Meskipun Libur Sekolah Usai, Makam Sunan Kudus Tetap Ramai Dipadati Ribuan Peziarah Setiap Hari

Makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah, masih menjadi magnet bagi ribuan peziarah dari berbagai daerah, bahkan setelah libur sekolah berakhir. Apa yang membuat destinasi religi ini tak pernah sepi?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Meskipun Libur Sekolah Usai, Makam Sunan Kudus Tetap Ramai Dipadati Ribuan Peziarah Setiap Hari
Makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah, masih menjadi magnet bagi ribuan peziarah dari berbagai daerah, bahkan setelah libur sekolah berakhir. Apa yang membuat destinasi religi ini tak pernah sepi? (Merdeka.com)

Kudus, Jawa Tengah - Makam Sunan Kudus yang berlokasi di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masih menjadi magnet kuat bagi ribuan peziarah dari berbagai penjuru tanah air. Fenomena ini terjadi meskipun periode libur sekolah telah usai, menunjukkan daya tarik spiritual yang tak lekang oleh waktu. Setiap harinya, destinasi wisata religi ini dipadati oleh pengunjung yang ingin berziarah dan mengambil berkah dari salah satu Wali Songo tersebut.

Menurut Deny Lukmanul Hakim, juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, jumlah peziarah harian bisa mencapai angka 2.000 orang. Angka ini bahkan bisa melonjak lebih tinggi saat libur sekolah, ketika banyak keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk berwisata religi bersama. Kepadatan ini juga diperkirakan karena bertepatan dengan momen bulan Maulud, yang seringkali dimanfaatkan oleh rombongan pengajian untuk berziarah.

Antusiasme peziarah tidak hanya datang dari kalangan lokal Kudus dan sekitarnya, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Jam operasional makam disesuaikan untuk mengakomodasi tingginya animo ini, dibuka mulai setelah shalat Subuh sekitar pukul 04:00 WIB hingga pukul 24:00 WIB. Namun, makam akan ditutup sementara saat memasuki bulan puasa, sehingga banyak peziarah memanfaatkan momen sebelum puasa untuk berkunjung.

Meskipun bukan lagi masa libur sekolah, kepadatan peziarah di Makam Sunan Kudus tetap terlihat jelas. Deny Lukmanul Hakim menjelaskan bahwa fenomena ini dimungkinkan karena banyak peziarah yang memanfaatkan momen bulan Maulud untuk melakukan ziarah. Pada hari biasa, jumlah pengunjung memang cenderung lebih sedikit, dengan dominasi warga lokal Kudus dan sekitarnya.

Peningkatan jumlah peziarah ini menunjukkan bahwa Makam Sunan Kudus memiliki daya tarik spiritual yang kuat sepanjang tahun. Peziarah tidak hanya datang dari kelompok pengajian, tetapi juga individu dan keluarga yang ingin merasakan atmosfer spiritual di makam salah satu penyebar agama Islam terkemuka di Jawa. Fleksibilitas jam operasional yang panjang, dari pukul 04:00 WIB hingga tengah malam, juga mendukung kenyamanan para peziarah.

Antusiasme ini juga terlihat dari persiapan khusus yang dilakukan oleh peziarah. Banyak yang sengaja datang sebelum bulan puasa untuk menghindari penutupan sementara makam. Hal ini seringkali menyebabkan lonjakan pengunjung yang signifikan pada periode tersebut, menunjukkan perencanaan matang dari para peziarah untuk dapat mengunjungi Makam Sunan Kudus.

Kepadatan peziarah di Makam Sunan Kudus juga berdampak langsung pada sektor transportasi di Kabupaten Kudus. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus, Edy Supriyanto, mengonfirmasi peningkatan jumlah bus yang masuk ke terminal wisata Krapyak. "Berkisar 50-an unit bus setiap harinya, terutama pada hari Sabtu dan Minggu," ujarnya, menambahkan bahwa pada hari biasa jumlahnya sekitar 20-an bus.

Peningkatan jumlah bus ini mulai terlihat sejak pertengahan Agustus 2025 dan terus berlanjut hingga saat ini. Edy Supriyanto memperkirakan bahwa keramaian ini salah satunya disebabkan oleh bertepatan dengan bulan Maulud, yang mendorong banyak rombongan pengajian atau masyarakat dari berbagai daerah untuk melakukan wisata ziarah. Ini menunjukkan bagaimana momen keagamaan memiliki pengaruh besar terhadap mobilitas peziarah.

Samingan, seorang peziarah asal Kulonprogo, Yogyakarta, membenarkan hal tersebut. Ia bersama rombongannya sengaja menjadwalkan ziarah ke beberapa makam wali, termasuk Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga Demak. "Kami sengaja berangkat di akhir pekan, agar semua anggota pengajian bisa berangkat karena libur kerja, sehingga yang ikut bisa 50-an orang," jelasnya. Perencanaan strategis ini memungkinkan banyak anggota rombongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ziarah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi