PSN dan LKB Berjuang Jadikan Konde Cepol Betawi Warisan Budaya Tak Benda DKI Jakarta
Pecinta Sanggul Nusantara (PSN) dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) berupaya keras agar Konde Cepol Betawi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda DKI Jakarta, demi melestarikan tradisi dan mendukung perajin lokal.
Pecinta Sanggul Nusantara (PSN) bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) tengah mengupayakan pencanangan Konde Cepol Betawi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) DKI Jakarta. Inisiatif ini didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan, dengan tujuan utama melestarikan salah satu ciri khas budaya Betawi yang mulai terpinggirkan.
Proses panjang untuk mencapai tujuan ini telah berlangsung selama kurang lebih enam bulan, meliputi kegiatan penulisan kajian literasi dan Focus Group Discussion (FGD). Upaya ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan Konde Cepol Betawi di tengah gempuran modernisasi dan tren mode yang terus berubah.
Ninoek Sunaryo, salah satu pendiri PSN, mengungkapkan harapannya agar proses ini berjalan lancar dan mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Pencanangan ini tidak hanya sekadar pengakuan, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk menghidupkan kembali minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap warisan budaya Betawi yang kaya makna.
Sejarah dan Makna Konde Cepol Betawi
Konde cepol Betawi sebenarnya sudah mulai diperkenalkan ke publik sejak pemilihan None Jakarta pada tahun 1969. Namun, seiring berjalannya waktu, cepol yang merupakan bagian dari sanggul tradisional Nusantara ini banyak yang melupakan keberadaannya.
Cepol sendiri melambangkan budaya Betawi yang simpel dan sederhana, tanpa ornamen berlebihan. Kesederhanaan ini diharapkan dapat menarik minat semua kalangan untuk ikut melestarikan Konde Cepol Betawi, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jakarta.
Menurut Ninoek Sunaryo, "Miris ya karena memang ga banyak, dan pekerja UMKM pembuat perajin sanggul itu di Jakarta cuma ada dua jadi kebanyakan itu di Jawa Tengah, Purbalingga, Brebes, itu sentra perajin sanggul dan disana memang juga minim artinya perkembangannya makin tahun industrinya makin menurun." Kondisi ini menunjukkan urgensi pelestarian untuk menjaga keberadaan para perajin sanggul.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian Konde Cepol Betawi adalah minimnya jumlah perajin sanggul di Indonesia, khususnya di Jakarta. Hanya ada sedikit perajin yang tersisa, dan permintaan pasar pun cenderung minim, mengancam kelangsungan industri ini.
Upaya pencanangan ini diharapkan berjalan paralel dengan dampak ekonomi kreatif yang akan didapat para perajin sanggul, serta peningkatan permintaan tidak hanya pada perayaan nasional. Ini adalah strategi untuk memastikan bahwa pelestarian budaya juga memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas terkait.
Ninoek juga menjelaskan bahwa usulan yang digarap bersama LKB ini bertujuan untuk menyebarkan edukasi dan transfer knowledge kepada generasi muda. Tujuannya agar mereka bisa memahami dan melestarikan ciri khas Betawi serta menjadi penerus pakar konde cepol atau sanggul agar selalu hidup.
Dukungan dan Harapan untuk Konde Cepol Betawi
Pencanangan Konde Cepol Betawi ini telah mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan rekomendasi dari Dirjen Perlindungan Kebudayaan. PSN sendiri telah diakui sebagai komunitas pelestari konde, kebaya, dan busana tradisional, memperkuat posisi mereka dalam upaya ini.
Yahya Andi Saputra, Peneliti Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) sekaligus Budayawan Betawi, menegaskan bahwa pencanangan ini adalah upaya untuk mempertahankan tradisi budaya di tengah gempuran mode yang dinamis. "Mode itu senantiasa mengikuti tren. Maka tren itu saya rasa memang menjadi satu concern dari kita untuk melakukan upaya-upaya terus menerus tidak berhenti meskipun setiap tahun pemerintah melakukan upaya untuk itu," ujarnya.
Yahya menambahkan bahwa Konde Cepol Betawi tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga membawa makna dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian ini menjadi krusial untuk menjaga identitas budaya Betawi agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi mendatang.
Sumber: AntaraNews