Hot Issue

Mencegah Risiko Kematian Pasien Isoman

Kamis, 5 Agustus 2021 07:00 Reporter : Dedi Rahmadi, Muhammad Genantan Saputra, Yunita Amalia
Mencegah Risiko Kematian Pasien Isoman Kamar Isolasi Pasien Covid-19 di Graha Wisata TMII Penu. ©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Tidak seperti biasanya. A cemas luar biasa ketika bangun tidur. Dia merasakan sesuatu pada dirinya.

Indra penciumannya mendadak menurun. Kepala pusing, tenggorokan sakit. Sejumlah obat coba ditelan. Berharap tubuh kembali fit.

Tetapi pikirannya belum tenang. A memutuskan menghubungi fasilitas kesehatan. Oleh petugas di sana, A diminta bersabar. Sebab antrean untuk tes PCR sudah mengular.

A tidak bisa menunggu lebih lama. Dia ingin segera tahu apa yang terjadi. A memilih swab mandiri di rumah dan hasilnya reaktif.

Bergegas dia menghubungi RT di tempat tinggalnya. Dia menceritakan kondisinya saat itu. Data yang dia berikan langsung dikirim ke puskesmas terdekat.

A menunggu kedatangan petugas puskesmas mengecek kesehatannya. Berharap mendapat penanganan seperti tetangganya. Didatangi petugas dengan baju pelindung lengkap dan seluruh anggota rumah dites.

"Tapi sekarang, sejak adik saya positif hingga saya sekarang reaktif belum ada petugas yang datang," keluh A saat berbincang dengan merdeka.com via telepon, Selasa (3/8).

Meski demikian, A coba memahami. Kasus yang meningkat membuat kerja tenaga kesehatan luar biasa sibuknya. Tetapi dia juga bingung. Apa yang harus dilakukan ketika menjalani isolasi mandiri atau isoman.

"Kami memahami, yang sakit bukan kami saja. Apalagi petugas puskesmas juga sangat terbatas," katanya.

Kisah A mungkin banyak dialami masyarakat kini. Ketika terpapar Covid-19 dan memilih menjalani isolasi mandiri. Kadang kala bukan keinginan pribadi. Apa daya fasilitas kesehatan sudah disesaki.

Menjalani isoman bukan persoalan mudah. Banyak kebingungan muncul. Bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Sementara bantuan tenaga kesehatan juga tak bisa sepenuhnya diharapkan.

Padahal, meski menjalani isolasi mandiri. Pasien Covid-19 harus tetap dipantau. Memastikan kondisi mereka cukup baik. Menghindari hal-hal tidak diinginkan.

Mengacu data LaporCovid-19, 2.836 jiwa meninggal dunia di luar rumah sakit per 30 Juli 2021. Data itu dihimpun dari 102 kabupaten/kota di 17 provinsi yang terlacak.

DKI Jakarta berada di posisi paling atas dengan angka 1.341 jiwa. Disusul Jawa Barat dengan jumlah 701 jiwa, kemudian DIY dengan jumlah 307 jiwa serta Jawa Tengah dengan jumlah 177 jiwa dan Jawa Timur 139 jiwa.

Relawan LaporCovid-19, Yemiko Happy, menyebut banyak hal melatarbelakangi kasus kematian saat isolasi mandiri.

"Salah satunya keengganan pasien menjalani perawatan di rumah sakit. Ada juga yang terpaksa isolasi di rumah karena tak mendapat kamar," ungkap Yemiko saat dihubungi merdeka.com, Senin (2/8).

Belum lagi, lanjut dia, tidak adanya petugas kesehatan yang melakukan pemantauan saat menjalani isolasi mandiri. Ditambah tingginya tingkat kepercayaan pasien terhadap hal-hal bersifat hoaks.

"Persoalan sosial, seperti stigma, hoaks dan misinformasi. Jadi lebih memilih di rumah. Akan tetapi, keadaan semakin parah," ungkap dia.

Pasien Isoman Wajib Diperhatikan

Meski tidak di tempat perawatan, sebuah kewajiban bagi tenaga kesehatan memantau kondisi pasien Covid yang menjalani isoman. Hal itu menjadi penting untuk mengurangi risiko pada si pasien atau orang sekelilingnya.

