Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ingin proyek pengendalian banjir di Jakarta yang saat ini diberi nama JakTirta harus dijalankan secara berkelanjutan dan tidak berganti nama setiap kali terjadi pergantian gubernur.
Dia menilai bahwa konsistensi program lebih penting dibandingkan pencitraan melalui penamaan proyek. Pesan ini disampaikan Pramono kepada Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA), Ika Agustin Ningrum beserta jajaran.
"Nama tidak penting, tetapi yang paling penting adalah bagaimana realisasi di lapangannya itu bisa kita kerjakan," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (24/12).
Advertisement
Pramono mengatakan, penggunaan nama JakTirta menjadi simbol upaya terpadu pengendalian banjir dirancang untuk jangka menengah.
Pramono menekankan, fokus utama Pemprov DKI Jakarta seharusnya berada pada pelaksanaan proyek secara konsisten, bukan pada pergantian identitas program.
Pramono juga menyinggung soal kebiasaan perubahan nama program yang kerap terjadi seiring pergantian kepemimpinan. Menurut Pramono, praktik tersebut tidak memberikan dampak langsung bagi penyelesaian persoalan utama di lapangan.
"Kalau saya enggak ingin tercatat yang paling penting semuanya selesai, itu saja," ujar Pramono.
Advertisement
Proyek JakTirta merupakan bagian dari pengendalian banjir dan rob Jakarta tahun anggaran 2025–2027. Program ini mencakup penguatan tanggul, normalisasi sungai, pembangunan polder, embung, hingga peningkatan sistem pengendalian banjir di sejumlah titik rawan.
Pramono berharap, konsistensi nama dan konsep JakTirta dapat memperkuat kesinambungan pelaksanaan proyek pengendalian banjir lintas periode pemerintahan. Dengan demikian, dia berharap pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta tidak terhambat oleh perubahan kebijakan yang bersifat simbolik.
Lebih lanjut, Pramono menyampaikan, tidak ada urgensi untuk mengganti nama program hanya demi meninggalkan jejak personal kepemimpinan.
"Tetapi yang paling penting adalah bagaimana realisasi di lapangannya itu bisa kita kerjakan,” ujar Pramono.