Pewarta ANTARA Bagikan Tips Meliput Bencana di Diskusi Taman Langit: Pentingnya Persiapan dan Empati Publik

Redaksi Foto ANTARA sukses menggelar Diskusi Taman Langit, membagikan **tips meliput bencana** dari pewarta senior. Pelajari strategi peliputan, manajemen risiko, dan peran empati dalam jurnalistik bencana untuk meningkatkan kualitas pemberitaan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pewarta ANTARA Bagikan Tips Meliput Bencana di Diskusi Taman Langit: Pentingnya Persiapan dan Empati Publik
Redaksi Foto ANTARA sukses menggelar Diskusi Taman Langit, membagikan **tips meliput bencana** dari pewarta senior. Pelajari strategi peliputan, manajemen risiko, dan peran empati dalam jurnalistik bencana untuk meningkatkan kualitas pemberitaan. (AntaraNews)

Redaksi Foto ANTARA baru-baru ini sukses menyelenggarakan Diskusi Taman Langit edisi ketiga, sebuah forum edukatif yang mengangkat tema krusial mengenai tips meliput bencana. Acara ini berlangsung di Taman Perantaraan 1 atau Taman Langit, Kompleks ANTARA Heritage Center (AHC), Pasar Baru, Jakarta, pada Jumat, 6 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dari para pewarta foto senior.

Diskusi ini secara khusus menyoroti pengalaman peliputan bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Utara, yang kaya akan pelajaran berharga. Tiga pewarta foto senior ANTARA, yaitu Bayu Pratama, Erlangga Bregas Prakoso, dan Rivan Awal Lingga, hadir sebagai pembicara utama. Mereka menguraikan berbagai teknik peliputan, strategi manajemen risiko, serta alur kerja standar saat menjalankan penugasan di lokasi bencana.

Acara ini merupakan bagian integral dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA (LKBN ANTARA). Tujuannya tidak hanya memberikan ruang apresiasi bagi karya peserta magang Magenta BUMN, tetapi juga menyediakan platform edukasi jurnalistik yang mendalam. Edukasi ini ditujukan bagi masyarakat luas, terutama para pelajar dan mahasiswa yang memiliki minat di bidang jurnalistik.

Dalam sesi diskusi, Bayu Pratama, Erlangga Bregas Prakoso, dan Rivan Awal Lingga berbagi kisah inspiratif dari lapangan, memberikan perspektif nyata tentang tantangan peliputan. Mereka menjelaskan bagaimana foto jurnalistik dapat menjadi alat penting untuk menyampaikan informasi yang akurat dan membangkitkan empati publik terhadap korban bencana. Pengalaman ini menunjukkan bahwa peliputan bencana bukan hanya tentang berita, tetapi juga tentang kemanusiaan.

Para pewarta foto ini menekankan pentingnya persiapan matang sebelum terjun ke lokasi bencana. Persiapan tersebut mencakup aspek peralatan yang memadai hingga kondisi mental yang kuat untuk menghadapi situasi darurat. Kesiapan ini menjadi kunci utama bagi jurnalis yang ingin melakukan peliputan bencana secara profesional dan aman.

Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, turut menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berdampak bagi kepentingan publik. Ia menilai karya foto jurnalistik dari peliputan bencana yang ditampilkan peserta menunjukkan kepedulian sosial generasi muda. Hal ini juga dapat memperkuat modal sosial di masyarakat melalui lensa kamera.

Peliputan bencana memerlukan strategi khusus agar informasi yang disampaikan tidak hanya faktual tetapi juga bertanggung jawab. Pewarta foto ANTARA memaparkan teknik peliputan yang efektif, termasuk cara mendapatkan gambar yang kuat tanpa mengorbankan etika jurnalistik. Ini melibatkan pemahaman mendalam tentang lingkungan dan situasi yang dihadapi.

Manajemen risiko menjadi aspek krusial lainnya yang dibahas dalam diskusi. Jurnalis yang meliput bencana seringkali menghadapi bahaya fisik dan psikologis. Oleh karena itu, pemahaman tentang cara mengelola risiko, menjaga keselamatan diri, dan tim adalah hal yang tidak bisa ditawar.

Alur kerja standar saat meliput bencana juga menjadi fokus pembahasan, memastikan bahwa proses pengumpulan, pengolahan, dan penyampaian berita berjalan efisien. Dari perencanaan hingga publikasi, setiap langkah harus terstruktur untuk menghasilkan laporan yang cepat dan akurat. Ini termasuk verifikasi informasi dan kerja sama tim.

Jurnalisme foto memiliki kekuatan unik untuk menyampaikan cerita dan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dalam konteks bencana, foto-foto yang kuat dapat menjadi jembatan antara korban dan masyarakat luas, membangkitkan kesadaran dan dorongan untuk membantu. Ini adalah esensi dari jurnalisme yang berorientasi pada kepentingan publik.

Diskusi ini menegaskan bahwa "jurnalistik itu bicara tentang kepentingan publik," sebuah prinsip yang sangat relevan dalam peliputan bencana. Ketika anak-anak muda berkarya untuk kepentingan publik, terutama dalam situasi darurat, dampaknya bisa sangat luar biasa. Karya mereka dapat menginspirasi tindakan nyata dan solidaritas.

Melalui pameran foto-foto bencana alam yang menyertai diskusi, peserta dapat melihat langsung dampak visual dari peristiwa tersebut. Pameran ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya peran jurnalis dalam mengabadikan sejarah dan memicu refleksi. Ini adalah cara efektif untuk menyampaikan pesan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi