Pemerintah Kota Yogyakarta secara aktif menggalakkan upaya Pengelolaan Sampah Organik Yogyakarta melalui program emberisasi yang tersebar di seluruh wilayah kota. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir. Setiap harinya, program ini berhasil menghimpun sekitar 1.100 ember sampah organik basah.
Jumlah sampah organik basah yang terkumpul setara dengan 27,5 ton per hari, kemudian disalurkan kepada berbagai mitra offtaker mandiri. Mitra tersebut meliputi peternak ayam, bebek, maggot, ikan, hingga babi yang memanfaatkan sampah sebagai pakan. Langkah ini menunjukkan komitmen Pemkot dalam mengimplementasikan ekonomi sirkular.
Selain sampah organik basah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta juga mengelola sampah organik kering seperti daun dan tebangan pohon. Penjemputan sampah organik kering ini mencapai sekitar tiga truk atau setara 7,5 ton setiap hari. Total 45 titik penjemputan sampah organik tersebar di seluruh Kota Yogyakarta.
Advertisement
Advertisement
Program emberisasi telah menjangkau seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta, menjadi tulang punggung dalam upaya Pengelolaan Sampah Organik Yogyakarta. Ribuan ember telah didistribusikan kepada para penggerobak sampah. Mereka bertugas mengambil sampah organik basah dari rumah tangga yang telah mengumpulkannya dalam galon bekas.
Supriyanto, Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan DLH Kota Yogyakarta, menjelaskan bahwa dua belas mitra offtaker mandiri terlibat dalam program ini. Kemitraan dengan peternak lokal memastikan sampah organik basah termanfaatkan secara maksimal. Hal ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mendukung sektor peternakan.
Masyarakat didorong untuk berpartisipasi aktif dengan memilah sampah sejak dari sumbernya. Pemilahan ini sangat krusial mengingat sampah organik mendominasi sekitar 60 persen dari total timbulan sampah. Dengan demikian, program emberisasi menjadi solusi efektif untuk masalah sampah di perkotaan.
Advertisement
Advertisement
Untuk sampah organik kering, masyarakat diminta untuk mengumpulkannya di masing-masing kelurahan. Selanjutnya, DLH Kota Yogyakarta akan mengolah sampah tersebut lebih lanjut. Proses ini merupakan bagian integral dari strategi Pengelolaan Sampah Organik Yogyakarta yang komprehensif.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, sebelumnya menegaskan pentingnya pemilahan sampah dari hulu untuk menurunkan volume sampah secara bertahap. Jika sampah organik dapat dikelola dengan baik, sisa sampah residu yang perlu ditangani hanya sekitar 40 persen. Sisa sampah ini kemudian dapat diolah melalui unit pengelolaan sampah milik Pemkot.
Pemkot Yogyakarta telah mengoperasikan unit pengolahan pupuk organik di beberapa lokasi, termasuk Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. Selain itu, unit pengolahan serupa juga sedang disiapkan di Tegalrejo dan Tegalgendu. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Pemkot dalam mengoptimalkan nilai guna sampah organik.
Advertisement
Advertisement
Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan Pengelolaan Sampah Organik Yogyakarta. Masyarakat yang mengalami kesulitan dalam membuang sampah dapat menghubungi petugas pengawas pemilahan sampah di kelurahan masing-masing. Ini memastikan bahwa tidak ada sampah organik yang terlewatkan dari sistem pengelolaan.
Keberadaan 45 titik penjemputan sampah organik di seluruh kota mempermudah akses masyarakat terhadap fasilitas pengelolaan sampah. Infrastruktur ini mendukung upaya Pemkot dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Program ini juga menciptakan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan langkah-langkah bertahap ini, Pemkot Yogyakarta berupaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Fokus pada pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah organik diharapkan dapat menjadi model bagi kota-kota lain. Tujuan akhirnya adalah mengurangi beban TPA dan mewujudkan kota yang lebih hijau.
Advertisement
Sumber: AntaraNews