Petani gurem di Indonesia menghadapi tantangan berat akibat kenaikan biaya produksi pertanian yang dipicu oleh konflik global dan ancaman kemarau panjang. Kenaikan harga pupuk dan pestisida menjadi beban signifikan, mengancam keberlangsungan hidup jutaan petani yang memiliki keterbatasan modal dan lahan.
Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ivanovich Agusta, menyoroti kondisi ini. Menurut Ivan, kelompok petani gurem, yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare, adalah yang paling rentan terhadap gejolak harga input pertanian.
Di tengah situasi tersebut, penerapan teknik biointensif muncul sebagai solusi strategis. Metode budi daya pertanian ini menawarkan cara untuk mengoptimalkan lahan secara efisien, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia, sehingga dapat menekan biaya produksi.
Advertisement
Advertisement
Konflik global, seperti yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, memiliki dampak domino terhadap sektor pertanian di Indonesia. Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, menjelaskan bahwa konflik ini mengganggu produksi dan logistik pupuk dunia.
Sebanyak 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan Arab, yang distribusinya kini terhambat oleh risiko keamanan dan lonjakan biaya asuransi pengiriman. Akibatnya, petani Indonesia menghadapi ancaman lonjakan harga pupuk Nitrogen sebesar 32,4 persen, sementara harga pestisida diprediksi naik 20–30 persen.
Selain itu, ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino memperparah kondisi petani. Kombinasi kenaikan harga input dan risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem menuntut adanya mitigasi yang substansial untuk menjaga keberlangsungan penghidupan petani gurem di tingkat desa.
Advertisement
Advertisement
Teknik biointensif adalah metode budi daya pertanian yang berfokus pada optimalisasi lahan secara efisien melalui pendekatan ekologis. Ivanovich Agusta menjelaskan bahwa penerapan teknik ini dapat secara signifikan mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen, tanpa menurunkan tingkat produksi.
Pendekatan ini memungkinkan petani untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang harganya terus melambung. Dengan demikian, petani dapat menekan biaya operasional secara drastis, meningkatkan margin keuntungan, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Penerapan teknik biointensif juga mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Ini sejalan dengan upaya global untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan ramah lingkungan, sekaligus membantu petani gurem untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan gejolak pasar.
Advertisement
Advertisement
Untuk memastikan keberhasilan penerapan teknik biointensif, Ivanovich Agusta menekankan pentingnya pendampingan dan penyuluhan berbasis budi daya ekologis. Pendampingan ini harus diarahkan pada penghematan penggunaan pupuk dan pestisida buatan, serta mendorong peralihan ke teknologi budi daya ekologis.
Selain itu, Ivan juga menyoroti peran pemerintah dalam mengarahkan kebijakan mitigasi yang lebih substansial di tingkat desa. Kebijakan ini krusial untuk menjaga keberlangsungan penghidupan petani gurem yang jumlahnya mencapai 17,25 juta dari total 27,8 juta petani di Indonesia berdasarkan Sensus Pertanian 2023.
Pemerintah perlu mendukung inisiatif yang memfasilitasi forum komunikasi antarpetani. Forum semacam ini memungkinkan petani untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang praktik-praktik terbaik dalam penerapan teknik biointensif, sehingga mempercepat adopsi dan keberhasilan metode ini di seluruh pelosok negeri.
Advertisement
Sumber: AntaraNews