Polres Madiun Kota menerima laporan dugaan pengeroyokan yang menimpa seorang siswa SMAN 3 Taruna Angkasa berinisial AAM. Korban diduga dikeroyok oleh sejumlah kakak kelasnya di lingkungan sekolah tersebut. Insiden ini terjadi pada 2 Desember 2025, memicu penyelidikan serius dari pihak kepolisian.
Orang tua korban, Edi Sutikno, melaporkan kejadian tersebut pada Kamis (4/12) setelah mengetahui kondisi anaknya yang mengalami luka-luka. AAM, siswa kelas XI-7, diketahui sedang sakit dan dirawat di UKS sebelum dijemput serta dibawa ke kamar 103 tempat pengeroyokan terjadi. Akibatnya, korban sampai pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Pihak kepolisian kini tengah mendalami kasus ini untuk mengidentifikasi semua pihak yang terlibat. Sementara itu, sekolah telah menyatakan penyesalan mendalam dan berjanji akan mengambil tindakan disipliner sesuai aturan internal. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi keamanan lingkungan pendidikan.
Advertisement
Advertisement
Kasi Humas Polres Madiun Kota, Iptu Ubaidillah, mengonfirmasi bahwa laporan dugaan pengeroyokan siswa SMAN 3 Taruna Angkasa telah diterima. Pihaknya kini sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden yang terjadi di sekolah tersebut. "Sudah dilaporkan ke kami pada Kamis (4/12) kejadian tersebut," ujar Iptu Ubaidillah kepada wartawan di Madiun, Jumat.
Berdasarkan informasi awal dari pihak sekolah, sebanyak 10 siswa kakak kelas diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan ini. Namun, Polres Madiun Kota belum dapat langsung memeriksa para terduga pelaku. Hal ini karena pemeriksaan terhadap anak di bawah umur memerlukan pendampingan orang tua dan Dinas Sosial, sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
Proses hukum akan berjalan transparan, dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan. Kepolisian berkomitmen untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik dugaan pengeroyokan ini. Penyelidikan intensif terus dilakukan guna memastikan keadilan bagi korban dan menegakkan disiplin di lingkungan pendidikan.
Advertisement
Advertisement
Kepala SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun, Agus Supriyono, menyatakan sangat menyesalkan insiden pengeroyokan yang terjadi di lingkungan sekolahnya. Ia menegaskan bahwa kejadian semacam ini tidak seharusnya terjadi. "Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Dari pemeriksaan internal, terdapat 10 siswa yang diduga terlibat dalam pemukulan terhadap adik kelasnya tersebut," kata Agus.
Sekolah telah mengambil langkah cepat dengan meminta keterangan dari para siswa yang terlibat. Sanksi disiplin akan segera dijatuhkan sesuai ketentuan internal sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga akan memanggil orang tua siswa yang diduga terlibat untuk memberikan penjelasan dan pendampingan lebih lanjut, sebagai bagian dari upaya pembinaan.
Agus Supriyono secara terbuka telah menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas peristiwa ini. Ia menekankan komitmen SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun dalam memberikan pembinaan yang lebih baik. Tujuannya adalah menjaga lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh peserta didik. "Atas nama sekolah, kami memohon maaf atas peristiwa ini. Kejadian ini menjadi pembelajaran penting dan evaluasi mendalam bagi kami," tambahnya.
Advertisement
Pihak sekolah juga menegaskan tidak akan menghambat proses hukum yang ditempuh oleh keluarga korban. Mereka siap bekerja sama dengan aparat kepolisian agar penanganan kasus berjalan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Keterbukaan ini diharapkan dapat membantu penyelesaian kasus secara adil.
Advertisement
Korban pengeroyokan, AAM (16), merupakan pelajar kelas XI-7 SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun. Pada malam kejadian, AAM diketahui sedang sakit dan dirawat di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh para terduga pelaku untuk melancarkan aksinya.
AAM kemudian dijemput oleh sejumlah siswa dan dibawa ke kamar 103. Di kamar tersebut, korban dipukuli hingga pingsan. Setelah insiden pengeroyokan itu, AAM segera dilarikan ke UGD RSAU dr. Efram Harsana Maospati untuk mendapatkan penanganan medis. Ia kemudian menjalani perawatan lanjutan akibat luka-luka yang dideritanya.
Hasil visum luar menunjukkan bahwa korban mengalami memar di hampir seluruh tubuhnya. Memar ditemukan di dada, kedua lengan, tangan, paha, serta punggung. Selain itu, terdapat hematom atau penumpukan darah di bawah kulit pada kepala bagian kiri. Kondisi ini mengindikasikan tingkat kekerasan yang dialami korban.
Advertisement
Melihat kondisi anaknya, orang tua korban, Edi Sutikno, tidak tinggal diam. Ia memutuskan untuk melaporkan insiden pengeroyokan ini kepada pihak kepolisian pada Kamis (4/12). Laporan ini menjadi dasar bagi Polres Madiun Kota untuk memulai penyelidikan resmi terhadap kasus tersebut.
Sumber: AntaraNews