Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan Indonesia aktif membangun koalisi internasional. Upaya ini bertujuan signifikan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Lambung Mangkurat.
Kuliah umum bertajuk Forestry Update Course (Fuco) 2025 itu berlangsung di Auditorium ULM Banjarbaru pada hari Sabtu. Hanif menegaskan kepemimpinan Indonesia sebagai negara pemilik ekosistem strategis. Hal ini dibuktikan melalui diplomasi bilateral dan inisiatif koalisi.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap pemanasan global dan perubahan iklim yang semakin mendesak. Meskipun hasil COP30 di Brasil dinilai kurang optimal, Indonesia terus memperkuat implementasi adaptasi iklim. Komitmen ini sejalan dengan Perjanjian Paris 2015.
Advertisement
Advertisement
Menteri Hanif Faisol Nurofiq baru saja kembali dari COP30 Leader Summit atau Konferensi Perubahan Iklim PBB di Belem, Brasil, yang berlangsung pada 10-21 November 2025. Ia menilai bahwa hasil dari konferensi tersebut masih belum memuaskan. Oleh karena itu, Indonesia merasa perlu untuk terus melakukan aksi nyata dalam memperkuat implementasi adaptasi iklim.
Indonesia telah menyiapkan berbagai instrumen guna mengurangi emisi gas rumah kaca, sejalan dengan komitmen yang tertuang dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Komitmen ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi global yang diharapkan dapat memberikan dampak positif.
Dalam konteks diplomasi iklim, Indonesia telah menggandeng sejumlah negara maju seperti Jepang dan Norwegia. Kemitraan bilateral ini diharapkan dapat menjadi contoh di tengah ketidakpastian upaya global. Hanif menekankan bahwa pembangunan tidak selalu harus melalui konsensus besar, melainkan penguatan bilateral juga dapat mengarah pada konsensus yang disepakati bersama.
Advertisement
Advertisement
Salah satu fokus utama yang didorong Indonesia saat ini adalah mitigasi di sektor kehutanan, khususnya melalui pengelolaan ekosistem gambut. Menjaga keberadaan lahan gambut agar tetap sehat dan basah merupakan strategi krusial. Lahan gambut yang basah memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah sangat besar.
Sebaliknya, lahan gambut dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan ketika kering atau terbakar. Indonesia sendiri memiliki potensi gambut terbesar kedua di dunia, dengan luas mencapai 13,3 juta hektare. Luasan ini menunjukkan betapa pentingnya peran gambut dalam penyerapan karbon.
Cadangan karbon yang tersimpan di lahan gambut Indonesia diperkirakan sekitar 55-57 gigaton. Angka ini setara dengan sekitar 30 persen dari total karbon yang tersimpan di lahan gambut seluruh dunia. Dengan potensi sebesar ini, pengelolaan gambut menjadi sangat strategis untuk upaya penurunan emisi.
Advertisement
Menteri Hanif menegaskan bahwa dengan target pengurangan emisi 1,2 hingga 1,5 gigaton CO2 ekuivalen pada tahun 2035, menjaga ekosistem gambut sudah cukup untuk mengatasi ancaman perubahan iklim. Ini menunjukkan bahwa fokus pada satu sektor kunci dapat memberikan dampak besar terhadap target nasional.
Advertisement
Menteri Hanif juga menyampaikan pesan penting kepada sivitas akademika Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Ia berharap ULM dapat terus berperan aktif dalam mengatasi ancaman perubahan iklim. Peran ini dapat diwujudkan melalui riset terapan, inovasi monitoring, dan pemodelan hidrologi.
Selain itu, pengabdian masyarakat berbasis kemitraan juga menjadi salah satu jalur kontribusi yang diharapkan. Rektor ULM, Prof. Ahmad Alim Bachri, menyambut baik pesan tersebut. Kehadiran Menteri Hanif sebagai alumnus Fakultas Kehutanan ULM diharapkan menjadi pelecut semangat mahasiswa.
Semangat tersebut diharapkan mendorong mahasiswa untuk mengambil peran dalam aksi nasional memulihkan gambut. Upaya ini sangat penting demi penyelamatan iklim Indonesia di masa depan. Dekan Fakultas Kehutanan ULM, Kissinger, menambahkan bahwa kuliah umum ini dihadiri oleh 1.800 mahasiswa lintas fakultas ULM.
Advertisement
Selain itu, sekitar 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga turut aktif mengikuti kuliah umum ini secara daring. Partisipasi luas ini menunjukkan tingginya minat dan kesadaran akan isu perubahan iklim di kalangan generasi muda akademisi.
Sumber: AntaraNews