Polisi Segel Pabrik Makanan Ringan Tanpa Izin Beromzet Miliaran

Selasa, 10 September 2019 20:26 Reporter : Erwin Yohanes
Polisi Segel Pabrik Makanan Ringan Tanpa Izin Beromzet Miliaran Pabrik Makanan Ringan Tanpa Izin di Surabaya. ©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Pabrik makanan ringan di Jalan Zamhuri, Rungkut, Surabaya disegel polisi. Pabrik berlabel PT USJ ini terbukti tidak memiliki izin edar dan tidak memiliki izin tempat penampungan limbah sementara.

Pabrik ini disegel Penyidik Unit Pidana Ekonomi (Pidek) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Tidak hanya melakukan penyegelan, penyidik juga sudah memeriksa empat orang saksi, dua di antaranya direktur dan komisaris perusahaan tersebut.

"Pabrik ini memproduksi makanan ringan untuk anak-anak. Kami melakukan penyelidikan mulai 27 Agustus 2019. Makanan ringan ini dipasarkan di Surabaya dan beberapa kota di Jawa Timur," kata Kanit Pidek Polrestabes Surabaya AKP Teguh Setiawan, di Pabrik PT USJ, Selasa (10/9).

Teguh menjelaskan, setelah dilakukan penyelidikan, pabrik ini ternyata tidak memiliki izin edar. Padahal, pabrik ini sudah memproduksi makanan ringan berbagai merek, sekitar satu tahun lalu. Bahkan dalam satu bulan, omzet pabrik ini mencapai Rp1,5 miliar.

"Terdapat beberapa merek makanan ringan yang tidak memiliki izin edar. Bahkan izin dari beberapa merek makanan baru diurus setelah kami melakukan penindakan," tutur Teguh.

Teguh membeberkan beberapa merek makanan ringan yang diproduksi pabrik ini, yaitu Raja Kong, idola belang, goceng hingga gopek. Teguh menyebut, bahan mentah makanan ringan tersebut dicampur bahan-bahan yang gurih. Padahal sebelum diedarkan, perusahaan harus miliki izin edar dan wajib mengantongi rekomendasi dari BPOM, apakah produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak.

"Kami sudah mengambil beberapa sample bahan-bahan untuk memproduksi makanan ringan di sini, untuk diteliti di BPOM Surabaya. Dari 9 merek yang diproduksi, ada 4 merek yang sudah ada izin edar dari BPOM," tambahnya.

Selain tidak memiliki izin edar, lanjut Teguh, pabrik ini juga terbukti menyimpan limbah berupa oli. Padahal secara aturan, perusahaan yang menampung limbah, minimal harus memiliki izin tempat penampungan limbah sementara. "Dan pabrik ini belum memiliki izin tempat penampungan limbah sementara," tegasnya.

Sementara untuk empat orang yang diperiksa dalam kasus ini, Teguh membeberkan empat orang itu terdiri dari dua karyawan bagian mesin oven dan pengepakan. Kemudian direktur dan komisaris PT USJ.

Untuk kepentingan penyidikan, Unit Pidek menyegel pabrik ini dengan memasang garis polisi di beberapa alat produksi.

Penyidik juga menyiapkan Pasal 142 UU RI N0 18 tahun 2012 tentang pangan dan atau Pasal 59 UU RI No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengolaan lingkungan hidup Jo Peraturan pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1999 tentang pengolahan limbah B3. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. Polisi
  2. Perizinan
  3. Surabaya
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini