Advertisement
Musibah bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor melanda beberapa wilayah di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada akhir November 2025. Meskipun demikian, Museum Rumah Kelahiran Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal sebagai Buya Hamka, yang berlokasi di Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dilaporkan aman dari dampak langsung bencana tersebut. Kondisi ini memberikan sedikit kelegaan di tengah upaya pemulihan daerah yang terdampak.
Menurut keterangan Wali Nagari Sungai Batang, Ahsin, pada Jumat (2/1), museum tersebut tidak mengalami kerusakan fisik akibat bencana. Lokasi terdekat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor berada sekitar 2-3 kilometer dari area museum. Daerah yang parah terdampak bencana adalah Jorong Nagari, Labuah, dan Kubu, sementara museum berada di Jorong Batuang Panjang yang hanya terdapat lahan pertanian.
Meski bangunan utama Museum Buya Hamka aman, akses jalan menuju lokasi sempat terputus akibat timbunan tanah longsor dan kerusakan infrastruktur. Beberapa titik jalan di Bancah, Tumayo, dan Rambun mengalami kerusakan parah, termasuk jembatan yang terban. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam segera bertindak cepat untuk memulihkan aksesibilitas, memastikan museum tetap dapat dijangkau oleh pengunjung di kemudian hari.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Agam bergerak cepat merespons putusnya akses jalan menuju Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan memperbaiki infrastruktur yang rusak. Ruas jalan dari Muko-Muko menuju Sungai Batang kini sudah bisa dilalui kendaraan, menunjukkan progres positif dalam upaya pemulihan aksesibilitas.
Selain itu, perbaikan jalan terban dari Maninjau menuju Sungai Batang juga telah selesai dilakukan di satu titik. Saat ini, fokus perbaikan beralih ke dua jembatan yang rusak, dengan proses pemasangan jembatan armco sedang berlangsung. Upaya ini diharapkan dapat segera mengembalikan kelancaran lalu lintas dan memudahkan kunjungan ke Museum Buya Hamka.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Agam, Kazman Zaini, menyoroti daya tarik Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka sebagai destinasi wisata unggulan. Museum ini tidak hanya menarik wisatawan nusantara, tetapi juga mancanegara, seperti dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Keamanan dan aksesibilitas museum menjadi kunci untuk terus menarik minat pengunjung.
Advertisement
Advertisement
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka mulai dibangun pada tahun 2000 dan diresmikan setahun kemudian, pada tahun 2001, oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Zainal Bakar. Bangunan museum ini merupakan rumah asli yang ditempati oleh Buya Hamka sejak kelahirannya hingga sebelum beliau pindah ke Padang Panjang. Hal ini menjadikan museum sebagai saksi bisu perjalanan hidup salah satu tokoh besar Indonesia.
Sebagai museum yang mengkhususkan diri pada koleksi benda-benda peninggalan Buya Hamka, tempat ini menjadi pusat informasi penting mengenai kehidupan dan karya beliau. Pengunjung dapat menelusuri jejak sejarah Buya Hamka melalui berbagai artefak yang dipamerkan, memberikan pengalaman edukatif yang mendalam.
Secara geografis, museum ini terletak pada ketinggian sekitar lima meter dari jalan raya sekitarnya, dengan posisi menghadap ke arah barat atau Danau Maninjau. Pemandangan indah Danau Maninjau menjadi latar belakang yang menawan bagi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Arsitektur bangunan mengadopsi gaya Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau, lengkap dengan atap bergonjong dan hiasan ukiran khas Minang, menambah nilai estetika dan budaya museum.
Advertisement
Sumber: AntaraNews