Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah strategis untuk memperkuat pasar derivatif dan pasar modal Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui penerbitan dua peta jalan (roadmap) strategis untuk periode 2026-2030. Tujuan utamanya adalah pendalaman pasar keuangan, peningkatan perlindungan investor, serta mendorong investasi berkelanjutan.
Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah, menjelaskan pentingnya sinergi ini. Ia berharap tercipta kolaborasi kuat antara pengembangan instrumen keuangan dan perlindungan investor. Selain itu, penguatan pendanaan dan investasi berkelanjutan juga menjadi fokus utama.
Peta jalan ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Ini dilakukan dengan menciptakan pasar derivatif yang likuid, efisien, kredibel, dan berintegritas. Pada saat yang sama, peta jalan ini juga memperkuat peran pasar modal berbasis prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Advertisement
Advertisement
OJK menerbitkan Roadmap Pengembangan Pasar Derivatif Berlandaskan Instrumen Pasar Modal 2026-2030. Peta jalan ini bertujuan menciptakan pasar derivatif yang likuid dan efisien di Indonesia. Pasar derivatif ini juga diharapkan kredibel, berintegritas, serta mampu berperan sebagai instrumen penting dalam manajemen risiko.
Selain itu, pengembangan pasar derivatif juga krusial untuk pendalaman pasar keuangan nasional. Langkah ini menunjukkan komitmen OJK dalam menciptakan ekosistem keuangan yang lebih stabil dan maju. Peta jalan ini menjadi panduan strategis bagi seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, OJK juga meluncurkan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026-2030. Peta jalan ini secara khusus memperkuat peran pasar modal sebagai motor penggerak pendanaan dan investasi berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya aspek ESG.
Advertisement
Advertisement
Roadmap Pasar Derivatif OJK dibangun di atas empat pilar utama yang saling mendukung. Pilar-pilar ini mencakup penguatan perlindungan investor, harmonisasi, dan pengawasan intermediari. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan investasi yang aman dan terpercaya bagi seluruh pelaku pasar.
Pilar lainnya adalah pengembangan pasar serta efisiensi infrastruktur. Semua pilar ini didukung oleh berbagai enabler yang komprehensif. Enabler tersebut meliputi koordinasi lintas pemangku kepentingan, yang esensial untuk implementasi yang efektif.
Selain itu, penguatan pengaturan dan perizinan juga menjadi bagian krusial dari enabler ini. Peningkatan pengawasan, pelaporan, serta sosialisasi dan edukasi dilaksanakan secara bertahap. Ini dilakukan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang untuk memastikan keberlanjutan program.
Advertisement
Advertisement
Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026-2030 secara tegas fokus pada prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Pendekatan ini bertujuan mendorong pendanaan dan investasi yang bertanggung jawab. Hal ini juga mendukung pembangunan ekonomi yang lebih hijau dan inklusif.
Pilar-pilar yang menyusun roadmap ini mencakup penguatan fondasi pasar modal berkelanjutan. Selain itu, penumbuhan aktivitas serta mendorong partisipasi dalam pasar modal berkelanjutan juga menjadi prioritas. Ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investor yang peduli terhadap dampak sosial dan lingkungan.
Kolaborasi antar pihak juga diperkuat untuk mendukung pengembangan pasar modal berkelanjutan secara menyeluruh. OJK mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat aktif dalam penyusunan Roadmap ini. Ini termasuk kementerian, lembaga, self-regulatory organization (SRO), asosiasi industri keuangan, pemangku kepentingan lainnya, serta mitra pembangunan seperti Asian Development Bank (ADB).
Advertisement
Advertisement
Pasar modal Indonesia telah memiliki beragam produk pendanaan dan investasi berkelanjutan yang terus berkembang. Per Desember 2025, total akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan telah mencapai Rp74,14 triliun (4,43 miliar dolar AS). Angka ini menunjukkan potensi besar pasar modal berkelanjutan.
Melalui implementasi roadmap ini, OJK memproyeksikan peningkatan signifikan pada akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan. Pertumbuhan rata-rata diproyeksikan sebesar 55,11 persen per tahun. Proyeksi ini mencerminkan optimisme OJK terhadap instrumen investasi berbasis ESG.
Produk investasi dalam bentuk reksa dana berbasis ESG juga hadir di pasar modal Indonesia. Nilai assets under management (AUM) mencapai Rp9,98 triliun (596,96 juta dolar AS) per Desember 2025. Produk reksa dana berbasis ESG melalui roadmap ini diproyeksikan dapat tumbuh rata-rata sebesar 14,36 persen per tahun.
Advertisement
Pasar modal Indonesia juga telah memiliki berbagai indeks berbasis ESG. Indeks-indeks ini antara lain SRI-KEHATI, IDX ESG Leaders, ESG Sector Leaders IDX KEHATI, ESG Quality 45 IDX KEHATI, dan IDX LQ45 Low Carbon Leaders. Indeks-indeks ini digunakan sebagai acuan penting dalam pengambilan keputusan investasi dengan mempertimbangkan kinerja keuangan dan aspek ESG.
Sumber: AntaraNews