Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Misi LBF kali ini meluruskan citra jorok Joget Bumbung Bali

Misi LBF kali ini meluruskan citra jorok Joget Bumbung Bali Tari Bumbung Bali. ©2014 Merdeka.com/Gede Nadijaya

Merdeka.com - Mengembalikan citra positif tari Joget Bumbung menjadi misi penting Legian Beach Festival (LBF) ke-8 yang digelar mulai Kamis (28/8) nanti. Rencananya acara ini akan mengambil ikon 'Tarian Joget Bumbung' untuk pengembalian citra buruk tentang joget.

Menurut Ketua LBF I Nyoman Sarjana, selama ini tarian Joget Bumbung dikenal jorok. Namun dalam ajang ini citra joget tersebut akan diluruskan. Bahkan pada ajang ini juga akan disumbangkan berbagai tarian daerah lainnya.

"Kami tidak mau, tari joget dikenal sebagai tari jorok atau dirty dance. Karena ada tari joget di-upload di Youtube, memang seperti itu. Ini kan hal yang tidak bagus sebenarnya bagi Bali yang merupakan daerah pariwisata berbudaya," kata Sarjana.

Tidak ragu, Sarjana pun mengaku sangat miris melihat fenomena ini. Sebagai pelaku dan pemerhati seni, Sarjana mengaku sangat berharap tari Joget yang mengarah tarian jorok, dihentikan saja. Sehingga tidak malah mencederai pariwisata Bali.

"Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara menghentikan? Satu-satunya langkah yakni perubahan mental. Salah satunya dengan menunjukkan tari joget yang sebenarnya," ujarnya.

Perbedaan sederhana antara tari joget sebenarnya dengan tari joget jorok, terletak pada cara menggoyangkan pinggul atau yang dikenal dengan sebutan ngengol. "Yang namanya tari Bali, itu ngengol-nya ke samping. Inilah pakem tari Bali. Bukannya ke depan ataupun muter," tuturnya.

Melalui LBF ini, lanjut Sarjana, akan diberikan pengetahuan kepada masyarakat luas, termasuk juga wisatawan mengenai tari joget sebenarnya. "Tari joget adalah tari pergaulan. Bukan tari jorok. Tari joget yang jorok itu bukan tari Bali. Mungkin itu terinspirasi dari dangdut, sehingga ngengolnya muter," ucap Sarjana.

Sementara itu, secara umum LBF yang digelar di sekitaran Pantai Legian nanti mengusung tema explore creativity. Ini dipandang langsung mendukung program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kami tidak muluk-muluk. Untuk kali ini, kunjungan kami targetkan pada angka tiga hingga lima ribu orang," ujarnya menegaskan.

Sebanyak 80 stand disiapkan dalam LBF yang digelar hingga Minggu (31/8) nanti. Ke-20 stand itu di antaranya, ditempati oleh masyarakat lokal Legian. Sementara sisanya, diisi oleh warga luar Legian, termasuk pula dari daerah-daerah luar Bali.

"Bisa dibilang, LBF telah sukses merangsang masyarakat lokal untuk menunjukkan diri. Ini terbukti, pada awal dilaksanakannya LBF, warga lokal enggan mengisi stand, padahal gratis. Tapi sekarang, antusiasnya berbeda, meningkat drastis," ujarnya.

Di samping itu, LBF juga disebut festival yang cukup efektif dalam hal promosi pariwisata nusantara. Buktinya, tidak sedikit peserta luar Bali yang berulang kali mendaftarkan diri untuk ikut berpartisipasi. (mdk/mtf)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP