Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) segera membentuk tim investigasi komprehensif. Tim ini akan menyelidiki secara menyeluruh dugaan kerusakan terumbu karang akibat kandasnya kapal wisata KM Prestige Voyager. Insiden ini terjadi di perairan Pulau Aroborek, Kabupaten Raja Ampat, pada Selasa (13/1/2026).
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan ekosistem laut di kawasan wisata bahari kelas dunia tersebut tetap aman dan terlindungi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, menegaskan pentingnya respons cepat. Informasi awal mengenai kejadian ini justru diperoleh dari pemberitaan media, bukan laporan langsung dari lapangan.
Meskipun demikian, tindak lanjut pasti akan dilakukan sama seperti sebelumnya setiap kejadian kapal menabrak atau kandas di atas terumbu karang di Raja Ampat. Penanganan insiden tidak hanya berfokus pada keselamatan penumpang, tetapi juga harus menjamin perlindungan lingkungan laut Raja Ampat yang dikenal memiliki terumbu karang terbaik di dunia dan menjadi habitat ribuan spesies ikan.
Advertisement
Advertisement
Pembentukan Tim Investigasi dan Koordinasi Lintas Sektor
DLHKP Provinsi Papua Barat Daya akan berkoordinasi erat dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Raja Ampat. Koordinasi ini sangat penting untuk memastikan proses penanganan lingkungan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Proses investigasi dan penanganan lingkungan juga melibatkan berbagai instansi terkait. Instansi tersebut meliputi Dinas Perhubungan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pariwisata, serta mitra konservasi.
Laporan awal dampak lingkungan secara teknis akan disusun oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Raja Ampat. DLHKP Provinsi Papua Barat Daya akan memberikan pendampingan penuh dalam proses tersebut.
Advertisement
Advertisement
Insiden Berulang dan Kebutuhan Aturan Pelayaran Ketat
Julian Kelly Kambu mengungkapkan bahwa insiden kapal wisata yang menabrak atau kandas di atas terumbu karang bukan kali pertama terjadi di Raja Ampat. Hal ini menunjukkan adanya pola berulang yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Ia mendorong adanya rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk merumuskan aturan pelayaran yang lebih ketat di kawasan wisata bahari. Harus ada kesepakatan bersama mengenai apakah kapal wisata masih boleh berlayar di spot tertentu. Pembatasan khusus mungkin diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terus berulang.
Kelly menilai masih terdapat indikasi lemahnya komunikasi dan koordinasi lintas instansi dalam pengawasan pelayaran di Raja Ampat. Ke depan, pengawasan di kawasan konservasi laut tersebut harus diperkuat secara berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Kandasnya KM Prestige Voyager
KM Prestige Voyager kandas di perairan Pulau Aroborek pada Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 17.30 WIT. Kapal tersebut mengangkut 19 wisatawan asal Tiongkok, lima warga negara Indonesia, dan awak kapal.
Insiden terjadi saat kapal berupaya menghindari cuaca buruk dengan angin barat laut yang cukup kencang usai mengantar wisatawan menyelam di perairan Yanggefo. Dalam manuver mencari lokasi aman, kapal kandas di koordinat 0°30’902” LS dan 130°33’170” BT, tepat di perairan yang didominasi terumbu karang.
Kondisi air laut yang surut memperparah situasi hingga lambung kapal menyentuh dasar perairan. Upaya olah gerak dilakukan selama beberapa jam hingga kapal berhasil lepas sekitar pukul 22.30 WIT dan kemudian lego jangkar di area aman sebelum melanjutkan pelayaran menuju Sorong.
Advertisement
Advertisement
Penyelidikan Kerusakan Terumbu Karang
Kepolisian Resor Raja Ampat memastikan seluruh penumpang KM Prestige Voyager selamat dari insiden tersebut. Ini menjadi prioritas utama dalam penanganan awal kejadian.
Kasat Polair Polres Raja Ampat, Ipda Feni Maulana, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan lanjutan. Penyelidikan ini bertujuan untuk memastikan tingkat kerusakan terumbu karang di lokasi kejadian.
Anggota kepolisian masih melakukan pengecekan di dasar laut untuk melihat apakah ada terumbu karang yang terdampak. Proses penyelidikan saat ini masih berjalan untuk mengumpulkan data dan bukti yang akurat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews