Perjuangan anak 5 desa dari SSB ASAD Purwakarta antarkan Timnas U-16 Juara
Merdeka.com - Perjuangan anak-anak Sekolah Sepak Bola ASAD Jaya Perkasa Purwakarta berbuah manis. Mereka turut mengantarkan Timnas sepakbola U-16 juara Piala AFF 2018.
Saat menghadapi Thailand di partai final, salah satu pemain jebolan ASAD Fajar Faturahman menjadi satu-satunya pencetak gol di waktu normal. Adapun pertandingan melawan Timnas U-16 Thailand tersebut berakhir melalui drama adu penalti.
Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi pasukan Garuda Muda mengukir sejarah dengan menumbangkan pasukan Gajah Putih dengan skor 4-3 melalui adu penalti.
Pembina ASAD Jaya Perkasa Purwakarta Dedi Mulyadi mengaku terharu karena bahagia atas pencapaian itu. Dedi yang membangun SSB ASAD sejak tahun 2013 itu tak lupa menyampaikan terima kasih atas dedikasi anak-anak ASAD selama turnamen berlangsung.
Dikatakan Dedi latihan keras penuh disiplin disertai doa menjadi faktor penentu kemenangan. "Saya terus terang terharu, saya bahagia. Anak-anak dari desa mampu membuktikan diri. Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada semua pihak. Ini kado untuk peringatan kemerdekaan kita," kata Dedi di Purwakarta, Minggu (12/8).
Sedangkan proses panjang mengenai kiprah SSB ASAD diceritakan manajernya Habib Alwi Hasan Syua'aib. Berawal dari pemikiran kultural Dedi Mulyadi kala itu sebagai Bupati Purwakarta untuk kemudian diadopsi menjadi peraturan ASAD. Di antaranya, anak SSB ASAD Jaya Perkasa diharuskan bangun tidur sebelum ayam berkokok.
Ini berarti mereka harus bangun di waktu subuh dan melaksanakan salat subuh berjamaah. Setelah itu, siswa diharuskan mengaji sebelum melahap berbagai menu latihan.
"Anak ASAD yang muslim shalat subuh berjamaah kemudian mengaji. Teman-temannya yang non-muslim menyesuaikan mempelajari kitab agamanya. Intinya, bangun pagi menjadi kewajiban. Ini belajar karakter," ujar Alwi.
Dalam skuad asuhan pelatih Fachri Husaini, terdapat lima pemain lulusan ASAD Jaya Perkasa. Mereka adalah Yadi Mulyadi, Hamsa Medari Lestahulu dan Muhammad Fajar Faturrahman. Tak ketinggalan ada nama Ahludz Dzikri dan Muhammad Talaohu.
Pemilihan anak desa untuk menjadi siswa ASAD bukan tanpa alasan. Menurut Alwi, kultur anak desa cenderung kuat dan tidak cengeng saat menerima pengajaran. Meskipun, dia mengakui bahwa kultur tersebut ada di anak kota dalam frekuensi yang tidak masif.
"Kuat dalam berbagai hal dan mudah diarahkan, tidak cengeng. Ini terus terang saja melatarbelakangi saya dan Kang Dedi untuk terus 'apruk-aprukan' (menjelajahi) desa. Kita konsisten mencari bibit pemain sepakbola," katanya.
(mdk/ian)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya