Ibu Negara Iriana Joko Widodo, menginisiasi pagelaran seni musik tradisional di Stadion Utama Gelora Bung Karno akhir pekan lalu. Iriana bersama Ketua Umum Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) Tri Tito Karnavian sukses menggelar pagelaran Angklung yang dimainkan oleh 15 ribu peserta.
Budayawan Sunda, Iman Rahman Angga Kusumah atau biasa dipanggil Kang Kimung mengungkapkan, pagelaran tersebut memecahkan dunia alias Guinness World Records.
Sebab, alat musik angklung dimainkan oleh 15.110 orang secara bersamaan.
Advertisement
"Bahasa Sundanya bikin waas. Ini menjadi refleksi bahwa angklung semakin diterima di berbagai kalangan masyarakat, yang lebih penting lagi dia sudah memiliki akses ke sensasi emosional kepemilikan banyak kalangan di masyarakat Indonesia," ujar Kang Kimung
Dia meyakini, mereka yang hadir dalam pemecahan rekor dunia datang dari berbagai kalangan. Bukan hanya musisi dan pegiat musik tradisional. Tapi juga dari masyarakat yang secara luas yang umum, beragam, heterogen, seperti layaknya identitas Bangsa Indonesia yang penuh dengan keragaman.
"Itu menunjukkan bagaimana angklung bisa mempersatukan Bangsa Indonesia, dan angklung semakin dimiliki secara personal. Secara sentimental oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Angklung juga secara sosiologis, politis, ideologis, sosial, budaya, semakin memunjukkan tempat yang kuat di kalangan masyarakat Indonesia," urai Kang Kimung.
Advertisement
Advertisement
Dalam banyak hal menyebar secara sosial kultural maka secara perekonomian pun akan semakin mendorong para pegiat angklung, pembuat angklung, musisi angklung dan bahkan mungkin seniman tradisional secara umum untuk semakin sejahtera.
"Yang juga lebih penting adalah bagaimana angklung ini bisa menginspirasi kesenian tradisional lain,"
Seniman Alat Musik Tradisional Karinding Kimung
Advertisement
Merdeka.com
Advertisement
Kimung menilai, roda kebudayaan bisa bergerak tergantung generasi mudanya.
Pagelaran ini diyakini mampu membangun rasa yang kuat terhadap angklung. Maka, dia yakin, masa depan seni musik angklung akan jauh lebih cerah, lebih terbuka dan lebih terpadu.
Kimung memberikan catatan kepada para pekerjaan rumah angklung untuk mampu hadir secara populer dan reguler. Dalam sisi-sisi kehidupan keseharian masyarakat Indonesia, terutama anak muda. "Dalam hal ini, karena kita juga harus melihat angklung sebagai produk musik, posisi angklung di industri musik harus bisa mendapatkan posisi yang kuat di ranah industri musik populer Indonesia," kata Kimung.
Advertisement
Kimung juga berharap, alat musik tradisional angklung mendapatkan tempat yang layak di industri musik Indonesia. Tidak kalah dengan musik Korea, Eropa bahkan Amerika. "Musik asing dari belahan dunia manapun boleh hadir, yang jadi tren di musik anak muda, namun angklung bisa hadir si ranah musik Korea, Amerika, atau ranah musik populer yang sehari-hari didengarkan banyak orang," kata Kimung.