Penyintas Banjir Tapsel Gelar Shalat Tarawih Perdana di Masjid yang Terdampak Bencana

Meski dilanda banjir bandang, penyintas di Tapanuli Selatan tetap khusyuk menunaikan Shalat Tarawih perdana di masjid yang kokoh berdiri, menandakan semangat kebersamaan dan kebangkitan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyintas Banjir Tapsel Gelar Shalat Tarawih Perdana di Masjid yang Terdampak Bencana
Meski dilanda banjir bandang, penyintas di Tapanuli Selatan tetap khusyuk menunaikan Shalat Tarawih perdana di masjid yang kokoh berdiri, menandakan semangat kebersamaan dan kebangkitan. (AntaraNews)

Warga penyintas banjir bandang di Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa. Mereka melaksanakan Shalat Tarawih perdana di Masjid Raya Subulul Ubudiyah pada Rabu malam, menandai dimulainya ibadah di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Masjid berukuran kurang lebih 15x15 meter persegi ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi warga, baik yang sudah kembali ke rumah masing-masing maupun yang masih mengungsi. Kehadiran mereka dalam ibadah sunah ini menjadi simbol ketabahan di tengah cobaan bencana.

Meski sempat terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, Masjid Raya Subulul Ubudiyah tetap berdiri kokoh. Lokasinya yang strategis di area bencana menjadikannya salah satu dari sedikit bangunan yang masih utuh, memberikan harapan dan tempat berlindung spiritual bagi masyarakat.

Shalat Tarawih perdana di Masjid Raya Subulul Ubudiyah diselenggarakan dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak bersatu dalam ibadah, menciptakan suasana penuh kedamaian dan harapan. Momen ini menjadi bukti nyata kekuatan iman dan solidaritas warga Huta Godang pasca-bencana.

Masjid ini menjadi saksi bisu keganasan banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025, namun juga menjadi simbol ketahanan. Banyak bangunan di sekitarnya rata dengan tanah, namun masjid ini tetap tegak berdiri. Hal ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi warga untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Keberadaan masjid yang kokoh ini sangat berarti bagi para penyintas. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai titik kumpul dan penguat mental spiritual masyarakat. Ini menunjukkan bahwa di tengah kesulitan, nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan tetap menjadi pilar utama dalam menghadapi tantangan.

Kepala Desa Huta Godang, Adamal Tampubolon, menjelaskan bahwa Shalat Tarawih dapat dilaksanakan setelah proses pembersihan material bencana selesai. Tim gabungan dari TNI telah bekerja keras membersihkan sisa-sisa banjir bandang, termasuk kayu, lumpur, dan puing-puing rumah yang terbawa arus.

Selain membersihkan, petugas juga melakukan perbaikan terhadap sejumlah kerusakan minor yang terjadi pada struktur Masjid Raya Subulul Ubudiyah. Upaya cepat tanggap ini memastikan bahwa fasilitas ibadah dapat segera digunakan kembali oleh masyarakat. Dedikasi para petugas sangat diapresiasi oleh warga setempat.

Proses pemulihan ini bukan hanya tentang membersihkan fisik bangunan, tetapi juga memulihkan semangat komunitas. Dengan kembalinya aktivitas ibadah di masjid, diharapkan kehidupan sosial dan spiritual warga Desa Huta Godang dapat berangsur normal. Ini adalah langkah penting dalam proses rehabilitasi pasca-bencana yang menyeluruh.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi