Menengok Jaten, tempat lahir Ibu Tien kini ditandai batu raksasa
Merdeka.com - Tak banyak yang tahu jika istri Presiden ke -2, Siti Hartinah atau Tien Soeharto, lahir dan menghabiskan masa mudanya di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tien Soeharto dilahirkan di sebuah rumah di Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Ibu negara di era Orde Baru ini lahir di sebuah rumah kecil berukuran tak lebih dari 100 meter persegi, pada Rabu Kliwon 1923, persis 90 tahun lalu.
Di rumah milik orang tuanya yang juga seorang kepala desa bernama RM Soemoharjomo, Tien Soeharto, bersama mereka dan saudaranya menghabiskan masa kecilnya. Saat ini, rumah yang berada jalan utama Solo-Tawangmangu tersebut,
diberi tanda berupa prasasti batu raksasa, yang didatangkan dari kali di wilayah Kecamatan Matesih.
Menurut pengelola Monumen Jaten, Darmadi, batu raksasa berukuran sekitar 2 x 6 meter diletakkan di sebuah bangunan mirip Joglo, di bagian depan. Batu tersebut menjadi penanda bagi masyarakat akan kenangan manis sang ibu negara.
"Utamanya anak-anak muda kan banyak yang tidak tahu, jadi ini sebagai tanda, atau tetenger saja, kalau ibu dulu dilahirkan disini," ujarnya.
Saat merdeka.com berkunjung ke Monumen tersebut, ada beberapa bagian bangunan lain, selain prasasti. Area monumen seluas lebih dari 3.000 meter persegi tersebut juga terdapat bangunan pendapa dengan gaya dan ornamen jawa serta masjid.
"Sebelah barat pendapa ada sumur tua yang umurnya lebih dari 100 tahun. Zaman dulu keluarga bu Tien selalu mengambil air di situ. Sumurnya diberi nama sumur Fatimah. Bahkan para tetangga juga memanfaatkan sumur tersebut," tambahnya.
Menurut Darmadi, sampai sekarang kondisi sumur masih terawat dengan baik. Airnya pun masih sering dimanfaatkan baik oleh pengelola monumen dan warga setempat.
Selain pendapa jika masuk ke dalam lagi terdapat bangunan masjid cukup megah yang diberi nama Masjid Fatimah. Masjid tersebut saat ini digunakan oleh masyarakat sekitar monumen. Di bagian barat belakang, juga terdapat kantor pengelola monumen dan ruang perpustakaan, yang berisi buku-buku bagi para pelajar dan buku cerita rakyat.
Bangunan tersebut semula milik keluarga Soeharto. Pada tahun 2002 keluarga Soeharto menyerahkan kepemilikan atas bangunan dan lahan monumen kepada Begug Poernomosidi, mantan Bupati Wonogiri.
"Monumen ini salah satu tempat kenangan bagi keluarga Soeharto. Sekarang kita kelola, dan bagi masyarakat yang akan menggunakan tempat ini dipersilahkan. Monumen ini banyak yang memanfaatkan untuk pesta perkawinan," pungkasnya. (mdk/tts)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya