Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengungsi Palu di Samarinda kaget diminta tebus obat anaknya Rp 400 ribu

Pengungsi Palu di Samarinda kaget diminta tebus obat anaknya Rp 400 ribu pengungsi palu di samarinda. ©2018 Merdeka.com/saud rosadi

Merdeka.com - Pengungsi asal kota Palu, Sulawesi Tengah, perlahan terus berdatangan ke Samarinda, Kalimantan Timur, tinggal di rumah kerabat dan keluarga mereka. Pagi tadi, salah satu pengungsi Nur Anna (43), dibikin kaget saat diminta menebus 5 item obat Rp 400 ribu bagi pengobatan balitanya, Nur Aisyah, berusia 2 tahun.

Merdeka.com sekira pukul 14.33 WITA tadi, menyambangi rumah, di Jalan Sawi RT 27 kelurahan Karang Asam Ulu, Sungai Kunjang, yang dijadikan tempat mengungsi 14 jiwa warga Pantoloan, Palu.

Rumah itu, berjarak kurang dari 300 meter dari rumah pribadi, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor. Secara fisik rumah itu memang terlihat cukup bagus. Namun, para pengungsi tidur dan duduk melantai.

Tangisan balita yang sedang diayun, terdengar di rumah itu. Mereka menyambut dengan senyum nan ramah, terharu ada yang menjenguk mereka.

Ya, tangis balita itu adalah tangisan Nur Aisyah. Pagi tadi, lantaran kondisinya terus menangis, muntah dan terus buang cairan, akhirnya dilarikan orangtua dan keluarganya, ke klinik terdekat di Jalan Cendana.

Terkejut. Begitu respons Anna, ketika dia disodorkan biaya tebusan obat Rp 400 ribu untuk 5 item obat, dari klinik kesehatan itu. Di pikiran dia, dia tidak ada membawa uang, lantaran rumahnya disapu tsunami.

"Saya bilang kami pengungsi Palu, saya tidak ada uang. Sempat saya tinggal sebentar, berunding dengan keluarga (pengungsi lain)," kata Anna, dalam perbincangan bersama merdeka.com, siang ini tadi.

pengungsi palu di samarinda

pengungsi palu di samarinda ©2018 Merdeka.com/saud rosadi

Singkat cerita, petugas klinik, akhirnya membebaskan biaya tebusan obat. Namun demikian, jumlah obat yang diterima dikurangi.

"Alhamdulillah dapat keringanan. Bayar Rp 100 ribuan, buat bayar pelayanan konsultasi medis. Alhamdulillah (Nur Aisyah) sudah lebih baik," ujarnya.

Anna, datang di Samarinda bersama 13 pengungsi lain usia dewasa dan anak-anak, Senin (8/10) lalu. Salah satu dari 13 pengungsi, punya keluarga yang tinggal di Samarinda. Rumah yang dihuni untuk mengungsi saat ini, ditinggal pemiliknya yang pindah ke kabupaten Paser, di selatan Kalimantan Timur.

"Kami semua didata. Mulai dari di tenda pengungsian di Palu, kemudian kami naik kapal Pelni di Pantoloan, juga didata. Tiba di Balikpapan (posko utama penanganan pengungsi), kami didata lagi. Dan, kami tujuan ke Samarinda, juga didata lagi," terang Anna.

Jadi, secara prosedur, para pengungsi ini pun memang patuh aturan. "Sebelum kami ke Samarinda, penunggu rumah ini, juga sudah lapor ke Pak RT, bahwa akan ada pengungsi datang dan tinggal sementara," kata pengungsi lainnya, Rukizah (47).

Kini, mereka satu keluarga dari satu kampung di Pantoloan, tidak lagi memiliki tempat tinggal. Rumah mereka, disapu rata tsunami, usai diguncang hempa. "Kami bawa bekal logistik bantuan, waktu di tenda pengungsian di Palu, sampai ke Samarinda. Di sini, sementara belum ada bantuan," ungkap Rukizah.

"Kalau bisa, kami dibantu selain logistik makanan, juga pampers anak, susu dan pakaian bayi. Itu kira-kira yang paling penting Pak," sebut Rukizah.

Alasan 14 keluarga ini mengungsi, memang trauma dari tsunami yang menggulung rumah mereka, di sekitar pelabuhan Pantoloan. "Rumah hancur. Kami tidak bisa bertahan, karena anak-anak lari ketakutan karena ada gempa-gempa susulan. Gempa, kami masih bisa selamat. Tsunami itu mengerikan Pak," ungkap Rukizah mengingat kejadian kala itu, seraya menyudahi perbincangan jelang sore ini.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP