Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta memperkirakan proyek Normalisasi Kali Krukut di wilayah Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, akan menelan biaya sekitar Rp344 miliar. Anggaran fantastis ini dialokasikan khusus untuk pembebasan lahan yang terdampak rencana pembangunan tersebut. Pembebasan lahan menjadi langkah krusial sebelum dimulainya pekerjaan fisik.
Sekretaris Dinas SDA DKI Jakarta, Nugraharyadi, menjelaskan bahwa lahan yang akan dibebaskan mencapai 1,67 hektare, meliputi 75 bidang tanah. Estimasi biaya yang tinggi ini disebabkan oleh lokasi tanah di sana yang memang memiliki nilai jual sangat mahal. Pernyataan ini disampaikan dalam siniar "Upaya Mitigasi Supaya Curah Hujan Tinggi Teratasi" yang dipantau di Jakarta.
Proyek Normalisasi Kali Krukut ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda sebagian wilayah Jakarta Selatan. Kali Krukut sendiri merupakan salah satu saluran utama yang vital dalam mengalirkan air hujan dari kawasan tengah kota menuju hilir. Rencana ini sudah lama dinantikan oleh warga terdampak banjir.
Advertisement
Advertisement
Estimasi biaya sebesar Rp344 miliar untuk pembebasan lahan Normalisasi Kali Krukut menunjukkan komitmen serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dana ini akan digunakan untuk mengakuisisi 75 bidang tanah dengan total luas 1,67 hektare. Harga tanah yang tinggi di lokasi tersebut menjadi faktor utama pembengkakan anggaran.
Nugraharyadi menegaskan bahwa proses pendataan lahan sudah dilakukan di Kelurahan Petogogan, salah satu wilayah terdampak. Sementara itu, untuk wilayah Pela Mampang, pendataan masih dalam tahap penyelesaian. "Sesuai dengan arahan Pak Gubernur untuk bisa segera melakukan pembebasan di sana dan melaksanakan pembangunan fisik di sana," ujarnya.
Pembebasan lahan ini merupakan tahapan awal yang sangat penting sebelum proyek fisik Normalisasi Kali Krukut dapat dimulai. Tanpa pembebasan lahan yang tuntas, pekerjaan konstruksi tidak akan bisa dilaksanakan secara optimal. Proses ini memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat pemilik lahan.
Advertisement
Advertisement
Kali Krukut, meskipun berfungsi sebagai saluran utama, seringkali menjadi penyebab banjir di Jakarta Selatan, khususnya di kawasan Kemang dan Mampang. Hal ini terjadi karena di beberapa titik, terutama di sekitar Kelurahan Petogogan, kondisi aliran Kali Krukut mengalami penyempitan. Penyempitan ini menghambat laju air saat curah hujan tinggi.
Selain penyempitan alami, banyak bangunan yang berdiri di atas badan sungai juga turut memperparah kondisi. Keberadaan bangunan-bangunan ini secara signifikan menghambat aliran air, sehingga menyebabkan genangan. Kondisi ini membuat kawasan seperti Kemang menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.
Normalisasi Kali Krukut akan dilakukan sepanjang total 1,3 kilometer, meliputi Kelurahan Petogogan dan Pela Mampang. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mengurangi dampak banjir, terutama di Kemang dan Mampang. "Kami mencoba menciptakan kondisi yang ideal agar aliran air lebih normal, karena banyak sekali hambatan-hambatan di sana yang menyebabkan terjadinya genangan pada saat terjadinya hujan," kata Nugraharyadi.
Advertisement
Advertisement
Proses Normalisasi Kali Krukut dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026. Pada tahap awal, fokus akan diberikan pada penetapan lokasi (penlok) dan pembebasan lahan yang terdampak. Tahapan ini sangat krusial untuk memastikan kelancaran proyek di kemudian hari.
Rencana Normalisasi Kali Krukut sebenarnya telah digagas lebih dari sepuluh tahun lalu, namun belum juga terealisasi. Gubernur sebelumnya, Pramono, saat meninjau langsung kondisi Kali Krukut pada Jumat (7/11), telah menunjukkan tekad untuk melaksanakan rencana tersebut. Ini menunjukkan bahwa proyek ini adalah prioritas yang tertunda.
Dengan dimulainya proyek ini pada 2026, diharapkan permasalahan banjir di Jakarta Selatan dapat teratasi secara signifikan. Upaya mitigasi ini adalah bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menghadapi tantangan curah hujan tinggi dan perubahan iklim. Kesuksesan proyek ini akan sangat bergantung pada efektivitas pembebasan lahan dan pelaksanaan konstruksi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews