Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya keras meningkatkan reputasi Kota Tua sebagai pusat pariwisata budaya internasional. Upaya ini dilakukan melalui penyelenggaraan perayaan Hari Angklung Sedunia ke-15 di kawasan bersejarah tersebut. Acara ini diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan global dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menyatakan bahwa pemerintah daerah ingin menjadikan Kota Tua sebagai platform aktif. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat dunia tentang angklung. Angklung sendiri merupakan alat musik tradisional yang telah diakui sebagai aset budaya warisan dunia.
Perayaan Hari Angklung Sedunia ini menjadi salah satu bentuk komitmen Jakarta dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budayanya. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga pada revitalisasi budaya di ruang publik. Dengan demikian, angklung dapat terus dikenal dan dinikmati oleh berbagai kalangan.
Advertisement
Advertisement
Kota Tua: Simbol Sejarah dan Daya Tarik Wisata Internasional
Pemilihan Kota Tua sebagai lokasi perayaan Hari Angklung Sedunia ke-15 memiliki makna mendalam. Kawasan ini merepresentasikan perjalanan sejarah panjang Jakarta yang kaya akan nilai-nilai budaya. Keberadaan bangunan-bangunan kuno dan suasana historis menjadikan Kota Tua sebagai latar yang sempurna.
Lokasi ini juga dipilih karena kemampuannya menarik jumlah wisatawan yang tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri. "Lokasi ini dipilih juga karena menarik banyak wisatawan domestik dan internasional," jelas Tamary. Hal ini menunjukkan potensi besar Kota Tua sebagai destinasi wisata budaya.
Melalui perayaan Hari Angklung Sedunia ini, pemerintah Jakarta bertujuan untuk memperkuat citra area tersebut. Kota Tua diharapkan semakin dikenal sebagai pusat pariwisata budaya internasional. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing pariwisata Jakarta di kancah global.
Advertisement
Advertisement
"Symphony of Jakarta Heritage": Harmoni Angklung dan Budaya Betawi
Perayaan Hari Angklung Sedunia ke-15 mengusung tema "Symphony of Jakarta Heritage". Acara ini menampilkan beragam pertunjukan seni yang memukau dan edukatif. Tema ini dirancang untuk menggambarkan tiga fase penting dalam sejarah Jakarta.
Fase-fase tersebut meliputi era Kerajaan Pajajaran–Sunda Kelapa, periode Fatahillah–Jayakarta, dan era Batavia selama pemerintahan kolonial Belanda. Pertunjukan utama termasuk konser angklung oleh Saung Udjo dan orkestra angklung. Selain itu, ada kolaborasi dengan seni Betawi seperti gambang kromong, tari topeng, dan ondel-ondel.
Tidak hanya pertunjukan musik dan tari, acara ini juga menyajikan permainan tradisional. Permainan seperti egrang atau bakiak panjang turut memeriahkan suasana. Tersedia pula booth angklung interaktif yang memungkinkan pengunjung untuk mencoba memainkan alat musik ini secara langsung.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Jakarta dalam Pelestarian Warisan Budaya Dunia
Mochamad Miftahulloh Tamary menegaskan bahwa acara ini mencerminkan komitmen Jakarta. Komitmen tersebut adalah untuk merevitalisasi warisan budaya di ruang publik. Inisiatif ini merupakan bagian penting dari upaya pelestarian budaya.
Angklung sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tanggal 16 November 2010. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia. Pengakuan ini menegaskan pentingnya angklung sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia.
Sebelumnya, pada peringatan Hari Angklung Sedunia, Dinas Kebudayaan Jakarta bersama mitra strategis juga mengadakan acara serentak. Kegiatan tersebut berlangsung di beberapa lokasi ikonik kota, termasuk Bundaran Hotel Indonesia. Ini menunjukkan konsistensi Jakarta dalam merayakan dan mempromosikan angklung.
Advertisement
Sumber: AntaraNews