"Pasien isoman harus dipastikan berdasarkan klinis. Tidak bisa diputuskan oleh masyarakat sendiri, karena masyarakat tidak mengerti risikonya. Jadi pasien isoman harus dipastikan terkonfirmasi positif atau negatif. Punya penyakit bawaan atau tidak. Yang memutuskan itu harusnya tenaga kesehatan," ujar Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, saat dihubungi merdeka.com, Rabu (4/8).

Menurutnya, jika seorang pasien hanya mengandalkan hasil tes antigen, kemudian terkonfirmasi positif dan memutuskan isolasi mandiri, maka risiko pemberatan kasus Covid-19 semakin tinggi.

"Kalau isoman di rumah, enggak ada yang ngontrol kan kecuali isolasi mandiri di fasilitas tertentu atau di hotel yang ditetapkan pemerintah. Kalau masing-masing isolasi mandiri, di situlah potensi kematian tinggi karena tidak tercatat dengan baik. Maka seharusnya dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan," jelas dia.

Yang Harus Pasien Ketahui Saat Isoman

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan pada dasarnya menjalani isoman bagi pasien Covid-19 adalah pilihan terakhir. Pasien harus benar-benar bisa memastikan apakah dia merasakan gejala ringan. Selain itu tidak memiliki penyakit bawaan (komorbid).

"Pastikan Anda adalah pasien tanpa gejala atau gejala ringan, berusia kurang dari 45 tahun, tidak memiliki komorbid," jelas Wiku dalam konferensi pers pada Kamis (29/07), dikutip merdeka.com dari YouTube Sekretariat Presiden.

Selain itu, pasien yang menjalani Isoman harus memastikan tempat atau lokasi saat isolasi aman dari kontak antara yang sakit dengan anggota keluarga lain yang tinggal serumah. Kemudian mengecek temperatur serta saturasi oksigen secara berkala selama masa isolasi dan memakan makanan sehat dan bergizi.

Sementara pasien yang mengalami gejala sedang, berat, berusia di atas 45 tahun, memiliki komorbid, dan atau tidak memiliki tempat tinggal yang memadai tidak diimbau untuk melakukan isoman di rumah. Melainkan, memanfaatkan tempat isolasi terpusat yang telah disediakan pemerintah daerah.

"Perawatan di tempat isolasi terpusat diawasi langsung oleh tenaga kesehatan dan dipantau baik tanda vital, gejala, pola makan dan obat-obatannya, sehingga jika terjadi pemburukan bisa langsung ditangani," ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Besar IDI, dr. Daeng M Faqih mengatakan pasien Covid-19 maupun keluarga pasien harus memahami 'alarm' atau tanda tubuh jika terjadi perburukan pada pasien saat isolasi. Di antaranya gangguan pernapasan.

"Pertama, sebenarnya secara keseluruhan kalau terjadi perburukan atau gejala yang tampak berat. Biasanya gejala yang dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Karena gangguan pernapasan sebagai tanda terjadi gejala pneumonia atau radang paru," jelas Faqih beberapa waktu lalu.

Gejala pneumonia membuat napas jadi lebih cepat dan pendek. Jika diukur respiratori atau kecepatan napas mencapai 24 kali per menit. Dengan gejala tersebut, pasien sudah tidak lagi layak menjalani isoman di rumah.

"Itu sudah menunjukkan gejala gangguan napas, berarti dia sudah ada gejala pneumonia. Sudah masuk gradasi gejala sedang, bukan lagi gejala ringan, jadi tidak boleh lagi dilakukan isoman," tambahnya

Gejala gangguan pernapasan lainnya adalah pasien merasa sesak atau dada seperti tertekan dan sakit meskipun napas tidak cepat. Atau gejala lainnya kondisi sianosis di mana kulit pasien membiru, mulai dari bibir, ujung tangan dan ujung kuku.

Sianosis muncul akibat kekurangan oksigen dan jika diperiksa dengan oximeter kemungkinan saturasinya telah di bawah 94 persen.

"Karena kebanyakan masyarakat belum mengetahui gejala alarm tadi. Ini bisa tercegah kalau dia selalu terhubung, selalu konsultasi ke dokter atau tenaga kesehatan. Ada pendamping tenaga kesehatan atau dokter yang terus ditanyakan," ucapnya. [ded]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini