Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Penetapan ini menyusul kejadian bencana yang mengakibatkan putusnya akses jalan di wilayah Kecamatan Imogiri. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada Jumat, 21 November sore, menjadi pemicu utama.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengumumkan keputusan ini setelah rapat darurat yang digelar pada malam hari. Rapat tersebut melibatkan pemerintah daerah, Kodim, lurah, serta berbagai pihak relawan terkait. Fokus utama dari penetapan status ini adalah penanganan cepat terhadap dampak bencana.
Bencana hidrometeorologi dilaporkan terjadi di Pedukuhan Wunut, Desa Sriharjo, Imogiri, pada Jumat, 21 November. Insiden ini memicu respons cepat dari Pemkab Bantul untuk melindungi masyarakat. Status tanggap darurat ini berlaku mulai 21 November hingga 5 Desember mendatang.
Advertisement
Advertisement
Bupati Abdul Halim Muslih menjelaskan bahwa penetapan tanggap darurat ini berlaku selama 14 hari. Masa ini dimulai sejak 21 November dan akan berakhir pada 5 Desember. Keputusan ini diambil setelah rapat darurat bersama berbagai pihak terkait di Bantul.
Selama periode 14 hari tersebut, prioritas utama pemerintah adalah penyelamatan nyawa dan warga yang terdampak. Termasuk juga mereka yang rawan terkena bencana hidrometeorologi menjadi fokus utama. Pemkab Bantul berkomitmen penuh dalam penanganan ini.
Jika masa tanggap darurat dirasa tidak cukup untuk penanganan, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan melakukan perpanjangan. Hal ini untuk memastikan semua kebutuhan penanganan bencana terpenuhi secara optimal. Pemkab Bantul siap mengambil langkah lanjutan.
Advertisement
Advertisement
Dalam masa tanggap darurat ini, Pemkab Bantul telah membangun dua posko utama. Posko tersebut berlokasi di Sompok Sriharjo dan Kedungjati Selopamiro, Imogiri. Posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi bantuan dan logistik bagi warga terdampak.
“Pendek kata dalam tanggap darurat ini fokus utamanya adalah keselamatan nyawa, keselamatan jiwa,” tegas Bupati Abdul Halim Muslih. Ia menambahkan bahwa posko logistik harus memastikan tidak ada warga yang kelaparan atau kekurangan kebutuhan dasar sehari-hari.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada Jumat, 21 November, sekitar pukul 15.30 WIB cukup parah. Di Dusun Wunut, Sriharjo, terjadi tanah longsor pada talud Sungai Oya sepanjang 100 meter dengan kedalaman lima meter. Kejadian ini berdampak signifikan pada infrastruktur.
Advertisement
Longsor tersebut mengakibatkan akses jalan penghubung antara Dusun Wunut dan Sompok terputus total. Pemerintah daerah harus menjamin keselamatan dan keamanan masyarakat yang terdampak. Tahap berikutnya setelah tanggap darurat adalah rekonstruksi sarana prasarana yang rusak.
Sumber: AntaraNews