Navaswara Perkuat Literasi Budaya Lewat Festival Suara Nusantara, Banten Jadi Lokasi Kedua

Kegiatan storytelling memiliki manfaat dalam membentuk karakter dan meningkatkan kemampuan komunikasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Navaswara Perkuat Literasi Budaya Lewat Festival Suara Nusantara, Banten Jadi Lokasi Kedua
Navaswara Perkuat Literasi Budaya Lewat Festival Suara Nusantara, Banten Jadi Lokasi Kedua (Merdeka.com)

Navaswara kembali menggelar Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi budaya dan pelestarian cerita rakyat Indonesia. Setelah pertama kali digelar di Jakarta pada November 2025, Banten dipilih menjadi lokasi kedua penyelenggaraan program tersebut.

Babak final Suara Nusantara Banten 2026 berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, beberapa waktu lalu. Kegiatan itu diikuti sekitar 500 peserta mulai dari tingkat sekolah dasar hingga kategori umum.

Ketua panitia pelaksana Suara Nusantara sekaligus Managing Director Navaswara, Cahaya Manthovani, mengatakan pemilihan Banten didasarkan pada pertimbangan strategis dan kedekatan wilayah dengan Jakarta.

"Secara bisnis, Banten adalah daerah yang paling logis untuk menjadi lokasi kedua karena letaknya dekat dengan Jakarta. Melalui Suara Nusantara, saya justru melihat potensi luar biasa dari anak-anak hingga peserta umum di provinsi ini," ujar Cahaya dikutip Rabu (20/5).

Ia menilai antusiasme peserta di Banten cukup tinggi. Para peserta dinilai mempersiapkan penampilan dengan serius, mulai dari penguasaan materi, intonasi, gesture, hingga penggunaan kostum dan properti pendukung.

"Saya justru belajar banyak dari anak-anak yang tampil. Mereka mampu menghafal cerita selama tiga hingga tujuh menit, mengatur ekspresi, dan menarik perhatian audiens. Itu bukan hal yang mudah," katanya.

Menurut Cahaya, kegiatan storytelling memiliki manfaat dalam membentuk karakter dan meningkatkan kemampuan komunikasi.

"Mendongeng sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi untuk semua usia. Kegiatan ini melatih kita membaca, memahami, menghafal, dan menyampaikan cerita dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semakin sering berlatih, semakin percaya diri, dan manfaatnya bisa langsung dirasakan," ujarnya.

Festival tersebut juga mendapat apresiasi dari Gubernur Banten Andra Soni. Ia menilai storytelling dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai moral, meningkatkan literasi, dan membangun kepercayaan diri generasi muda.

"Budaya tutur adalah akar dari jati diri masyarakat Banten. Melalui Festival Suara Nusantara ini, kita tidak hanya mendengarkan cerita masa lalu, tetapi sedang menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada calon pemimpin masa depan," ujar Andra Soni.

Ia juga menilai kegiatan tersebut memiliki dampak terhadap sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

"Partisipasi masyarakat sangat tinggi. Kegiatan seperti ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan UMKM dan ekonomi lokal," katanya.

Cahaya turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Banten terhadap penyelenggaraan festival tersebut.

"Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Banten. Tanpa dukungan tersebut, acara ini tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik," kata Cahaya.

Ia menambahkan, Suara Nusantara dirancang sebagai gerakan literasi budaya yang akan menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Setelah Banten, Jawa Barat telah ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan berikutnya.

"Suara Nusantara pasti akan menjadi agenda rutin. Setelah Banten, kami akan melanjutkan ke Jawa Barat. Kami juga terbuka terhadap masukan dari masyarakat mengenai daerah-daerah lain yang ingin menjadi tuan rumah berikutnya," tuturnya.

Empat Kategori

Festival ini terbagi dalam empat kategori, yakni Benih Nusantara untuk tingkat SD/MI, Tunas Nusantara untuk SMP/MTs, Kuntum Nusantara untuk SMA/SMK, serta Ranting Nusantara untuk mahasiswa dan umum.

Gandeng Sejumlah Mitra

Kegiatan tersebut didukung sejumlah mitra, antara lain Bank Negara Indonesia, PLN, Astra International, Bank Indonesia, Frisian Flag Indonesia, dan Mayora Indah.

"Cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai moral, keberanian, dan identitas bangsa. Tugas kita adalah memastikan warisan ini tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan," tutur Cahaya.

Rekomendasi