Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta secara resmi mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi merebaknya penyakit di musim pancaroba. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi dini guna menekan angka kasus penyakit menular yang kerap meningkat selama periode transisi musim. Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menekankan pentingnya kesadaran kolektif.
"Sebagai langkah antisipasi munculnya penyakit musim pancaroba, kami telah menyebarkan surat imbauan kewaspadaan untuk disampaikan kepada semua lapisan masyarakat dan juga organisasi perangkat daerah (OPD) agar selalu waspada dalam melakukan aktivitas," kata Endang Sri Rahayu di Yogyakarta, Selasa.
Tiga penyakit utama yang menjadi fokus perhatian adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, dan Influenza, yang seringkali muncul dan menyebar dengan cepat di musim pancaroba. Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan pencegahan, serta tidak menunda pemeriksaan medis jika merasakan tanda-tanda penyakit.
Advertisement
Advertisement
Musim pancaroba seringkali diidentikkan dengan peningkatan kasus penyakit menular karena perubahan cuaca yang ekstrem memicu perkembangbiakan vektor penyakit dan melemahnya daya tahan tubuh. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta secara khusus menyoroti tiga penyakit yang paling rentan menyerang, yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, dan Influenza. Pemahaman akan gejala dan cara penularannya menjadi kunci utama dalam pencegahan.
Untuk kasus leptospirosis, masyarakat perlu mewaspadai gejala awal yang seringkali terabaikan. "Masyarakat harus tahu, jika mereka mulai merasa tidak nyaman, terutama nyeri pada bagian betis, kemudian demam dan mata memerah, harus segera diobati, periksa ke rumah sakit, karena itu gejala awal dari leptospirosis," jelas Endang Sri Rahayu. Deteksi dini sangat krusial, sebab penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang kesembuhan.
Sementara itu, DBD tetap menjadi ancaman serius yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti, dan influenza yang mudah menyebar melalui droplet. Pencegahan terhadap ketiga penyakit ini memerlukan kombinasi upaya personal dan komunal. Kesadaran akan lingkungan sekitar dan kebersihan diri menjadi benteng pertahanan pertama.
Advertisement
Advertisement
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tidak tinggal diam dalam menghadapi potensi wabah penyakit pancaroba. Berbagai program dan imbauan telah digulirkan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya pencegahan. Salah satunya adalah kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta melalui program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) guna mengelola sampah dengan baik.
Selain itu, untuk mencegah DBD, Dinkes memperkuat pelaksanaan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) yang melibatkan seluruh anggota keluarga sebagai juru pemantau jentik di rumah masing-masing. Program ini mendorong partisipasi aktif setiap individu dalam memberantas sarang nyamuk di lingkungan terdekat mereka.
Masyarakat juga diimbau untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menerapkan 3M Plus. Ini meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penampungan air, dan mendaur ulang atau memilah sampah yang masih bisa dipakai. "Plus" dari 3M ini termasuk menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender, serai, atau geranium, serta menggunakan kranisasi pada penampungan air.
Advertisement
Langkah pencegahan umum lainnya yang terus digalakkan adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) saat melakukan kegiatan tertentu, serta kebiasaan mencuci tangan dan kaki menggunakan air mengalir. Edukasi dan pembinaan terus dilakukan ke berbagai wilayah dan organisasi perangkat daerah.
Advertisement
Untuk memantau penyebaran penyakit dan mengidentifikasi tren secara dini, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga melakukan upaya surveilans yang komprehensif. Ketua Tim Kerja Surveilans Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana, menjelaskan bahwa surveilans dilakukan dengan mengambil sampel dari puskesmas yang ditunjuk, salah satunya Puskesmas Danurejan 1.
"Sampel ini diamati memang untuk dilihat persebarannya, dilihat seberapa tinggi persen nya, dan ini menjadi bagian dari upaya kita untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular," ujar Sholikhin. Pemantauan ini bertujuan untuk menjaga dan mengendalikan penyebaran penyakit secara efektif di wilayah Kota Yogyakarta.
Berdasarkan hasil pemantauan di Puskesmas Danurejan 1, kasus influenza paling banyak teridentifikasi pada tipe A. Untuk pencegahan influenza, Sholikhin Dwi Ramtana menyarankan langkah-langkah yang mirip dengan pencegahan COVID-19. Ini termasuk menjaga jarak dengan individu yang sudah terpapar, selalu memakai masker, rajin mencuci tangan dengan air mengalir, dan menghindari tempat-tempat yang berpotensi menjadi sumber paparan penyakit.
Advertisement
Upaya kolektif dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat menekan angka kasus penyakit pancaroba dan menjaga kesehatan warga Kota Yogyakarta. Kewaspadaan dan tindakan preventif adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan kesehatan di musim transisi ini.
Sumber: AntaraNews