Pemkot Bogor Apresiasi Penanganan Stunting, Targetkan Nol Kasus Baru di 2025

Pemerintah Kota Bogor mengapresiasi kinerja penanganan stunting yang menunjukkan tren penurunan. Berbagai strategi diterapkan, termasuk komitmen ASN dan inovasi digital, demi mencapai target nol kasus baru di 2025.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkot Bogor Apresiasi Penanganan Stunting, Targetkan Nol Kasus Baru di 2025
Pemerintah Kota Bogor mengapresiasi kinerja penanganan stunting yang menunjukkan tren penurunan. Berbagai strategi diterapkan, termasuk komitmen ASN dan inovasi digital, demi mencapai target nol kasus baru di 2025. (AntaraNews)

Pemerintah Kota Bogor memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya penanganan stunting di wilayahnya. Kinerja aparatur di tingkat kecamatan dan kelurahan pada tahun 2024 ini dinilai sangat memuaskan. Apresiasi ini disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program tersebut.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPPS), mengungkapkan tren penurunan angka stunting. Penurunan ini menjadi indikator positif dari berbagai intervensi yang telah dilakukan. Informasi ini didapatkan dari Diskominfo Kota Bogor pada hari Sabtu.

Komitmen kuat Pemkot Bogor terlihat dari partisipasi aktif ASN, termasuk jajaran pimpinan, dalam menyisihkan sebagian pendapatan. Mereka berharap strategi penanganan stunting dapat diperkuat pada tahun depan. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada lagi penambahan kasus baru di Kota Bogor.

Pemkot Bogor menunjukkan komitmen serius dalam upaya penanganan stunting. Seluruh aparatur sipil negara (ASN), mulai dari wali kota hingga sekda, secara sukarela menyisihkan sebagian pendapatan mereka. Komitmen ini bahkan telah dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman (MoU) sebagai landasan resmi.

Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin menegaskan pentingnya kolaborasi ini. "Ini menjadi komitmen kita semua bahwa sebagian rezeki kita sangat berarti untuk penurunan stunting. Ini permasalahan serius yang harus kita tangani, karena masa depan bangsa ada di tangan mereka," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran akan dampak jangka panjang stunting terhadap generasi mendatang.

Selain dukungan dari internal pemerintah, upaya penanganan stunting di Kota Bogor juga diperkuat oleh partisipasi donatur eksternal. Pihak swasta dan individu secara sukarela berkontribusi dalam pengentasan masalah gizi ini. Kolaborasi multi-pihak ini menjadi pemicu semangat bagi siapa pun yang ingin berbuat dan ikut andil.

Sistem donasi ini dipermudah melalui aplikasi Bogor Bebas Stunting (Bogor Besti). Aplikasi ini memungkinkan donatur dan anak yang dibantu terhubung secara langsung. Hal ini menciptakan transparansi dan rasa memiliki yang lebih kuat di antara para pihak yang terlibat.

Strategi penanganan stunting di Kota Bogor tidak bersifat seragam, melainkan berbasis kebutuhan individu. Jenal Mutaqin menekankan bahwa intervensi harus disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap anak. Ini berarti pendekatan yang lebih personal dan efektif dalam pemberian bantuan gizi.

"Dari 1.588 itu kan treatment-nya tidak semua sama, tidak semua harus dikasih protein atau telur. Harus ada pola yang berbasis kebutuhan per individu by name by address, baik balita, ibu hamil, maupun calon pengantin baru," jelas Jenal Mutaqin. Pendekatan ini memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Untuk meningkatkan efektivitas, Pemkot Bogor mendorong inovasi berupa sistem pemantauan berbasis aplikasi digital. Aplikasi ini diharapkan dapat memfasilitasi donatur untuk memantau perkembangan fisik dan gizi anak yang mereka bantu. Keberadaan relawan, donatur, dan dukungan SPPG menjadi peluang besar dalam mempercepat penurunan stunting.

Inovasi digital ini bertujuan membangun rasa memiliki dan tanggung jawab. "Saya mengharapkan ada sebuah aplikasi, sehingga para donatur tahu anak yang selama ini dibantu bagaimana perkembangan fisiknya, gizinya selama periode tertentu. Kalau dengan seperti itu ada rasa memiliki, ada rasa tanggung jawab, ini akan lebih terasa perjuangannya," ucapnya.

Pemkot Bogor memiliki target ambisius untuk tahun 2025 dalam penanganan stunting. Fokus utama bukan hanya menekan angka prevalensi, tetapi juga memastikan tidak ada lagi penambahan kasus baru. Ini menunjukkan pendekatan proaktif dalam upaya pencegahan.

Dari target awal 1.588 kasus yang harus diintervensi, Pemkot Bogor berupaya menurunkannya menjadi 1.510 kasus. Lebih dari itu, target jangka panjang adalah mencapai nol penambahan kasus stunting. Ini merupakan tantangan besar yang memerlukan kerja keras berkelanjutan.

Selain pemenuhan gizi, Pemkot Bogor juga memberikan perhatian serius pada isu pernikahan dini. Pernikahan dini diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyumbang stunting yang signifikan. Oleh karena itu, edukasi dan pencegahan pernikahan dini menjadi bagian integral dari strategi penanganan stunting.

Upaya komprehensif ini melibatkan berbagai sektor dan pihak. Dengan pendekatan yang terstruktur dan didukung inovasi, Pemkot Bogor optimis dapat mencapai target penurunan stunting. Masa depan bangsa yang sehat menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang diambil.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi