Pelatihan grafir kayu tahap kedua yang diselenggarakan oleh tim pengabdian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta telah sukses dilaksanakan. Kegiatan ini ditujukan khusus bagi anggota UMKM Avta Mandiri, sebuah kelompok usaha yang beranggotakan penyandang disabilitas di Yogyakarta. Inisiatif ini menandai langkah signifikan menuju kemandirian ekonomi bagi para pelaku usaha di sektor desain dan kerajinan kayu.
Program pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu teknis, melainkan sebuah simbol keberanian dan harapan baru. Ketua Tim Pengabdian ISI Yogyakarta, Nandang Septian, menegaskan bahwa teknologi bukan lagi penghalang, melainkan jembatan utama menuju kemandirian. Setiap goresan yang dihasilkan dari mesin grafir menyimpan kisah perjuangan dan potensi inspirasi bagi banyak pihak.
Berlangsung di Yogyakarta, pelatihan ini berfokus pada penguasaan teknik grafir kayu digital yang lebih mendalam. Para peserta, yang sebagian besar adalah penyandang disabilitas, diajak untuk menyempurnakan keterampilan yang telah mereka peroleh sebelumnya. Tujuannya adalah untuk memperkuat kapasitas UMKM Avta Mandiri agar mampu menghasilkan karya profesional dan bersaing di pasar.
Advertisement
Advertisement
Meningkatkan Keterampilan dan Kepercayaan Diri Melalui Teknologi
Pelatihan grafir kayu tahap kedua ini secara spesifik dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis para anggota Avta Mandiri. Jika sebelumnya mesin grafir dianggap asing, kini tombol-tombol di layar monitor telah menjadi akrab bagi mereka. Proses pembelajaran ini tidak hanya melatih aspek teknis, tetapi juga menumbuhkan kesabaran dan semangat kerja sama di antara peserta.
Nandang Septian, Ketua Tim Pengabdian ISI Yogyakarta, menekankan pentingnya keberanian dalam menghadapi teknologi. "Pelatihan tahap kedua itu menjadi simbol keberanian baru bagi Avta Mandiri, bahwa teknologi bukan penghalang, melainkan jembatan menuju kemandirian," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa setiap hasil grafir adalah bukti dari perjuangan dan kemauan untuk terus maju.
Amanda Amalia, salah satu pendamping pelatihan, turut mengamati perkembangan peserta. Ia menyatakan bahwa proses ini melatih bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga aspek kesabaran dan kolaborasi. Para peserta terlihat antusias mengatur kecepatan mesin dan mengamati detail hasil grafir yang semakin halus dari waktu ke waktu.
Advertisement
Advertisement
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Data dan Kemandirian
Pendekatan unik dalam pelatihan ini melibatkan pencatatan data dari setiap sesi percobaan grafir. Ayunda Regina, mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, berperan aktif dalam mendokumentasikan hasil ini. "Kami membuat catatan kecil dari setiap sesi. Misalnya, kecepatan 80 persen lebih baik untuk kayu mahoni. Dari sini, peserta belajar membaca data sendiri," jelas Ayunda.
Metode ini memungkinkan peserta Pelatihan Grafir Kayu Disabilitas untuk memahami karakteristik material dan pengaturan mesin secara lebih mendalam. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga mengembangkan pemahaman analitis. Kemampuan membaca data ini menjadi bekal penting untuk inovasi dan peningkatan kualitas produk di masa depan.
Sukamto, Ketua Avta Mandiri, mengamati peningkatan signifikan pada anggotanya. Ia melihat bahwa kemampuan mereka terus meningkat setiap minggunya. "Setiap minggu kemampuan mereka meningkat. Sekarang, saya lebih sering mengamati saja karena mereka sudah bisa bekerja mandiri," kata Sukamto, menunjukkan keberhasilan program dalam membangun kemandirian.
Advertisement
Advertisement
Inspirasi dan Bukti Karya Profesional dari Disabilitas
Bagi para peserta, pelatihan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menguasai teknik grafir. Hari, seorang anggota penyandang disabilitas daksa, mengungkapkan perasaannya. "Saya jadi merasa berguna. Setiap hasil grafir yang keluar dari mesin ini seperti membuktikan bahwa kami juga bisa menghasilkan karya profesional," ujarnya dengan bangga.
Pernyataan Hari mencerminkan dampak positif pelatihan terhadap kepercayaan diri dan harga diri para peserta. Mereka tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga membuktikan potensi dan kemampuan mereka kepada masyarakat luas. Ini adalah langkah penting dalam mengubah stigma dan menunjukkan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya.
Semangat untuk terus belajar, bekerja, dan berkarya bersama menjadi inti dari program ini. ISI Yogyakarta dan Avta Mandiri telah menciptakan sebuah platform di mana teknologi dan seni berpadu untuk memberdayakan. Kisah perjuangan mereka diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak menyerah pada keterbatasan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews