Mengenang kisah manis pedagang batu akik, bisa beli mobil dan tanah

Senin, 3 September 2018 05:03 Reporter : Moh. Kadafi
Mengenang kisah manis pedagang batu akik, bisa beli mobil dan tanah Pedagang batu akik di Bali. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Puji Suwantoro duduk santai di belakang lapak dagangan batu akiknya. Tangannya terampil memasang batu akik ke dalam cangkang atau ring (cincin). Dia sangat hati-hati mengetuk cangkang agar pas ke dalam lubang ring dan tak mengenai batu akik Junjung Drajat.

Pria yang berusia 46 tahun ini adalah salah satu pedagang batu akik di pasar tradisional Kreneng, Denpasar Bali. Sudah 20 tahun dia menjajakan batu akik di pasar tersebut. Di lapaknya, ratusan batu dipajang. Mulai dari batu Les Kelor, Kecubung, Rambut Sedana dan lainnya.

"Saya sudah 20 tahun jualan batu akik," ucap pria asal Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, Minggu (2/9) sore.

Puji bercerita tentang manis dan pahitnya menjadi pedagang batu akik. Para pedagang batu akik berjaya pada 2015. Saat batu akik ngetren dan banyak diburu peminatnya.

"Kalau dulu, dalam sehari saya bisa dapat Rp 2-3 juta jualan batu akik. Banyak yang antre beli. Saya masang cangkok saja dalam sehari bisa dapat pengasilan Rp 600.000, karena setiap masang batu akik itu dibayar Rp 5.000," ungkapnya.

Dalam sebulan, Puji bisa meraup keuntungan puluhan juta dari hasil penjualan batu akik. Dari hasil penjualan itu, sehari dia bisa menabung Rp 1,5 juta.

"Dulu saya bisa beli tanah di Negara (Kabupaten Jembrana Bali) bisa beli 6 ha, dan juga beli mobil dan akhirnya ke jual juga karena sepi dan untuk kebutuhan lainnya," ujarnya sambil tersenyum.

Kisah manis dan kejayaan pedagang batu akik tidak bertahan lama. Sekitar tahun 2016 penjualan akik menurun drastis tidak seperti waktu setahun sebelumnya yang sangat ramai. Kondisi itu berlangsung hingga saat ini.

"Kalau sekarang sudah biasa lagi, tidak seramai tahun 2015. Sepinya itu tahun 2016 sampai sekarang. Kalau sekarang dalam sehari hanya dapat Rp 200 sampai 300 ribu," ujarnya.

Walaupun penjualan batu akiknya sepi, Puji tetap bersyukur. Karena ada saja yang membeli batu akiknya dan bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia hanya berharap suatu saat memiliki usaha lain agar lebih meningkatkan pendapatannya.

"Kalau dagang seperti iya alhamdulillah bisa mencukupi. Kalau ide punya usaha lain iya banyak tapi tidak ada modal. Bagaikan punya mobil Alphard tapi tidak ada besinya, iya macet," ungkapnya sambil tertawa.

Hal senada juga disampaikan Jhon Leonard (52) yang juga sebagai pedagang akik di pasar Kreneng Denpasar. Om Jhon panggilan akrabnya, sudah 20 tahun berdagang batu akik. Dia berkisah, di era kejayaan batu akik, dalam sehari dia bisa meraup untung sampai Rp 20-35 juta.

"Kalau sekarang dari 100 persen, hanya tinggal 10 persen peminatnya. Kalau dulu, saya bisa dapat keuntungan Rp 20 sampai 35 juta," ujar pria asal Manado Sulawesi Utara ini.

Menurut Om Jhon, di masa keemasan, satu buah batu akik bisa dijual hingga Rp 400.000-700.000. Kalau permata bisa mencapai harga jutaan rupiah. Dulu saat ramai saja jual batu Bacan, iya syukur dari penjualan dulu saya sampai bisa beli mobil. Tapi kalau sekarang iya pastinya tidak seperti dulu lagi," ujarnya.

Kendati penjualan batu akiknya sepi, Om Jhon merasa bersyukur karena setiap hari ada saja yang datang ke lapaknya untuk membeli batu akik dan batu permatanya.

"Kalau sekarang iya dalam sehari bisa dapat Rp 500 ribu. Ada saja yang beli. Kalau saya taunya hanya jual barang ini. Iya tidak punya kerjaan lagi, kalau tidak jualan barang ini, apa yang kita buat makan," tutupnya. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Batu Akik
  2. Lipsus Batu Akik
  3. Denpasar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini