Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mencari Berkah dari Karung Goni Bekas

Mencari Berkah dari Karung Goni Bekas Kerajinan tangan dari karung goni bekas. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Dompet yang dibuat seorang teman memantik jiwa wirausaha Firza Fahdi (25). Pemuda ini tertarik membuat sendiri dan menggeluti bisnis daur ulang karung goni bekas. Awalnya Firza mencoba membuat dompet serupa dengan temannya.

"Dan ternyata dompet yang aku buat lebih bagus," kata Firza kepada merdeka.com, Senin (6/7).

Tidak berhenti di dompet, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Panca Budi Medan ini kemudian membuat tas, juga dari karung goni bekas. Teman-temannya melihat dan minta dibuatkan. Pesanan demi pesanan membuat dia yakin terjun ke bisnis daur ulang.

Firza mendapatkan bahan baku karung goni bekas dari limbah pabrik tepung. Biasanya 100 potong karung dia habiskan setiap dua bulan.

Karung goni itu kemudian dikerjakan di rumah Firza, Jalan Sejahtera, Helvetia Timur, Medan. Ibunya yang merupakan seorang penjahit turut membantu.

Produk yang dibuat Firza terus berkembang. "Untuk tas saja ada sekitar 30 model, topi 2 model dan dompet sekitar 10 model yang kami kerjakan," papar pemuda berambut ikal ini.

Mulai Punya Karyawan

Seiring bertambahnya pesanan, Firza mempekerjakan pasangan suami-istri untuk menjahit produknya. Dia pun bekerja sama dengan pihak lain untuk pekerjaan tertentu, misalnya penyablonan.

kerajinan tangan dari karung goni bekas

©2020 Merdeka.com

Karena permintaan semakin banyak, Firza bersama beberapa temannya mendirikan pusat pembuatan handycraft berbahan baku goni di Jalan Pertiwi Gang H Muslim Lubis, Medan Tembung. Tempat itu dijadikan lokasi produksi sekaligus galeri.

Pekerjaan mendaur ulang karung goni bekas ini tidak sederhana. Firza memulainya dengan mencuci karung goni bekas menggunakan sabun ditambah monosodium glutamate (MSG). "Itu ditambahkan untuk mempermudah mengangkat kuman," jelas Firza.

Setelah dicuci, karung itu dijemur hingga kering. Tahap selanjutnya pembuatan mal atau pola produk, biasanya menggunakan karton. Patron itu yang diikuti saat memotong karung goni dan bahan lainnya, termasuk kain pelapis. "Barulah proses penyatuan atau penjahitan," jelasnya.

Tekstur karung goni yang kasar dan jarang memberi kesulitan dalam penjahitan. Perlu kesabaran dan ketelitian untuk melakukannya.

Setelah dijahit, produk itu melewati proses finishing. Ada yang dilukis atau disablon, sesuai keinginan pemesan. Semua dilakukan dengan ketelitian dan kesabaran.

Buah Kesabaran dan Ketelitian

Kesabaran dan ketelitian Firza mendapat respons positif. Awalnya hanya menjual di kalangan teman, produk buatannya meluas setelah dia memasarkannya melalui Instagram @goniku_nature. Kerajinan tangannya bahkan laku hingga ke luar Sumatera Utara.

Karya daur ulang Firza dijual dengan harga bervariasi mulai Rp65.000 hingga Rp250.000. Para pemesannya mahasiswa dan kaum pekerja. "Konsumennya berusia 20 tahun ke atas, sedikit lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki," jelas Firza.

kerajinan tangan dari karung goni bekas

©2020 Merdeka.com

Menurut Firza, konsumen puas dengan produknya. Selain unik, buatannya juga kuat. "Konsumen respek dengan produk kami. Selain berkualitas dan bergaya, juga ramah lingkungan," jelas Firza.

Aspek lingkungan menjadi perhatian tersendiri bagi Firza. Pemuda ini termotivasi memanfaatkan bahan bekas. Dia bahkan membuat pelatihan bagi ibu-ibu di Bukit Lawang, Langkat untuk membuat benda berharga dari karung goni bekas.

Bahkan ke depan Firza berencana tidak hanya memproduksi kerajinan tangan dari karung goni bekas. Usahanya akan diperluas, dan sebagian besar menggunakan bahan daur ulang. "Kita sudah membangun jaringan ke negara lain di Asia dan Eropa," tutupnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP