Piala Presiden 2026 Berpeluang Gunakan Format Baru, Erick Thohir Ungkap Detailnya

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengisyaratkan Piala Presiden 2026 akan hadir dengan format baru yang lebih inklusif, melibatkan pemerintah daerah dan klub lokal. Pembaca penasaran dengan perubahan ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Piala Presiden 2026 Berpeluang Gunakan Format Baru, Erick Thohir Ungkap Detailnya
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengisyaratkan Piala Presiden 2026 akan hadir dengan format baru yang lebih inklusif, melibatkan pemerintah daerah dan klub lokal. Pembaca penasaran dengan perubahan ini. (AntaraNews)

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir mengindikasikan adanya perubahan signifikan pada penyelenggaraan Piala Presiden 2026. Turnamen pramusim bergengsi ini berpeluang besar mengadopsi format baru yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya.

Pernyataan ini disampaikan Erick Thohir setelah penutupan Piala Presiden 2025 di Jakarta, Minggu (12/4/2026), di mana ia bersama Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait, tengah menggodok konsep tersebut. Tujuan utama dari format baru ini adalah untuk mendorong kontribusi lebih besar dari pemerintah daerah, seperti gubernur dan bupati, demi memajukan sepak bola nasional.

Diskusi mengenai detail format baru Piala Presiden 2026 masih terus berlangsung, dengan harapan dapat menghasilkan formula terbaik. Perubahan ini diharapkan dapat membuat sepak bola di Indonesia semakin bergelora dan merata hingga ke tingkat daerah.

Erick Thohir dan Maruarar Sirait saat ini tengah mematangkan konsep untuk Piala Presiden edisi kedelapan ini. Mereka menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari semua gubernur, bupati, dan wali kota agar sepak bola tidak hanya menjadi tanggung jawab PSSI semata, melainkan juga menjadi kebanggaan daerah.

Ada indikasi kuat bahwa Piala Presiden 2026 tidak akan melibatkan klub dari Liga 1 dan Liga 2, melainkan akan fokus pada pembinaan dari level bawah. Turnamen ini direncanakan akan diikuti oleh hampir 64 klub perwakilan daerah, yang merupakan juara dari Liga Nusantara (Liga 3) dan Liga 4.

Format baru ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kompetisi perserikatan dan amatir yang telah berjalan di berbagai kota. Dengan demikian, Piala Presiden akan menjadi ajang bagi klub-klub dari tingkat kota dan provinsi untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Dalam tujuh edisi sebelumnya, Piala Presiden umumnya diikuti oleh enam hingga 20 klub, yang terdiri dari klub-klub Liga 1, Liga 2, dan bahkan klub luar negeri. Format turnamen ini biasanya dimulai dari babak grup, kemudian dilanjutkan ke babak gugur mulai perempat final hingga final.

Piala Presiden 2025, misalnya, menjadi edisi dengan peserta paling sedikit, yaitu enam tim, dan diselenggarakan pada 6-13 Juli tahun lalu. Klub Thailand, Port FC, berhasil menjuarai edisi tersebut setelah mengalahkan Oxford United dari Inggris di partai final.

Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya yang berfungsi sebagai turnamen pramusim bagi klub profesional, Piala Presiden 2026 akan mengambil peran yang berbeda. Fokusnya beralih ke pengembangan grassroot dengan melibatkan klub-klub dari Liga 3 dan Liga 4.

Jadwal penyelenggaraan Piala Presiden 2026 kemungkinan tidak akan dilakukan pada bulan Juli seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas kalender sepak bola internasional, terutama adanya Piala Dunia 2026.

Erick Thohir juga menyebutkan bahwa keikutsertaan dua klub luar negeri, Oxford United dan Port FC, pada tahun lalu meninggalkan kesan positif. Kedua klub tersebut bahkan menyatakan keinginan untuk kembali berpartisipasi.

Meskipun demikian, PSSI perlu melihat kembali formula dan format yang tepat, terutama mengingat pembangunan tim nasional serta perkembangan Liga 1 dan Liga 2 yang sudah terjadi. Keputusan mengenai keterlibatan klub luar negeri masih akan didiskusikan lebih lanjut.

Pemikiran untuk melibatkan klub-klub yang ada di kabupaten, kota, dan tingkat provinsi menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan format baru Piala Presiden 2026. Ini sejalan dengan upaya PSSI untuk membangun sepak bola dari akar rumput.

Maruarar Sirait mengapresiasi konsistensi PSSI dalam menggelar Piala Presiden dan menegaskan bahwa kesuksesan turnamen merupakan hasil kerja kolektif berbagai elemen. Ia menyatakan bahwa dalam sepak bola, tidak ada superman, yang ada adalah super team.

Ekosistem sepak bola yang terkontrol melibatkan klub, manajer, pemain, media, sponsor, regulator, pemerintah daerah, TNI, dan Polri yang turut membantu keamanan. Semua elemen ini menjadi satu kesatuan untuk mencapai keberhasilan turnamen.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi