Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nasib miris anak kanker Aceh kerap luput dari perhatian pemerintah

Nasib miris anak kanker Aceh kerap luput dari perhatian pemerintah Anak penderita kanker di Aceh. ©2017 Merdeka.com/Afif

Merdeka.com - Hujan rintik-rintik mengiringi pertemuan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tgk Muharuddin dengan para bocah penderita kanker di rumah singgah anak kanker Aceh C Four. Tampak seorang bocah berusia 5 tahun masih tengah sibuk bermain, lari tanpa arah tujuan, bahkan nyaris terjatuh. Sesekali dia berhenti, lalu memegang mata sebelah kirinya tengah diperban.

Bocah itu bernama Saldi Firmansyah berasal asal Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, penderita kanker retinablastoma (kanker mata). Sehingga bola matanya harus diangkat.

Sedangkan dalam rumah, di ruangan tengah ada dua anak sedang berbaring di kasur. Keduanya juga menderita kanker, bahkan kakinya telah diamputasi dan keduanya harus menggunakan Walking Stick (alat bantu berjalan) untuk bisa berjalan.

Anak itu adalah Amin Rais (18) berasal dari Blangkejeren, Aceh Tenggara dan Leini (17) asal Kabupaten Singkil. Keduanya menderita kanker osteosarcoma (kanker tulang) dan telah berulang kali menjalani kemoterapi. Amin Rais bahkan kepalanya sudah plontos, tidak berambut lagi.

Rabu (18/1) sore itu, rumah singgah anak kanker Aceh kedatangan tampak begitu ramai dengan kehadiran Muharuddin. Amin Rais dan Leini juga ikut bergabung bersama Tgk Muharuddin. Setelah bersalaman, keduanya duduk berdampingan dengan orang nomor satu di DPRA itu. Sedangkan Saldi, duduk dalam pangkuan politisi Partai Aceh itu.

"Ini ada yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) satu orang," kata Ketua C Four Aceh, Ratna Eliza.

Di depan orang nomor satu di DPRA, Ratna Eliza berkisah bagaimana dia tergerak hatinya membantu anak kanker Aceh. Padahal, dirinya bukan asli Aceh, melainkan asal Palembang. Tetapi niatnya tetap suci meringankan beban derita anak kanker keluar miskin.

Tangis Eliza pun pecah ketika menceritakan perjuangan membantu para anak di Aceh penderita kanker. Suaranya semakin parau, dan terkadan terdiam sejenak lalu melanjutkan kisah para anak kanker Aceh. Kesedihan itu lantaran Eliza merasa para anak dirawatnya terbaikan dan luput dari perhatian pemerintah.

Kondisi rumah dihuni para anak kanker di bawah binaan relawan dari C Four Aceh jauh dari sempurna. Hanya ada dua kamar dan dua ruangan keluarga ukuran 3 x 3 meter. Ini akan terasa semakin sesak ketika banyak anak harus mengikuti pengobatan kemoterapi.

Padahal setiap bulannya, C Four menerima anak kanker keluarga miskin bisa mencapai tiga sampai lima orang. Bahkan tak jarang rumah ini menjadi sempit karena keterbatasan ruangan. Namun, relawan C Four tak pernah patah arang, tetap bersemangat melayani anak-anak Aceh yang menderita kanker itu.

Tak jarang, Ratna Eliza harus merogohkan koceknya sendiri untuk membiaya akomodasi keluarga anak kanker itu. "Bahkan sampai makan keluarga pasien kami tanggung, termasuk kadang ongkos transportasi saya kirim, bahkan saya gunakan uang pribadi saya," jelas Ratna yang hanya berprofesi staf administrasi di SMU Labschool Unsyiah.

Muharuddin mendengar masukan disampaikan Ratna Eliza. Kata dia, ini menjadi pertimbangan sendiri bagi dirinya, agar anak kanker nantinya bisa terlayani dengan baik. "Masukan tadi luar biasa supayakan menjadi catatan khusus dan serius, di mana setiap tahunnya terjadi peningkatan anak kanker di Aceh," kata Tgk Muharuddin.

Tgk Muharuddin berjanji akan memperjuangkan apa saja dibutuhkan para anak kanker Aceh yang orang tuanya miskin. Terutama memberikan pelayanan baik, agar anak terjangkit kanker bisa disembuhkan.

“Ini masukan tadi luar biasa dan ini menjadi catatan khusus bahwa hal ini sangat serius harus ada penangan yang baik, di mana setiap tahunnya terjadi peningkatan anak kanker di Aceh,” kata Tgk Muharuddin.

Dia juga berjanji akan membawa persoalan ini dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), untuk mencari solusi yang terbaik. Memang selama ini, sebutnya, untuk pengobatan sudah ditanggung oleh pemerintah melalui program Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA).

“Akan tetapi untuk biaya hidup keluarga pasien yang menjaga kan tidak, seperti ini ada keluarga pasien yang miskin,” tukasnya.

Selain itu yang menjadi perhatian Tgk Muharuddin adalah sosialisasi pencegahan yang jauh lebih penting. Harus diberikan pemahaman kepada anak-anak dan orang tuanya, agar mengonsumsi makanan yang sehat dan menghindari makanan siap saji yang berpotensi terjadi kanker.

Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) siapapun yang memimpin Aceh ke depan. Agar pemerintah bisa melakukan pencegahan, anak-anak perlu diberi pemahaman yang utuh. Sehingga bisa memproteksi diri. Tidak membeli jajanan yang tidak sehat. Sosialisasi salah satu bentuk pencegahan kanker itu sendiri.

(mdk/ang)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP