Primbon Jawa, membaca kejadian dan watak manusia lewat fenomena alam

Sabtu, 7 Maret 2015 07:07 Reporter : Siti Nur Azzura
Primbon Jawa, membaca kejadian dan watak manusia lewat fenomena alam primbon. ©2015 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Dalam suku Jawa dikenal istilah 'Moco in waskito' yang berarti membaca kejadian dari fenomena-fenomena alam yang terjadi. Inilah yang menjadi dasar masyarakat Jawa melahirkan suatu panduan untuk memahami setiap peristiwa yang terjadi.

Adalah primbon, panduan suku Jawa untuk mengetahui watak manusia dan hewan berdasarkan ciri fisik, perhitungan mengenai tempat tinggal, baik buruknya waktu kegiatan seperti upacara perkawinan, pindah rumah, acara sesajen, dan aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti dilansir dari primbonjawa.net, primbon berasal dari masyarakat Indonesia yang sangat menggantungkan hidupnya pada alam. Mereka pun terdorong untuk mendalami, mencermati, dan mempelajari gejala-gejala alam agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan terhindar dari kegagalan.

Ingatan-ingatan itu kemudian dicatat ketika orang Jawa mulai mengenal tulisan. Catatan-catatan fenomena alam yang polanya telah di uji berulang-ulang secara empiris, sebagian mulai di tata menjadi sistem penanggalan, sistem musim, dan sisi rasi bintang. Sebagian lagi di patenkan menjadi catatan tanda-tanda alam, seperti letak tahi lalat, kedutan, mimpi, dan sebagainya.

Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu) dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Seperti dilansir primbon.com salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan.

Weton membagi sifat dan karakter manusia menjadi 35 karakter. Pembagian tersebut merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu), dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran seseorang akan berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran. Bukan hanya memahami karakter seseorang, weton juga digunakan untuk mencari hari baik untuk melakukan aktivitas yang bersifat sakral.

Namun dengan adanya perkembangan zaman, primbon ini semakin redup dan mulai ditinggalkan oleh bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan dengan semakin modern pola pikir masyarakat Indonesia. Apalagi dengan teknologi tinggi yang mulai menyebar bersama dengan pengaruh budaya barat yang lambat laun akan menggeser pengaruh budaya bangsa Indonesia itu sendiri. [war]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ramalan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini