Menjaga kedaulatan perlu sikap kenegarawanan

Rabu, 25 Oktober 2017 16:01 Reporter : Rizlia Khairun Nisa
Sudirman Said. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Menjaga kedaulatan bangsa memerlukan sikap kenegarawanan. Para pendiri bangsa sudah mencontohkan bagaimana sikap kenegarawanan bukan saja mampu merebut kedaulatan, tetapi juga menjaga dan memperkuatnya.

Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) Sudirman Said mengungkap hal itu, Rabu (25/10). Menurut Sudirman, saat ini bangsa Indonesia membutuhkan langkah konkret guna menjaga dan memperkuat derajat kedaulatan, agar memiliki keleluasaan untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran.

Untuk itulah IHN,sebagai lembaga yang bergerak dalam kajian, pendidikan, dan penerangan di bidang kepemimpinan menggelar 'Musyawarah Nasional Kedaulatan Bangsa untuk Menyongsong Seabad Kemerdekaan'. Kegiatan ini akan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kamis (26/10), di Istana Wapres, Jakarta.

"Munas diselenggarakan sebagai iuran pemikiran bagi bangsa dalam mempersiapkan masa depan yang jauh, seabad kemerdekaan Indonesia, 2045," kata Sudirman.

Dalam pandangan Sudirman, bangsa Indonesia amat perlu mempercepat penguatan 'soft infrastruktur' sebagai fondasi pembangunan fisik, yang akan menjaga kelangsungan jiwa bangsa. Penegakan hukum, membentuk suasana berkeadilan, penguatan kapasitas nasional, dan hal-hal yang berkaitan dengan daya saing.

"Dengan demikian perasaan berdaulat tidak hanya secara fisik geografis, tetapi juga merasa dalam kontrol atas segala sesuatunya," tandas dia.

Dia mengemukakan, pilihan musyawarah sebagai bentuk dari pertemuan akademis (academic meeting), dimaksudkan untuk memberikan pesan tentang pentingnya format musyawarah, sebagai cara Indonesia di dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Sudirman menjelaskan, ada tiga masalah besar yang akan menjadi persoalan bangsa dan akan menjadi pembahasan pada acara ini. Ketiganya adalah kesenjangan sosial-ekonomi,politik dan hukum yang masih belum sesuai dengan harapan warga, kohesi sosial yang terancam, serta tekanan globalisasi.

"Masalah-masalah tersebut jika tidak diatasi secara mendasar, dikhawatirkan akan membawa pengaruh pada kualitas persatuan bangsa, dan pada gilirannya mempengaruhi kedaulatan bangsa," urai Sudirman.

Agenda ini, lanjut Sudirman, yang hendak disorong ke depan oleh Munas. Dengan demikian, Munas ingin menyampaikan pesan tentang perlunya pikiran jauh, pikiran yang melampaui siklus (kalender) pemilu, pikiran yang mengacu kepada siklus republik (kehidupan berbangsa).

Hasil-hasil Munas, terang Sudirman, nantinyaakan disampaikan kepada publik dalam bentuk penerbitan dan kegiatan-kegiatan konsultasi publik. Proses ini menjadi bagian dari langkah konkret pelibatan publik luas.

"Makin banyak pihak yang berpikir jauh tentang masa depan bangsa, akan makin baik, dan akan membuat kita makin optimistis menatap hari depan," ujar Sudirman, yang juga bakal calon gubernur Jawa Tengah ini.

Sejumlah pakar dari bidang politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, dan bidang-bidang strategis lainnya akan hadir dan ikut menyampaikan pikirannya dalam Munas yang akan berakhir 27 Oktober 2017ini. Di antara pakar yang hadir adalah Jimly Asshiddiqie, J Kristiasi, Faisal Basri, Refly Harun, Haedar Nashir, dan sejumlah intelektual bangsa lainnya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Sudirman Said
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.