Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

MUI sebut Damiri dan jemaahnya salat cuma 1 rakaat

MUI sebut Damiri dan jemaahnya salat cuma 1 rakaat Ilustrasi aliran sesat. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ajibarang menilai pembimbing pengajian di Desa Karang Bawang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Damiri tidak memiliki kepasitas dalam ilmu agama Islam. MUI Ajibarang berencana akan melakukan pembinaan untuk Damiri dan puluhan jemaahnya.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Ajibarang, Azuhdi Azhari menjelaskan ukuran Damiri tidak memiliki kepasitas dalam ilmu agama Islam sebab tidak lancar membaca bahasa Arab. Padahal Damiri mengajarkan tafsir Alquran pada puluhan jemaahnya. Justru yang jadi pegangan Damiri yakni 10 jilid kitab terjemahan untuk mengkaji Alquran, tanpa pengetahuan mendalam tentang bahasa Arab.

"Alquran terjemahan saja yang menjadi rujukan. Untuk hadis yang menjadi sunah juga tidak menjadi rujukan pendukung," ujarnya, Kamis (30/3).

Dari pengakuan Damiri, kejanggalan ibadah kata Azuhdi, terkait kewajiban salat lima waktu hanya dilakukan masing-masing satu rakaat. Adapun dalam gerakannya sebagian besar dari berdiri hingga sujud selalu mengatupkan tangan. Selain itu gerakan saat wudu juga berbeda dari ajaran Islam pada umumnya, tidak membasahi sebagian rambut dan telinga.

Azuhdi yang tinggal satu desa dengan Damiri di Desa Damakradenan, Kecamatan Gumilir, menambahkan sosok Damiri dinilainya tertutup di lingkungan rumahnya. Damiri jarang mengikuti kegiatan sosial seperti kerja bakti antar warga.

"Ia (Damiri) kesehariannya sebagai pedagang pakaian, kadang juga menganggur di rumah. Ke depan, MUI Ajibarang berencana akan melakukan pembinaan untuk Damiri dan jemaahnya," tuturnya.

Terpisah, jemaah Damiri yang kediamannya diajadikan tempat pengajian, Jamingan mengatakan ia pertama kali mengenal Damiri dari temannya. Kegiatan pengajian ia katakan dilakukan sejak akhir Desember 2016 bertempat di kediamannya di Desa Karang Bawang Ajibarang. Kegiatan pengajian ia katakana tafsir Alquran.

"Pak Damiri selaku pembimbing. Saya tak bisa menjelaskan apa-apa. Yang jelas saat ini kegiatan disetop. Intinya sudah tidak ada kegiatan pengajian," ungkapnya.

Seperti telah diberitakan, pada Rabu (29/3) dini hari, ratusan warga menggeruduk rumah Jamingan meminta pengajian dihentikan. Pengajian tersebut yang dilakukan secara tertutup diketahui meninggalkan tata cara ibadah janggal dan membawa dampak perubahan perilaku negatif para jemaah.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP