Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengambil langkah progresif dalam penanganan sampah dengan mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membuat "tempah dedoro". Kebijakan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah organik secara mandiri di tingkat SPPG. Instruksi ini disampaikan langsung kepada puluhan SPPG MBG se-Kota Mataram dalam sebuah rapat koordinasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa setiap SPPG minimal harus membuat tiga unit "tempah dedoro". Wadah pengolahan sampah ini dirancang dengan kedalaman minimal 1,5 meter dan diameter 90-95 sentimeter. Kebijakan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS).
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Mataram untuk mengatasi permasalahan sampah, khususnya limbah organik yang mendominasi. Dengan adanya "tempah dedoro", SPPG MBG diharapkan dapat mengelola sampah organik mereka secara efektif. Hal ini juga menjadi syarat penting untuk pengeluaran izin operasional SPPG MBG di Mataram.
Advertisement
Advertisement
Inisiatif "tempah dedoro" dari Pemkot Mataram diprediksi mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS hingga 60 persen. Data menunjukkan bahwa setiap SPPG menghasilkan 100 hingga 300 kilogram sampah per hari, dengan 60 persen di antaranya adalah sampah organik. Pengelolaan sampah organik Mataram melalui "tempah dedoro" akan meminimalisir beban TPA secara drastis.
Selain sampah organik, SPPG juga menghasilkan limbah kardus dan plastik seperti botol air mineral. Sampah-sampah non-organik ini masih memiliki nilai ekonomi dan dapat dikumpulkan untuk dijual kembali. Dengan demikian, hanya residu atau sampah yang tidak dapat diolah lagi yang akan diangkut ke TPS oleh petugas.
Kewajiban memiliki "tempah dedoro" telah disosialisasikan dan disetujui oleh SPPG MBG se-Kota Mataram. DLH Kota Mataram akan melakukan kunjungan langsung bersama Dinas Kesehatan Kota Mataram dan Dinas Pendidikan Kota Mataram untuk memastikan kepatuhan. Ini menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah dalam implementasi program ini.
Advertisement
Advertisement
"Tempah dedoro" dibuat menggunakan buis beton lengkap dengan penutup dan lubang untuk memasukkan sampah organik. Desain ini memungkinkan proses penguraian sampah berjalan efektif dan satu unit "tempah dedoro" dapat digunakan hingga satu tahun. Kedalaman dan diameter yang spesifik menjamin kapasitas serta efektivitas penguraian.
Untuk mempercepat penguraian dan menghilangkan aroma tidak sedap, cairan EM4 atau air bekas cucian beras dapat disemprotkan ke dalam "tempah dedoro". Metode ini membantu proses dekomposisi alami dan memastikan lingkungan tetap nyaman. Ini adalah solusi praktis dan ramah lingkungan untuk masalah bau sampah.
Setelah sekitar satu tahun, sampah organik yang terurai akan menghasilkan kompos yang siap panen. Kompos ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman di sekitar dapur SPPG MBG. Dengan demikian, "tempah dedoro" tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan sumber daya baru yang bermanfaat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews