Polisi Sebut Ada Dugaan Pencatutan Nama Dalam Kasus Penipuan Investasi Anak OSO

Jumat, 22 Mei 2020 23:51 Reporter : Nur Habibie
Polisi Sebut Ada Dugaan Pencatutan Nama Dalam Kasus Penipuan Investasi Anak OSO Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus. ©Liputan6.com/Ady Anugrahadi

Merdeka.com - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, nama Raja Sapta Oktohari (RSO) diduga dicatut atas kasus yang menimpanya. RSO telah dilaporkan oleh seseorang ke Polda Metro Jaya atas kasus dugaan penipuan investasi yang mencapai miliaran rupiah.

"Iya bisa aja dugaan nama itu dicatut. Dia punya kondisi awal bahwa perusahaan dia yang pertama itu ada yang mencoba nakal," katanya, Jakarta, Jumat (22/5).

Meski begitu, dia tak menjelaskan secara rinci atas kasus tersebut. Karena, kasus tersebut sudah masuk dalam ranah penyidikan dan sudah dalam proses perdata.

"Kalau itu sudah masuk ke dalam ranah penyidikan ya. Laporan itu masih berproses di perdata itu belum selesai tetapi kemudian pelapor ini melaporkan Sapta baru kemarin," ungkap Yusri.

Sementara itu, RSO mengungkapkan, telah terjadi goncangan di pasar modal pada akhir tahun 2019. Sehingga membuat perusahaan yang saat itu ia kelola mengalami kendala, terlebih dengan adanya virus corona yang masih melanda Indonesia.

"PT MPIP di akhir tahun 2019 terjadi goncangan di pasar modal Indonesia yang menimbulkan dampak sistemik dilanjutkan lagi dengan pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini," ungkapnya.

Akibatnya, pihak perusahaan pun membuat program restrukturisasi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Saat melakukan hal itu, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan adanya gugatan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) oleh perusahaan lain.

"Dalam proses PKPU dilakukan verifikasi berapa dan kepada siapa kewajiban melakukan restrukrisasi penawaran skema pembayaran sebagaimana telah disosialisasikan sebelumnya dan juga melakukan investigasi atas tagihan-tagihan yang masuk," jelasnya.

Saat proses restrukrisasi PKPU dilakukan, didapatkan data yang diduga tidak melalui prosedur perusahaan secara sah. Ia menduga, adanya penandatanganan dokumen yang mencatut dirinya untuk dapat menarik dana masyarakat.

"Terdapat dokumen yang ditandatangani oknum dengan mengatasnamakan saya. Aliran dana yang mengatasnamakan perusahaan namun diduga mengalir melalui kanal yang tidak tedaftar untuk aktifitas dan kepentingan pihak lain," ujarnya.

"Dengan penjelasan ini publik dapat mengetahui kejadian sebenarnya bahwa telah terjadi penggunaan nama saya oleh oknum atau orang tertentu untuk melakukan pengumpulan dan penggunaan dana dari masyarakat dari PT Mahkota Properti Indo Permata yang saat itu saya adalah direktur utamanya," sambungnya.

Dengan adanya hal tersebut, ia ingin agar semua pihak dapat menahan diri agar pihaknya dapat memperjelas situasi yang sebenarnya terjadi. Ia menyebut, saat ini sudah 90 persen para investor mendaftarkan ke PKPU.

"Saya minta ke semua pihak agar bisa menahan diri agar kita bisa memperjelas situasi ini dan mengikuti mengawal proses hukum yang berjalaan. Kami terima kasih karena temen-temen panitia pengurus PKPU sampe hari ini sudah lebih dari 90 persen para investor yang telah mendaftrakan tagihanya ke pengurus PKPU," ucapnya.

"Kami juga mengimbau agar para investor lainnya segera mendaftarkan diri agar dapat melindungi investasi yang telah dilakukan. Kami akan berjuang dan mengawal agar proses returiksasi dapat berhasil dijalankan sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan mencegah pihak lain untuk menggagalkannya," sambungnya.

Lalu, untuk proses restrukturisasi sendiri. Ia mengaku sedang mengawal dan memperjuangkannya agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

"Kami akan berjuang dan mengawal agar proses restrukturisasi agar dapat berhasil dijalankan sesuai ketentuan hukum berlaku dan semaksimal mungkin mencegah pihak lain untuk menggagalkannya," tandasnya. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Penipuan
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini