Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menyulap Limbah Suku Cadang Kendaraan Jadi Lebih Bernilai

Menyulap Limbah Suku Cadang Kendaraan Jadi Lebih Bernilai Hariyanto Pengrajin Limbah Suku Cadang di Malang. ©2022 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Aneka limbah suku cadang (spare part) kerap begitu saja dibuang oleh penyedia jasa service (bengkel) baik sepeda motor maupun mobil. Bengkel terkadang memilih menyerahkan kembali kepada pelanggannya yang baru mengganti spare partnya.

Karena memang harga jual limbah besi bekas spare part dinilai begitu murah. Barang-barang bekas seperti busi, kampas, dop lampu, dan lain-lain, tidak banyak bernilai dan terus menumpuk jika tidak dibuang.

Namun, Hariyanto (50) bisa mengubah spare part bekas tersebut menjadi barang kerajinan dan pajangan bernilai ekonomis. Aneka sampah besi dari bengkel tersebut 'disulap' sedemikian rupa menjadi sebuah hiasan indah dan bernilai jual lebih.

"Ini kan kerjaan bikin pagar dan kanopi sedang sepi. Iseng-iseng ada bekas orderdil yang tidak terpakai, daripada diloak kan, saya bikin karya ini," kata Hariyanto saat ditemui di rumahnya, Jalan Danau Rawa Pening Dalam Sawojajar, Kota Malang.

Spare part bekas disusun menjadi aneka hiasan dinding atau miniatur seperti helikopter, vespa, lokomotif, sepeda dan lain-lain. Beberapa kali juga pernah mendapatkan pesanan berupa robot dan patung dari bahan aneka limbah besi.

"Saya pernah mendapat pesanan patung robot di Rampal, tapi itu bersama-sama satu tim," katanya.

Hariyanto sejak 3 tahun terakhir mengaku lebih serius memproduksi kerajinan berbahan spare part bekas. Kendati semasa SMP, sejatinya sudah mengenal keterampilan tersebut, walaupun memang masih ala kadarnya dengan bahan yang terbatas.

"Awalnya ada teman bengkel, saya main, iseng-iseng, kayaknya bisa buat ini, Saya bawa pulang akhirnya saya rakit. Karya pertama itu sepeda," jelasnya.

Hariyanto keseharian sebagai tukang las yang kerap menerima pesanan membuat pagar dan kanopi. Tetapi di waktu luang membuat hiasan berbahan spare part bekas tersebut. Pekerjaan seninya itu dikerjakan saat kondisi sepi pesanan, termasuk selama Pandemi yang memang lebih banyak waktu di rumah.

"Biasanya kalau ada pelanggan, saya tinggal dulu, kalau tidak ada dikerjakan kembali," sambungnya.

Difabel Tak Jadi Halangan

jadi halangan rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Kondisi Hariyanto sendiri juga seorang difabel setelah kaki kirinya harus diamputasi akibat kecelakaan kerja. Ia mengaku sedikit terganggu, tetapi berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kembali belajar naik motor, mobil dan bekerja lagi.

"Kalau yang lebih sulit itu mendapat kepercayaan pelanggan, apakah masih bisa kerja? Itu yang paling sulit, karena banyak orang kadang lihat penampilan. Masih bisa tah orang ini kerja? Karena itu saya buktikan kalau saya mampu," urainya.

Saat mendapat pekerjaan yang harus memanjat ketinggian, Hariyanto mengaku harus minta tolong orang lain. Biasanya mengajak dua partnernya yang selalu membantunya.

"Kalau pekerjaan yang ini (membuat kerajinan) tidak ada gangguan, sama sekali bahkan saya lebih senang, mungkin harus menekuni yang ini. Tapi kalau ada ngelas ya saya kerjakan," jelasnya.

Proses Pembuatan

rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Onderdil bekas didapatkan Hariyanto dari beberapa teman yang kebetulan memiliki bengkel sepeda motor dan mobil. Onderdil tersebut biasanya dijual ke tukang rongsokan dengan harga sangat murah. Oleh sahabatnya itu, barang-barang limbah tersebut diberikan secara gratis begitu saja.

Setiap onderdil bekas itu kemudian dibersihkan dahulu dengan cara disikat. Selain agar efek besinya lebih kelihatan, juga membuat lem lebih melekat kuat.

"Supaya hasilnya, lem menempel, tetapi memang sengaja tidak saya cuci agar kelihatan aslinya," tegasnya.

Hasil-hasil karyanya itu juga sengaja tidak dicat demi mendapatkan efek besi yang terlihat khas.

Model atau bentuk tertentu langsung dirakit di atas bingkai yang sudah disediakan. Ia sesekali melihat dari atas guna melihat kesesuaian dengan yang diinginkannya.

Pembuatan setiap satu unit hiasan tersebut dibutuhkan waktu sekitar sehari, walaupun masih tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.

"Kalau model biasanya muncul ide spontan. Spare part ini cocok buat ini. Dicari dulu yang sesuai, kalau sudah sesuai saya lem, ini kurang cocok, dicarikan ganti sampai cocok baru dilem," terangnya.

Setelah dirasa selesai, Hariyanto akan memposting karyanya tersebut ke media sosial atau mengirimkan pada pemesannya. Pembeli biasanya akan menghubungi untuk menanyakan harga.

"Terakhir kemarin kirim dua kali ke Makassar. Pernah juga laku Rp700 Ribu, pernah laku Rp5 Ribu sepeda motor yang casing pakai kayu triplek itu," katanya tersenyum.

Hariyanto menerima pesanan sesuai dengan desain yang diinginkan oleh pemesan.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP