembentukan karakter disiplin dan peningkatan wawasan kebangsaan siswa. Dalam kegiatan ini, sebanyak 21 anggota TNI dilibatkan secara langsung.
“Yang pertama itu masalah PBB yaitu peraturan baris-berbaris sebagai dasar untuk memberikan rasa disiplin kepada anak-anak kita sehingga mereka mempunyai rasa disiplin yang nantinya akan dijadikan bekal untuk mengikuti pendidikan di tingkat yang lebih tinggi,” ungkap Kapten Inf Budi Hadi Triyadi.
Selain itu, para siswa juga mendapatkan materi mengenai wawasan kebangsaan yang mencakup berbagai kegiatan, termasuk teknik survival. Budi menekankan pentingnya wawasan kebangsaan di era digital ini untuk memperkuat cara pandang siswa SMA terhadap keberagaman bangsa Indonesia yang diikat dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kemampuan diri siswa juga harus dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja. Menurutnya, para siswa tidak hanya bersaing dengan rekan-rekan di Kabupaten Sukabumi, tetapi juga dengan tenaga kerja asing yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar.
“Makanya wawasan kebangsaan itu penting untuk mencintai bangsanya sehingga mereka juga nantinya akan menjadi calon-calon pemimpin bangsa kita kedepannya. Makanya disiapkan dari awal, jangan sampai mereka nanti hanya main TikTok-kan, game online. Bahkan mereka banyak yang terpengaruh dengan budaya dari luar sehingga budaya kita sendiri mereka tidak mengerti,” tambahnya.
Kapten Budi berharap agar kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mempersiapkan siswa menjadi calon pemimpin bangsa yang berkualitas. Ia juga mencatat adanya perubahan signifikan setelah pelaksanaan kegiatan P5 kedua, terutama dalam hubungan emosional dengan siswa, bahkan di luar lingkungan sekolah.
“Salah satu contoh mereka yang mungkin dulunya biasanya nongkrong tidak masuk sekolah, mungkin ketemu Babinsa di jalan mereka kan malu. Mungkin mereka kalau ada yang nakal-nakal akan merasa malu nanti kalau ketemu dengan bapak-bapak tentara yang melatih saya,” jelasnya.
Sebagai bukti kedekatan emosional, ia menceritakan momen haru saat perayaan HUT TNI pada 5 Oktober lalu. Kegiatan pelatihan bela negara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter siswa SMAN 1 Jampangtengah, menjadikan mereka generasi muda yang disiplin, memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, dan mencintai tanah air.
“Dan kemarin juga pada 5 Oktober kami upacara di luar, mereka semuanya datang ke Koramil dengan membawa bunga, roti ulang tahun. Ini kan merupakan hal yang sangat luar biasa tanpa dikondisikan mereka datang sendiri, itulah hubungan emosional yang sangat terasa sekali di kami dengan SMA 1 Jampangtengah,” tutupnya.