Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan agar penanganan bencana alam di Indonesia harus mengedepankan faktor kemanusiaan yang lebih partisipatif dan berkeadilan. Seruan ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 2025-2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana MUI, Nusron Wahid, menjelaskan bahwa sejarah bangsa ini menunjukkan setiap bencana selalu memanggil negara dan rakyat untuk hadir bersama. Sejak masa Presiden Soekarno, bencana dimaknai sebagai ujian persatuan dan panggilan gotong royong bagi seluruh elemen masyarakat.
Nusron menegaskan bahwa kesinambungan sejarah tersebut kini dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, partisipatif, dan berkeadilan. Ia mengutip karya Sumitro Djojohadikusumo yang menekankan bahwa pembangunan sejati harus memanusiakan manusia, serta negara bertanggung jawab melindungi rakyat, terutama mereka yang paling rentan, agar mampu bangkit secara bermartabat dalam setiap musibah.
Advertisement
Advertisement
Dalam konteks era modern, MUI mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang senantiasa memperkuat kehadiran negara dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan penanganan bencana. Presiden Prabowo juga menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan terkait mitigasi dan respons bencana.
Nusron Wahid secara khusus menyoroti langkah konkret Presiden Prabowo yang telah mencabut izin 28 perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini terbukti melanggar dan merusak lingkungan, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya banjir di berbagai wilayah.
Tindakan tegas ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengatasi akar masalah bencana alam yang seringkali disebabkan oleh eksploitasi lingkungan. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi risiko bencana di masa mendatang serta melindungi masyarakat dari dampak yang lebih parah.
Advertisement
Advertisement
Kegiatan Pengukuhan dan Ta’aruf Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 2025-2030 turut dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto beserta sejumlah tokoh penting lainnya. Presiden Prabowo tiba di lokasi acara sekitar pukul 10.00 WIB, didampingi oleh beberapa anggota Kabinet Merah Putih.
Di antara para pendamping Presiden adalah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Presiden Prabowo, didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar, langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu. Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga terlihat hadir di barisan depan tempat para pimpinan MUI.
Acara ini juga dimeriahkan oleh kehadiran lebih dari 58.000 orang dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang memadati kompleks Masjid Istiqlal sejak pagi hari. Jamaah yang didominasi pakaian serba putih memenuhi ruang ibadah utama hingga lantai empat dan lima, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan tersebut.
Advertisement
Advertisement
Selain doa bersama dan pelantikan pengurus, acara tersebut juga menjadi momen penting untuk penyerahan simbolis bantuan. Bantuan ini ditujukan untuk rehabilitasi masjid dan 500 rumah marbot serta guru ngaji yang menjadi penyintas bencana di Sumatera.
Pada sesi yang sama, dilakukan peresmian pembentukan Moslem Disaster Rescue MUI. Peresmian ini ditandai dengan penyematan jaket secara simbolis oleh Ketua Umum didampingi Ketua Panitia.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas respons bencana berbasis komunitas. Selain itu, turut diserahkan sertifikat pengganti kepada warga terdampak bencana, sebagai bentuk dukungan konkret dalam pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan mereka.
Advertisement
Sumber: AntaraNews