Bencana banjir dan tanah longsor telah melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, meliputi Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng Widi Hartanto, mengungkapkan penyebab utama kejadian ini. Peristiwa ini terjadi setelah wilayah tersebut mengalami curah hujan ekstrem dengan durasi lama pada 23-24 Januari 2026.
Analisis menunjukkan bahwa kombinasi beberapa faktor menjadi pemicu utama bencana. Tingginya curah hujan, kerapatan jaringan aliran sub-daerah aliran sungai (DAS) yang tinggi, kelerengan yang sangat curam, serta jenis tanah latosol coklat berperan besar. Faktor-faktor ini secara sinergis meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor dan banjir bandang di kawasan tersebut.
Curah hujan ekstrem yang mencapai 100-150 mm per hari di wilayah hulu Gunung Slamet jauh melampaui batas normal 50 mm per hari. Peningkatan debit air secara drastis ini berkontribusi signifikan terhadap banjir. Pemprov Jateng terus berupaya melakukan penanganan dan mitigasi jangka panjang untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Curah hujan ekstrem dengan durasi lama pada 23-24 Januari 2026 mencapai 100-150 mm per hari di wilayah hulu Gunung Slamet. Angka ini jauh melampaui curah hujan normal per hari yang idealnya sampai 50 mm. Peningkatan debit air secara drastis akibat curah hujan intens ini berkontribusi signifikan terhadap banjir.
Selain curah hujan, kerapatan jaringan aliran sub-daerah aliran sungai (DAS) yang tinggi turut memperparah kondisi. Kelerengan yang sangat curam di lereng Gunung Slamet juga menjadi faktor penting. Kombinasi ini meningkatkan kecepatan limpasan permukaan dan daya kikis aliran air, memperbesar potensi longsor.
Jenis tanah latosol coklat yang mendominasi kawasan Sub DAS Penakir memiliki karakteristik rentan erosi dan longsor. Sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air membuatnya tidak stabil saat terpapar air hujan berlebih. Hal ini mengakibatkan peningkatan suplai sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir.
Advertisement
Advertisement
Wilayah seperti Kecamatan Pulosari dan Moga di Kabupaten Pemalang terletak di Sub DAS Penakir. Area ini merupakan bagian dari hulu Sub DAS Gintung dengan kemiringan lereng kategori agak curam hingga sangat curam. Kondisi geografis ini membuat Sub DAS Penakir sangat rentan terhadap erosi lahan dan longsor lereng, terutama di bagian hulu-tengah.
Longsoran sering terjadi di bagian hulu hingga tengah Sub DAS Penakir. Dampak lanjutannya berupa peningkatan muatan sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir. Banjir bandang juga dapat terjadi akibat peningkatan limpasan permukaan yang cepat serta suplai sedimen tinggi.
Catatan menunjukkan bahwa sejak tahun 2022, sudah banyak titik longsoran terjadi di kawasan lereng Gunung Slamet. Ini mengindikasikan kerentanan area tersebut terhadap bencana hidrometeorologi. Sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi mempercepat proses ini, menimbulkan kerugian signifikan.
Advertisement
Advertisement
Faktor lain yang turut memengaruhi banjir dan longsor adalah daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kemampuan lahan untuk melindungi diri dari tekanan sangat krusial dalam menghadapi curah hujan tinggi. Tutupan lahan yang baik atau rapat dapat mengurangi dampak bencana secara signifikan, menjaga stabilitas ekosistem.
Kepala DLHK Jateng menegaskan bahwa aktivitas penambangan tidak berhubungan langsung dengan longsoran ini. Aktivitas penambangan berada di kaki gunung, ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran. Hal ini menepis dugaan keterkaitan antara penambangan dan bencana longsor yang terjadi di lereng atas.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan upaya penanganan jangka panjang. Program rehabilitasi hutan dan lahan menjadi salah satu fokus utama untuk mengantisipasi bencana serupa di masa depan. Berbagai pemangku kepentingan juga telah berkontribusi dalam penanaman di kawasan Gunung Slamet, mendukung keberlanjutan lingkungan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews