Mengapa Pertanian Sering Dianggap Kotor? Kemendikdasmen Dorong Literasi Ketahanan Pangan untuk Masa Depan Cerah

Kemendikdasmen menjemput aspirasi DUDI untuk memperkuat literasi ketahanan pangan, mengatasi persepsi negatif terhadap sektor pertanian dan peternakan, serta menyiapkan SDM unggul.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengapa Pertanian Sering Dianggap Kotor? Kemendikdasmen Dorong Literasi Ketahanan Pangan untuk Masa Depan Cerah
Kemendikdasmen menjemput aspirasi DUDI untuk memperkuat literasi ketahanan pangan, mengatasi persepsi negatif terhadap sektor pertanian dan peternakan, serta menyiapkan SDM unggul. (Merdeka.com)

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen menjemput aspirasi dari dunia usaha dan industri (DUDI) di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Langkah ini bertujuan memperkuat literasi ketahanan pangan bagi murid, terutama lulusan pendidikan vokasi dan SMK. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.

Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa literasi adalah fondasi krusial untuk kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas SDM secara langsung mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional. Tanpa literasi yang kuat, upaya ketahanan pangan akan sulit tercapai secara optimal.

Muksin menyoroti adanya narasi keliru di masyarakat mengenai bidang pertanian dan peternakan. Sektor-sektor ini, yang esensial bagi ketahanan pangan, seringkali dianggap tidak bergengsi dan kotor. Persepsi negatif ini perlu diluruskan demi masa depan sektor pangan dan generasi penerus.

Literasi sebagai Fondasi Ketahanan Pangan Nasional

Hafidz Muksin menekankan bahwa ketahanan pangan harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Menurutnya, literasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas SDM tersebut. "Tentu ketahanan pangan itu harus didukung oleh sumber daya manusia sehingga tanpa adanya literasi untuk meningkatkan sumber daya manusia, itu ketahanan pangan tidak akan terwujud," kata Hafidz Muksin di Kabupaten Blitar.

Muksin juga menyoroti persepsi negatif yang masih melekat pada bidang pertanian dan peternakan di mata masyarakat. Banyak yang menganggap kedua bidang ini sebagai pekerjaan yang kotor, tidak bergengsi, dan kurang menjanjikan masa depan. Pandangan ini seringkali menghambat minat generasi muda untuk terjun ke sektor vital tersebut.

“Persepsi masyarakat, bahkan orang tua, untuk memasukkan anaknya ke bidang pertanian, ini masih belum bagus ya, karena masih menganggap sektor pertanian ini bukan merupakan sektor yang menjanjikan. Anggapannya pertanian peternakan itu kotor, bau dan sebagainya,” imbuhnya. Persepsi ini menjadi tantangan besar dalam upaya penguatan literasi ketahanan pangan.

Oleh karena itu, Kemendikdasmen berupaya meningkatkan literasi mengenai potensi pangan lokal. Upaya ini mencakup promosi manfaat dan keuntungan pengembangan sektor pangan. Mereka juga memproduksi sumber-sumber bacaan yang relevan untuk meluruskan pandangan keliru ini dan menumbuhkan minat.

Tantangan Regenerasi SDM dan Solusi Kolaborasi

Di sisi lain, Direktur Utama Jatinom Indah, Hidayatur Rahman, yang merupakan pelaku usaha di bidang peternakan, mengungkapkan kesulitan dalam mencari regenerasi sumber daya manusia. Ia menyebutkan bahwa jumlah lulusan vokasi maupun SMK yang benar-benar memiliki keterampilan sesuai harapan DUDI masih sangat terbatas. Hal ini menjadi hambatan serius bagi perkembangan industri.

Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab masalah ini, termasuk perlunya pembaharuan kurikulum pendidikan vokasi. Selain itu, penanaman minat mengenai peluang besar dalam pengembangan bidang ketahanan pangan, khususnya peternakan, juga belum optimal. Kurangnya minat ini berdampak langsung pada ketersediaan tenaga kerja terampil.

Rahman berharap adanya model kolaborasi dan kemitraan berkelanjutan antara dunia industri dengan satuan pendidikan vokasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat secara spesifik berfokus pada bidang ketahanan pangan. Penguatan literasi mengenai sektor ini juga menjadi prioritas untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada.

“Kami berharap nanti akan adanya model kolaborasi, kemitraan berkelanjutan antara dunia industri dengan satuan pendidikan vokasi yang berkelanjutan, khususnya dalam bidang ketahanan pangan serta penguatan literasi mengenai hal tersebut sehingga dapat meluruskan kesalahpahaman mengenai bidang tersebut,” katanya. Kemitraan ini diharapkan dapat menciptakan lulusan yang siap kerja dan berkualitas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi