Muhammad Nazaruddin, politikus muda yang korupsi akhirnya dibui

Minggu, 27 Oktober 2013 16:01 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Muhammad Nazaruddin, politikus muda yang korupsi akhirnya dibui Nazaruddin diperiksa KPK. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Pria berperawakan langsing itu kerap mengumbar senyum kepada awak media jika diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Pernyataannya pun kerap menyulut perseteruan. Di usia muda, akalnya moncer kalau soal mencuri uang negara.

Namanya Muhammad Nazaruddin. Di usia 35 tahun, dia harus merasakan hidup di balik tembok penjara Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Istrinya, Neneng Sri Wahyuni, juga sebelas-dua belas. Dibui lantaran ikut korupsi.

Awalnya sebagai pengusaha di Pekanbaru, Riau, Nazaruddin mendirikan beberapa perseroan. Dia memang kerap mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Di kota itu pula dia bertemu dengan Neneng yang kemudian dinikahinya. Lantaran selalu sukses menggaet proyek, dia mulai melirik dunia politik.

Awalnya dia mencoba peruntungan menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tetapi usahanya kandas. Tak lama kemudian, dia merapat ke Partai Demokrat. Usahanya lantas berhasil. Dia lolos menjadi anggota DPR pada 2009.

Basis usahanya kemudian dipindahkan ke Jakarta. Dia pun mulai akrab dengan Anas Urbaningrum serta Saan Mustopa. Ketiganya pun menjadi sangat akrab. Dari situ, Nazaruddin mulai bertaji dan makin giat menggarap proyek-proyek pemerintah. Berbagai cara dia lakukan. Mulai dari menyuap anggota Dewan supaya menyetujui dan mengucurkan anggaran, hingga menyogok pejabat kementerian supaya proyek itu jatuh ke tangannya atau perusahaan rekanannya.

Cara kotor Nazaruddin bermain proyek mulai terendus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga antikorupsi itu curiga ada penyimpangan dalam pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang. Benar saja, KPK menangkap tangan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharram, Direktur Pemasaran PT Anugrah Nusantara sekaligus anak buah Nazaruddin, Mindo Rosalina Manulang, dan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah, Mohammad El Idris, saat sedang bertransaksi suap.

Tak lama kemudian, Nazaruddin dan Neneng kabur ke Singapura. Alasannya melakukan kontrol kesehatan. Maklum saja, saat itu KPK sudah membidik Nazaruddin. Tetapi, dia lolos dan pergi hingga Kolombia. Sementara Neneng memilih bersembunyi di Malaysia. Langkah Nazaruddin terhenti setelah tertangkap oleh Kepolisian Kolombia di Kota Cartagena. Neneng diciduk beberapa bulan kemudian saat kembali ke Jakarta. Keduanya lantas dibui dan diajukan ke meja hijau.

Dalam persidangan Nazaruddin terungkap fakta mengejutkan. Ternyata banyak proyek-proyek negara yang dikorupsi. Bukan hanya oleh dia, tapi juga politisi dan pejabat lain. Salah satunya proyek Hambalang. Kasus Hambalang pun akhirnya menyeret mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng, serta mantan anak buahnya, Deddy Kusdinar.

Bekas Direktur Operasional PT Adhi Karya, Teuku Bagus Muhammad Noor, juga jadi tersangka dalam perkara ini. Rekan sejawat Nazaruddin di Partai Demokrat, Angelina Patricia Pinkan Sondakh, juga sudah dibui dengan perkara yang berpotongan itu.

Menurut kabar, selain Wisma Atlet, ada 31 kasus korupsi lain menanti Nazaruddin. Miris memang melihatnya. Politikus muda yang diharapkan menjadi tumpuan perbaikan bangsa malah makin menjerumuskan negara ke jurang keterpurukan. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Korupsi
  2. Sumpah Pemuda
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini