Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, menyerukan umat Islam untuk memperbanyak ibadah saat terjadi fenomena Gerhana Bulan. Imbauan ini disampaikan di Makassar, menyoroti Gerhana Bulan sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Menurut H. Ali, Gerhana Bulan bukan sekadar peristiwa astronomi yang memukau mata, melainkan juga kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Momen langka ini menjadi pengingat akan kekuasaan ilahi yang patut disyukuri dengan amalan.
Kemenag Sulsel secara khusus mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat gerhana (khusuf) dan beragam amalan sunnah lainnya. Ajakan ini sejalan dengan imbauan dari Menteri Agama RI, KH. Nasaruddin Umar, yang disebarluaskan ke seluruh wilayah.
Advertisement
Advertisement
H. Ali Yafid menjelaskan, terdapat lima amalan sunnah utama yang sangat dianjurkan untuk dilakukan ketika Gerhana Bulan terjadi. Amalan-amalan ini bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan serta rasa syukur umat atas kebesaran Allah SWT.
Amalan pertama yang ditekankan adalah melaksanakan salat gerhana atau salat khusuf. Salat ini merupakan bentuk ibadah khusus yang dilakukan secara berjamaah maupun sendiri saat peristiwa Gerhana Bulan berlangsung, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Selain salat, bersedekah juga menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan di momen Gerhana Bulan dipercaya dapat melipatgandakan pahala.
Advertisement
Tiga amalan sunnah lainnya meliputi memperbanyak istighfar, yakni memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kekhilafan. Kemudian, umat juga dianjurkan untuk memperbanyak doa, memanjatkan harapan dan permohonan kepada-Nya dengan penuh kekhusyukan. Terakhir, memperbanyak amal saleh dalam berbagai bentuk kebaikan, seperti membantu sesama atau membaca Al-Qur'an, juga sangat ditekankan.
Advertisement
Imbauan untuk memperbanyak ibadah saat Gerhana Bulan disambut antusias oleh sebagian masyarakat Makassar. Mereka melihat fenomena Gerhana Bulan sebagai peristiwa langka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, baik dari sisi ilmiah maupun spiritual.
Seorang warga Makassar mengungkapkan bahwa Gerhana Bulan yang mungkin hanya terlihat setahun sekali atau bahkan beberapa tahun sekali sangat dinantikan. "Biasanya kalau di bawah pukul 10 malam semua beramai-ramai menunggu di teras rumah untuk melihat langsung proses gerhananya. Setelah itu, barulah melakukan shalat gerhana," ujarnya, menggambarkan kebersamaan dalam menyambut fenomena ini.
Namun, jika Gerhana Bulan terjadi di atas pukul 10 malam, antusiasme untuk menunggu di luar rumah mungkin berkurang. Masyarakat cenderung menunggu waktu salat tengah malam untuk sekaligus melaksanakan salat khusuf, menyesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan.
Advertisement
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak Gerhana Bulan untuk Waktu Indonesia Tengah (WITA) diperkirakan sekitar pukul 02:11 dini hari. Sementara itu, untuk Waktu Indonesia Barat (WIB) pada pukul 01:11 dan Waktu Indonesia Timur (WIT) pada pukul 03:11, memberikan informasi akurat bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews