Menelusuri Tradisi Dandangan, Warisan Sunan Kudus yang Menandai Kedatangan Ramadan

Tradisi Dandangan, yang merupakan warisan dari Sunan Kudus, hingga kini masih dilestarikan sebagai salah satu kearifan lokal yang berharga.

Arief Pramono
Oleh Arief Pramono - Reporter
Menelusuri Tradisi Dandangan, Warisan Sunan Kudus yang Menandai Kedatangan Ramadan
Tradisi Dandangan Warisan Sunan Kudus Penanda Datangnya Ramadan (© 2026 Liputan6.com)

Banyak tradisi yang diadakan di berbagai daerah di Indonesia untuk menyambut bulan Ramadan. Salah satunya adalah Tradisi Dandangan yang terdapat di Kudus, Jawa Tengah.

Masyarakat Kudus memiliki tradisi yang unik ini untuk merayakan bulan suci yang selalu ditunggu oleh umat Islam. Tradisi Dandangan merupakan warisan dari Sunan Kudus yang hingga kini masih dilestarikan.

Salah satu kegiatan menarik dalam tradisi ini adalah pemukulan bedug yang dilakukan bertalu-talu dari Menara Masjid Sunan Kudus yang terkenal. Prosesi ini menjadi tanda bahwa bulan Ramadan telah tiba.

Tradisi Dandangan dimulai sekitar 450 tahun yang lalu, saat Syekh Ja'far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam di bagian utara Jawa Tengah.

Sunan Kudus adalah pemimpin utama dalam penyebaran Islam di kabupaten yang dijuluki "Kota Kretek" pada abad ke-16. Kehadiran beliau sangat dihormati karena pengetahuannya yang mendalam dalam ilmu agama, terutama dalam bidang Fikih dan Falaq. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang ahli dalam menentukan tanggal penting.

Setiap menjelang bulan Ramadan, banyak orang berkumpul di sekitar Masjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus mengenai tanggal 1 Ramadan. Warga yang ingin mendengarkan pengumuman tersebut datang dari berbagai penjuru.

Pengumuman tersebut juga dihadiri oleh murid-murid Sunan Kudus, termasuk Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadirin dari Jepara, dan Aryo Penangsang dari Blora. Momen berkumpulnya warga dan santri ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk menjajakan makanan dan minuman.

Waktu yang dihabiskan masyarakat yang datang ke Masjid Menara Kudus pada saat tradisi Dandangan digunakan untuk berjualan makanan tradisional yang siap saji. Penentuan tanggal 1 Ramadan ditandai dengan tabuhan bedug di Menara Masjid Menara Kudus. Suara bedug yang ditabuh bertalu-talu berbunyi "dang, dang, dang", dan tradisi pengumuman penentuan tanggal 1 Ramadan ini kemudian dikenal dengan nama Tradisi Dandangan.

Tradisi Dandangan Warisan Sunan Kudus Penanda Datangnya Ramadan
Tradisi Dandangan Warisan Sunan Kudus Penanda Datangnya Ramadan

Seiring dengan perubahan zaman, momentum ini dimanfaatkan oleh para pedagang sebagai peluang emas untuk berjualan di sekitar masjid. Saat ini, tradisi Dandangan telah dikenal oleh masyarakat sebagai pasar malam yang diadakan setiap menjelang bulan Ramadan.

Pasar kaget ini telah menjadi bagian integral dari tradisi Dandangan di Kudus dan telah berlangsung selama ratusan tahun. Kegiatan ini dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan Ramadan tiba. Setiap tahun, masyarakat Kudus selalu melaksanakan Dandangan tanpa henti.

Tradisi ini dimulai dengan ziarah ke makam Sunan Kudus, dilanjutkan dengan prosesi menabuh beduk, dan diakhiri dengan makan bersama.

Selain sebagai aktivitas budaya, Dandangan juga berfungsi sebagai komoditas ekonomi. Banyak pedagang kuliner, fesyen, dan berbagai produk lainnya bermunculan, seiring dengan antusiasme masyarakat yang hadir pada acara tabuh beduk tersebut. Saat ini, tradisi Dandangan semakin inovatif dengan beragam rangkaian kegiatan, seperti dialog kebudayaan, kirab, dan stand UMKM.

Lebih dari itu, tradisi Dandangan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), menjadikannya peristiwa budaya yang memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Dengan demikian, Dandangan tidak hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga merupakan simbol identitas dan kreativitas masyarakat Kudus.

Persiapan untuk Pagelaran Tradisi Dandangan tahun 2026 telah dilakukan dengan matang oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Acara ini akan berlangsung selama 12 hari, mulai dari tanggal 7 hingga 18 Februari 2026. Sebanyak 527 tenda Pedagang Kaki Lima (PKL) akan didirikan dari Alun-alun Simpang Tujuh hingga perempatan Jember yang terletak di kawasan Menara dan Masjid Sunan Kudus. Berbeda dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya yang hanya berlangsung selama 10 hari, tahun ini acara Dandangan akan diperpanjang menjadi 12 hari. Pembukaan seremonial dijadwalkan pada 9 Februari 2026.

“Tradisi Dandangan merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan untuk menyambut Ramadan,” ungkap Eko Hari Djatmiko, Pelaksana Harian (Plh) Dinas Perdagangan Kudus. Eko menambahkan bahwa ratusan PKL yang menawarkan berbagai produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari Kudus dan daerah lainnya siap memeriahkan acara ini. Saat prosesi pembukaan, acara akan dimeriahkan dengan penampilan tarian khas Kudus, yaitu Tari Caping Kalo. Acara ini akan dilanjutkan dengan pemukulan bedug di atas Menara Masjid Sunan Kudus dan diakhiri dengan doa bersama.

Rekomendasi