Menelisik kepercayaan masyarakat adat trah Bonokeling

Sabtu, 3 Agustus 2013 08:15 Reporter : Chandra Iswinarno
Menelisik kepercayaan masyarakat adat trah Bonokeling Pengikut Bonokeling. ©2013 Merdeka.com/Chandra

Merdeka.com - Arus modernisasi yang merambah semua bidang kehidupan, seolah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hari ini. Namun, perkembangan zaman yang serba modern, nampaknya tidak membuat silau komunitas Bonokeling yang tetap menjalankan laku tradisi mengikuti jejak para leluhur.

Berbagai pantangan dan syarat yang diturunkan dari para leluhur masih nampak kuat terpatri dalam ajaran Kejawen pengikut Bonokeling.

"Kami harus selalu ikhlas dan memiliki niat yang kuat untuk melaksanakan semua ajaran yang diturunkan dari leluhur kami," ucap Warga (45), salah satu anggota pengikut Bonokeling atau dikenal dengan sebutan anak-putu Bonokeling.

Warga merupakan satu dari ribuan bagian komunitas anak-putu Bonokeling yang berasal dari Kelurahan Tambakreja Kecamatan Cilacap Selatan. Ia mengaku mengenal tradisi Bonokeling dari orang tuanya yang sudah lama mengikuti ajaran tersebut.

"Saya memutuskan untuk mengikuti ajaran Bonokeling setelah sunat. Karena syarat untuk bisa menjadi bagian dari anak-putu Bonokeling adalah sudah memasuki usia dewasa," jelas pria yang mengaku meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti adat tradisi dari leluhur, Unggah-unggahan.

Meski begitu, tidak semua anak-putu Kyai Bonokeling mengetahui secara pasti sosok panutan mereka. Juru bicara adat Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Banyumas Jawa Tengah, Sumitro mengakui tidak ada yang mengetahui sosok Kyai Bonokeling. Dia mengatakan hanya mengetahui sosok Kyai Bonokeling sebagai salah satu tokoh dari daerah Pasirluhur.

"Yang kami tahu, Kyai Bonokeling merupakan sosok tokoh dari Pasir (Pasirluhur)," jelasnya singkat.

Dalam beberapa literatur, wilayah Pasirluhur sebelumnya merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran. Sedangkan menurut Sejarawan Banyumas, Sugeng Priyadi dalam buku 'Banyumas: Antara Jawa dan Sunda', Pasirluhur merujuk pada daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sugeng menyebutnya sebagai toponim (nama tempat) perbatasan Sunda dan Jawa yang memiliki pengaruh di dua daerah tersebut.

Keberadaan tokoh Kyai Bonokeling, menurut Sugeng, memperkuat keberadaan sisa kerajaan Pasirluhur yang ada di wilayah Banyumas dan Cilacap dengan berbagai tradisi yang masih dilestarikan turun temurun. Tradisi tersebut, jelas Sugeng terlihat dalam ritual berjalan kaki menuju pemakaman leluhur ke Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Banyumas dengan mengenakan pakaian adat serba hitam tanpa mengenakan alas kaki.

Sementara itu, peneliti etnografi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto, Ridwan, mengatakan asal usul Kyai Bonokeling dipercayai berasal dari Pasirluhur.

"Kyai Bonokeling menurut penuturan dari beberapa narasumber terkait dengan Kerajaan Pasirluhur, tetapi penuturan ini masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Karena memang tidak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan landasan kebenarannya," paparnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menurut salah satu penulis buku 'Islam Kejawen; Sistem Keyakinan dan Ritual Anak Cucu Bonokeling' ini, kedatangan Kyai Bonokeling ke Desa Pekuncen merupakan bagian dari kegiatan 'among tani' atau membuka lahan pertanian.

"Selama masa pembukaan lahan pertanian inilah, Kyai Bonokeling yang digambarkan sebagai sosok muslim, melakukan kegiatan tersebut sambil menyebarkan Islam," ujarnya.

Penyebaran Islam yang disebarkan Bonokeling dilakukan dengan mengakomodasi nilai budaya lokal yang sudah ada, salah satunya adalah kegiatan slametan untuk berbagai kepentingan. Namun, menurut Ridwan, penyebaran Islam dalam masyarakat tidak berjalan paripurna.

"Kemungkinan besar sebelum menyempurnakan Islam dalam komunitasnya, Kyai Bonokeling wafat. Sehingga yang menonjol saat ini adalah hasil dialog antara Islam, Hindu-Budha, dan agama lokal," jelasnya.

Namun, Ridwan menyatakan bentuk dialog antar keyakinan ini belum selesai sehingga menghasilkan varian baru. Dari sisi Hindu, jelasnya, bisa terlihat dari corak baju yang masih digunakan dalam upacara tradisi yang digelar. Kemudian, tradisi lokalitas diwujudkan dalam slametan. Sedangkan nilai Islam yang tertanam baru sampai titik kepercayaan terhadap keesaan Tuhan. "Dalam setiap lelaku, komunitas ini meminta segala sesuatunya kepada Allah," jelasnya. [hhw]

Baca juga:
Saat dicuci tiap 1 Suro, keris juga dipijat
Berkah 1 Suro, pencuci keris laris manis
mata

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tradisi Jawa
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini