Mengintip pembuatan leumang, makanan berbuka puasa khas Aceh

Minggu, 20 Mei 2018 17:29 Reporter : Afif
Leumang Gurih. ©2018 Merdeka.com/Afif

Merdeka.com - Bambu buluh yang telah terisi bahan untuk membuat leumang tertata rapi di perapian. Muhammad Yacup, terlihat sibuk meratakan bara api sembari membolak-balik ratusan bambu buluh muda tersebut.

Hawa panas dari perapian tak membuat surut pria berusia 42 tahun ini menjaga di perapaian. Menggunakan sarung tangan, bambu buluh dirapikan dengan penjepit tang terbuat dari besi.

Asap terus mengepul. Sesekali dia harus mengusap kedua bola matanya karena perih efek dari asap. Namun, ia tetap tak berjarak dari perapian bambu buluh yang berisi bahan untuk bikin leumang. Meskipun sesekali dia harus menjaga jarak, agar kedua bola matanya tak perih.

Tongkat sepanjang 2 meter pun selalu ada di tangannya. Tongkat itu dipergunakan untuk memisahkan bara api, agar di perapian tidak terlalu besar api menyala. Leumang hasil olahan Muhammad Yacup, memanggangnya bukan dengan api besar, tetapi dengan bara api agar kematangan sesuai yang diinginkan.

"Kalau terlalu besar api bisa hangus, enggak enak jadinya," kata Muhammad Yacup kepada merdeka.com saat menyambangi lokasi pembuatan leumang, Minggu (20/5).

Leumang Gurih 2018 Merdeka.com/Afif


Muhammad Yacup meneruskan usaha yang dirintis oleh kedua orang tuanya. Hafsah yang sudah berusia 68 tahun sudah tidak terlalu kuat lagi terjun langsung memasak leumang. Usaha ini pun sudah digeluti oleh Hafsah selama 15 tahun lalu, kini dilanjutkan oleh anak pertamanya Muhammad Yacup.

Muhammad Yacup mengolah dan menjual leumang di Jalan Syiah Kuala, Gampong Lamdingi, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Leumang milik Muhammad Yacup memiliki tiga jenis bahan baku dasar yaitu beras ketan putih, ketan hitam, dan ubi.

Sebelum dimasak, Muhammad Yacup dibantu beberapa orang pekerja, terlebih dahulu memasukkan penganan lemang ke dalam bambu yang beragam ukuran.

Selama bulan ramadan, Muhammad Yacup membuat 3 jenis lemang yaitu lemang ubi, ketan hitam dan ketan putih kemudian dicampur dengan santan, gula dan sedikit garam agar terasa gurih. Memasaknya dengan cara dibungkus dengan daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam seruas bambu buluh. Setelah itu dibakar di atas bara api hingga matang.

Memasak lemang cukup menyita waktu. Dimasak dengan bara api membutuhkan waktu antara 4 sampai dengan 6 jam. Sejak pukul 09.00 WIB sudah mulai bekerja dan memanggang leumang pada pukul 10.30 WIB dan masak pada pukul 15.00 WIB.

"Setelah itu langsung siap dijual," jelasnya.

Harga yang dibandrol pun tergolong tidak membuat kantong Anda koyak. Pelanggan bebas memilih, apakah hendak membeli per potong dengan harga Rp 5000 sampai dengan Rp 20.000. sedangkan bila ingin membeli satu bambu buluh, harga berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 100.000.

"Tergantung besar dan kecilnya ukuran bambu buluh itu," jelasnya.

Muhammad Yacup mengaku memasak leumang hanya pada bulan Ramadan saja, ini karena ibunya sudah tua. Setiap hari selama ramadan ia bisa menghabiskan 3,5 sak beras atau 50 bambu beras, ubi 15 kilogram dengan keuntungan sangat menjanjikan.

"Modal yang harus dikeluarkan Rp 2,5 juta, pendapatannya bisa mencapai Rp 5,5 juta per hari," jelasnya.

Di perapian, ada 160 batang bambu buluh yang masih sedang dimasak. Setelah nantinya matang, sebagian dipotong-potong ukuran kecil untuk dijajakan sebagai takjil berbuka puasa.

Selama bulan Ramadan, banyak warga yang berburu berbagai makanan, salah satunya yang paling diminati adalah leumang miliki Muhammad Yacup yang memiliki cita rasa gurih dan cocok untuk dimakan dengan air tebu saat berbuka puasa. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini